Di Provinsi Jambi, terdapat sebuah gunung yang kerap luput dari perhatian dibandingkan Gunung Kerinci. Padahal, gunung ini menyimpan kisah geologi yang luar biasa sekaligus panorama alam yang memikat.
Adalah Gunung Masurai, gunung dengan ketinggian sekitar 2.980 meter di atas permukaan laut yang berada di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Julukan sleeping mountain atau "gunung yang tertidur" melekat pada Masurai karena statusnya sebagai gunung api tua yang telah lama tidak menunjukkan aktivitas vulkanik.
Namun, "tertidur" bukan berarti kehilangan pesonanya. Justru di balik lereng yang diselimuti hutan tropis, Gunung Masurai menyimpan jejak letusan dahsyat puluhan ribu tahun lalu, kaldera raksasa, hingga dua danau vulkanik yang menjadi permata tersembunyi di pegunungan Jambi.
Kaldera Purba yang Menyimpan Jejak Letusan Besar
Keunikan utama Gunung Masurai terletak pada sejarah geologinya. Penelitian menunjukkan bahwa sekitar 33.000 tahun lalu, gunung ini mengalami letusan sangat besar yang mengeluarkan material piroklastik dalam jumlah masif. Setelah letusan tersebut, bagian puncak gunung runtuh dan membentuk kaldera berdiameter sekitar tujuh kilometer.
Penanggalan menggunakan radiokarbon pada endapan piroklastik menunjukkan bahwa peristiwa ini terjadi pada akhir zaman Pleistosen. Ribuan tahun kemudian, aktivitas vulkanik kembali terjadi. Meski tidak membentuk kaldera baru, erupsi berikutnya mengubah bentuk cekungan dengan memperdalam sebagian kawasan dan membelah dinding kaldera di sisi selatan.
Kaldera Masurai menjadi salah satu bukti penting evolusi gunung api di Pulau Sumatra. Para peneliti bahkan menempatkannya sebagai bagian dari rangkaian kaldera besar yang terbentuk akibat aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia dan Eurasia, bersama kaldera terkenal seperti Toba, Maninjau, dan Ranau. Karena itu, Gunung Masurai sering dipandang sebagai salah satu penghubung sejarah awal jalur vulkanik Sumatra hingga Jawa.
Dua Danau Cantik Bersembunyi Dalam Kaldera
Di balik dinding kaldera, tersimpan dua danau vulkanik yang menjadi daya tarik utama Gunung Masurai, yakni Danau Kumbang dan Danau Mabuk.
Danau Kumbang berada pada ketinggian sekitar 2.430 meter di atas permukaan laut dengan luas sekitar 23 hektare.
Airnya yang jernih berwarna hijau kebiruan berpadu dengan tebing kaldera dan hutan pegunungan menciptakan panorama yang sering dibandingkan dengan Danau Ranu Kumbolo di Jawa Timur maupun Danau Gunung Tujuh di Kerinci.
Di tepi danau terdapat area lapang yang kerap dimanfaatkan pendaki untuk berkemah. Saat pagi tiba, kabut tipis menyelimuti permukaan air, sementara malam hari menghadirkan langit penuh bintang yang menjadi pengalaman tak terlupakan.
Tak jauh dari sana, terdapat Danau Mabuk yang suasananya lebih sunyi. Jalurnya lebih sulit, sehingga jumlah pengunjungnya relatif sedikit. Nama "Mabuk" sendiri memiliki beberapa versi cerita.
Ada yang mengaitkannya dengan medan menuju danau yang sangat melelahkan hingga membuat pendaki serasa mabuk. Versi lain menyebutkan bahwa angin tertentu di kawasan danau dipercaya dapat membuat ikan mudah ditangkap.
Selain keindahan alamnya, kedua danau tersebut juga hidup dalam cerita rakyat setempat. Masyarakat meyakini adanya sosok penjaga gaib serta berbagai pantangan adat yang harus dihormati pengunjung. Terlepas dari benar atau tidaknya legenda tersebut, kisah-kisah ini menjadi bagian dari kekayaan budaya yang melekat pada Gunung Masurai.
Jalur Pendakian yang Menguji Ketahanan
Keindahan Gunung Masurai tidak datang tanpa tantangan. Jalur pendakiannya dikenal sebagai salah satu yang paling berat di Jambi.
Pendakian umumnya dimulai dari Desa Sungai Lalang dan membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga hari. Sepanjang perjalanan, pendaki akan melewati Pintu Rimba, beberapa shelter, Danau Kumbang, hingga akhirnya mencapai puncak utama.
Medannya didominasi tanjakan curam, akar-akar pohon besar, batu licin, serta lumut yang menutupi jalur. Pada beberapa titik, pendaki bahkan harus menggunakan tali untuk melewati tebing yang terjal. Hampir tidak ada lintasan datar yang cukup panjang untuk beristirahat sehingga stamina menjadi faktor penting selama perjalanan.
Secara resmi, jalur Gunung Masurai masuk kategori menengah dalam sistem grading jalur pendakian taman nasional. Namun, banyak pendaki berpengalaman menilai tingkat kesulitannya lebih tinggi karena kondisi medan yang teknis, vegetasi yang rapat, serta risiko tersesat apabila kurang memahami jalur.
Menjadi Laboratorium Alam di Kawasan Konservasi
Sebagai bagian dari Taman Nasional Kerinci Seblat, Gunung Masurai berada di kawasan konservasi yang memiliki nilai ekologis dan ilmiah tinggi. Pendakian pun diatur melalui sistem pendaftaran resmi guna mendukung perlindungan kawasan.
Selain menyimpan kekayaan hayati pegunungan tropis, kawasan ini juga masih memperlihatkan jejak aktivitas hidrotermal, seperti mata air panas dan manifestasi panas bumi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sistem vulkanik purba Masurai masih menyisakan panas di bawah permukaan.
Potensi inilah yang menjadikan Gunung Masurai menarik tidak hanya bagi pendaki, tetapi juga peneliti geologi dan pengembangan geoedukasi. Keberadaannya turut mendukung kawasan Geopark Merangin yang mengedepankan konservasi, pendidikan, dan pariwisata berkelanjutan.
Gunung Masurai merupakan saksi bisu perjalanan panjang bumi selama puluhan ribu tahun, tempat bertemunya sejarah geologi, keindahan alam, dan kearifan budaya masyarakat setempat. Barangkali itulah yang membuat Gunung Masurai layak disebut sebagai salah satu "permata tersembunyi" nya Jambi.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


