Stasiun Jatinegara (JNG) adalah stasiun kereta api kelas besar tipe A di perbatasan antara Kecamatan Jatinegara dan Matraman, Jakarta Timur. Berada pada ketinggian +16 meter, stasiun ini menjadi satu dari lima stasiun utama di Jakarta yang super sibuk setiap harinya karena dilewati kereta api dari dan menuju Pasar Senen, Manggarai, dan Cikarang.
Stasiun Jatinegara dikelola oleh Daerah Operasional (DAOP) I Jakarta dan KAI Commuter. Tahun 2021, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta resmi menetapkan stasiun ini sebagai Bangunan Cagar Budaya melalui Keputusan Gubernur Nomor 1499 Tahun 2021.
Sejarah Stasiun Jatinegara
Disadur dari akun Instagram Pemprov DKI Jakarta, pada tahun 1887, Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschappij (BOSM) membangun stasiun pertama di jalur Batavia-Bekasi. Jalur rini menjadi titik awal jalur KA dari Batavia ke Bekasi dan Karawang.
Namun, ada masalah keuangan yang membuat Staatsspoorwegen (SS) akhirnya membeli jalur tersebut di tahun 1898. Kemudian, di tahun 1901, SS membangun stasiun baru di lokasi sekarang.
Uniknya, nama stasiun ini dulunya bukan Jatinegara. Disebutkan jika stasiun ini dulu sempat bernama Meester Cornelis.
Nama “Meester Cornelis” diambil dari Cornelis Senen, seorang guru, pengkhotbah, dan pemilik tanah luas dari Pulau Banda yang menetap di Batavia pada abad ke-17. Berkat keahlian dan jasa sosialnya, masyarakat memberikan gelar "Meester" atau Guru kepadanya, yang kemudian diabadikan menjadi nama wilayah itu.
Konon, perubahan nama menjadi Jatinegara terjadi pada tahun 1942 di masa pendudukan Jepang. Saat itu, mereka ingin menghapus istilah-istilah yang berbau Belanda.
Nama Jatinegara sendiri bermakna "Negara Sejati", sebuah sebutan yang diberikan oleh Pangeran Jayakarta saat mendirikan pemukiman di wilayah ini setelah kalah dari VOC.
Stasiun Jatinegara juga sempat dikenal dengan nama Rawa Bangke. Ini dikarenakan adanya rawa yang letaknya tidak jauh dari stasiun.
Bangunan Khas Kolonial yang Hubungkan Jakarta dan Sekitarnya
Bangunan asli stasiun ini dirancang oleh arsitek Ir. S. Snuyf dengan perpaduan gaya Indische Empire dan kolonial modern. Ciri khasnya terlihat pada bentuk atap limasan yang curam serta penggunaan jendela-jendela tinggi untuk mengoptimalkan sirkulasi udara di iklim tropis.
Bangunan Stasiun Jatinegara, utamanya di area peron, pernah dilakukan renovasi besar-besaran di tahun 2019. Akan tetapi, PT KAI tetap mempertahankan bangunan lama sebagai cagar budaya.
Bentuk atap dan fasad utamanya yang khas kolonial itu masih dipertahankan. Dari luar, masih tampak bangunan khas peninggalan Belanda yang berdiri kokoh di tengah hiruk pikuk keramaian Jakarta.
Tak hanya itu, depo lokomotif di sebelah barat laut stasiun juga diganti dengan Depo Lokomotif Cipinang di pertengahan 2020 lalu. Saat ini, Stasiun Jatinegara sudah semakin modern dengan berbagai fasilitas penunjang yang memudahkan penumpang.
Selain melayani perjalanan KA jarak jauh (KAJJ), Stasiun Jatinegara juga melayani KRL. Bahkan, sejak 2023, Stasiun Jatinegara juga sudah terintegrasi dengan halte Transjakarta.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


