Desa tidak selalu membutuhkan tempat wisata yang ramai untuk berkembang. Di Bandorasakulon, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan, kekuatan itu justru tumbuh dari tanah yang subur, hasil panen yang diolah dengan kreativitas, serta masyarakat yang memilih menjaga alam sebagai bagian dari masa depan mereka.
Berada di kaki Gunung Ciremai, Bandorasakulon memiliki udara yang menjadi salah satu daya tarik utamanya. Siang hari memang dapat mencapai suhu sekitar 30 derajat Celsius, tetapi angin yang turun dari lereng gunung membuat suasana tetap terasa sejuk. Menjelang malam, udara berubah semakin dingin dengan suhu berkisar 16–17 derajat Celsius, menghadirkan ketenangan yang menjadi ciri khas desa di dataran tinggi.
Kondisi alam tersebut menjadi modal utama masyarakat dalam mengembangkan sektor pertanian. Sebagian besar warga bekerja sebagai petani dan peternak, memanfaatkan tanah yang subur untuk menghasilkan berbagai komoditas, salah satunya ubi. Alih-alih hanya menjual hasil panen dalam bentuk mentah, masyarakat memilih mengolahnya menjadi produk bernilai tambah sehingga mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar.
Dari tangan para pelaku UMKM, ubi kemudian menjelma menjadi beragam produk khas desa. Keripik ubi, dodol ubi, sirup ubi, hingga kremes ubi menjadi bukti bagaimana hasil pertanian dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
Perkembangan kreativitas masyarakat juga terlihat dari semakin beragamnya oleh-oleh yang dapat ditemukan di Bandorasakulon. Di toko oleh-oleh desa, pengunjung dapat menjumpai keripik pisang, leupeut, ubi Cilembu bakar, telur asin, hingga keripik brownies yang menjadi pilihan buah tangan khas dari kawasan lereng Ciremai.
Di balik beragam produk tersebut, terdapat pelaku-pelaku UMKM yang terus menjaga kualitas usahanya. Bungur, Keripik Ubi Bu Nunung, dan Keripik Singkong KOKA merupakan beberapa di antaranya. Sebagian besar produk pangan yang mereka hasilkan juga telah mengantongi sertifikat halal. Sertifikasi tersebut tidak hanya memberikan jaminan mutu dan keamanan bagi konsumen, tetapi juga menjadi bekal penting bagi UMKM untuk meningkatkan daya saing dan memperluas pasar.
Potensi ekonomi Bandorasakulon tidak berhenti pada sektor pangan. Desa ini juga memiliki sektor peternakan yang berkembang dengan pengelolaan yang tertata. Kawasan peternakan dibangun terpisah dari permukiman warga sehingga kebersihan lingkungan tetap terjaga sekaligus mengurangi risiko penyebaran penyakit antara ternak dan manusia. Penataan tersebut membuat lingkungan permukiman terasa lebih rapi dan nyaman.
Komoditas peternakan yang dikembangkan meliputi kambing, ayam petelur, dan bebek petelur. Menariknya, masyarakat juga memanfaatkan batang jagung yang sebelumnya menjadi limbah pertanian untuk diolah menjadi silase, yaitu pakan ternak hasil fermentasi yang membantu meningkatkan nafsu makan kambing. Cara ini menunjukkan bahwa hasil pertanian tidak berhenti setelah masa panen berakhir, melainkan kembali dimanfaatkan untuk mendukung sektor lain secara lebih efisien dan berkelanjutan.
Di kawasan lereng Gunung Ciremai, masyarakat juga membudidayakan cengkeh dan kopi. Kedua komoditas tersebut tumbuh dengan baik berkat kondisi alam yang mendukung. Hingga kini, hasil kopi masih lebih banyak dinikmati oleh masyarakat setempat dan belum dipasarkan secara luas ke luar daerah. Meski demikian, komoditas tersebut menyimpan peluang besar untuk dikembangkan sebagai salah satu produk unggulan desa pada masa mendatang.
Di tengah banyaknya desa yang berlomba mengembangkan destinasi wisata alam, Bandorasakulon justru mengambil arah yang berbeda. Pemerintah desa memilih untuk tidak mengembangkan wisata alam secara masif sebagai bentuk komitmen menjaga kelestarian kawasan Gunung Ciremai dan meminimalkan potensi kerusakan ekosistem. Pilihan ini menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi tidak selalu harus bertumpu pada sektor pariwisata. Potensi lokal yang dikelola dengan baik pun mampu menjadi penggerak utama kesejahteraan masyarakat. Seluruh potensi tersebut tersebar di berbagai wilayah Bandorasakulon, membentuk ekosistem ekonomi desa yang saling mendukung tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.

Komitmen untuk memperkuat potensi desa juga mendapat dukungan dari mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) IPB University. Melalui program pemetaan potensi wilayah desa, pemetaan UMKM, dan digitalisasi UMKM, mahasiswa berupaya mendokumentasikan berbagai potensi yang dimiliki Bandorasakulon secara lebih sistematis sekaligus memperluas akses informasi mengenai pelaku usaha lokal melalui media digital. Langkah ini diharapkan dapat membantu produk-produk lokal semakin dikenal dan menjangkau pasar yang lebih luas.
Bandorasakulon membuktikan bahwa pembangunan desa tidak selalu dimulai dari sesuatu yang baru. Kesuburan alam, kreativitas masyarakat dalam mengolah hasil pertanian, pengelolaan peternakan yang baik, serta komitmen menjaga lingkungan telah menjadi fondasi yang menguatkan desa ini hingga hari ini. Ketika seluruh potensi tersebut berjalan beriringan, yang tumbuh bukan hanya perekonomian masyarakat, tetapi juga harapan bahwa pembangunan berkelanjutan dapat dimulai dari desa.
Bagi Kawan GNFI yang ingin mengenal lebih jauh tentang Bandorasakulon, informasi mengenai profil desa, UMKM, serta berbagai layanan dan kegiatan masyarakat dapat diakses melalui website resmi Desa Bandorasakulon di www.desa-bandorasa-kulon.kuningankab.go.id.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


