Ada banyak cara untuk mengenal sebuah negara. Membaca buku sejarah adalah salah satunya. Namun, cara yang paling berkesan adalah mengalaminya secara langsung. Itulah yang dirasakan mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dan Universiti Putra Malaysia (UPM) dalam rangkaian Summer Program "Nusantara Narratives: Language, Literature, and Shared Cultural Heritage for Global Education and Dialogue."
Selama beberapa hari di Bandung, mereka tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga menyelami kehidupan, budaya, dan tradisi yang hidup di tengah masyarakat.
Dari perjalanan itu muncul satu kesadaran sederhana: Indonesia dan Malaysia ternyata jauh lebih dekat daripada yang selama ini dibayangkan.
Kedekatan itu tidak hanya terlihat dari sejarah atau bahasa, tetapi juga hadir dalam permainan tradisional, kuliner, adat istiadat, hingga cara masyarakat menjaga warisan budayanya.
Percakapan tentang kedekatan budaya itu bermula dari sesuatu yang tidak terduga. Saat berdiskusi mengenai permainan tradisional, mahasiswa UPM memperkenalkan galah panjang, permainan yang memiliki konsep serupa dengan gobak sodor yang dikenal luas di Indonesia.
Keduanya mengandalkan kelincahan, strategi, dan kerja sama tim untuk melewati penjagaan lawan. Nama boleh berbeda, tetapi semangat bermainnya terasa begitu akrab.
Kesamaan berikutnya hadir di meja makan. Mahasiswa UPM memasak nasi lemak, hidangan khas Malaysia yang langsung mengundang rasa penasaran peserta dari Indonesia.

Dokumentasi Pribadi | Mahasiswa UPM Memasak Nasi Lemak
Ketika disantap bersama, banyak peserta menyadari bahwa cita rasa nasi lemak memiliki kemiripan dengan nasi uduk khas Betawi. Keduanya sama-sama menggunakan santan yang menghasilkan rasa gurih, hanya saja disajikan dengan lauk pendamping yang berbeda.
Perbincangan tentang makanan pun berkembang menjadi cerita tentang keluarga, kebiasaan makan, hingga kenangan masa kecil. Dari sepiring nasi, percakapan lintas budaya mengalir begitu alami.
Kemiripan itu tidak berhenti pada kuliner. Saat membahas tradisi pernikahan, mahasiswa Indonesia dan Malaysia menemukan bahwa prosesi makan sirih masih dijumpai di berbagai daerah di kedua negara.
Tradisi tersebut menjadi pengingat bahwa masyarakat di kawasan Nusantara memiliki akar budaya Melayu yang telah diwariskan lintas generasi.
Setelah saling mengenal budaya Indonesia dan Malaysia, para peserta diajak menyelami budaya Sunda secara lebih dekat. Bandung menjadi ruang belajar yang hidup, tempat budaya tidak hanya dipelajari melalui buku atau presentasi, tetapi juga dialami secara langsung.
Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah sesi pengenalan aksara Sunda yang dipandu oleh Dr. Danan Darajat, M.Pd.
Bagi mahasiswa UPM, ini merupakan pengalaman pertama mereka berkenalan dengan sistem tulisan tradisional Sunda. Meski bentuk-bentuk aksaranya masih terasa asing, semangat mereka untuk belajar begitu tinggi.
Di antara para peserta, Amirah dan Asma berhasil menuliskan aksara Sunda dengan rapi dan tepat. Hasil tulisan mereka bahkan mendapat apresiasi langsung dari Dr. Danan Darajat.
Momen sederhana ini menghadirkan pelajaran penting: budaya tidak mengenal batas negara. Siapa pun dapat mempelajarinya selama ada rasa ingin tahu, penghormatan, dan kemauan untuk memahami.
Pengalaman-pengalaman kecil selama Summer Program ini memperlihatkan bahwa diplomasi budaya tidak selalu lahir dari forum resmi, pidato kenegaraan, atau kerja sama antarlembaga.
Diplomasi budaya justru tumbuh melalui pengalaman sehari-hari. Ketika orang saling berbagi cerita, mencicipi makanan bersama, mempelajari tradisi, dan menemukan begitu banyak kesamaan yang selama ini mungkin tidak disadari.

Dokumentasi Pribadi | Kuliah Umum Aksara Sunda
Bandung, dalam perjalanan singkat itu, menjadi lebih dari sekadar kota tujuan. Kota ini menjelma sebagai ruang perjumpaan, tempat mahasiswa Indonesia dan Malaysia belajar mengenal satu sama lain tanpa sekat. Mereka tidak hanya bertukar pengetahuan, tetapi juga saling memahami melalui pengalaman yang otentik.
Pada akhirnya, yang dibawa pulang para mahasiswa bukan hanya foto-foto perjalanan atau buah tangan dari Bandung. Mereka membawa sesuatu yang jauh lebih berharga bahwa Indonesia dan Malaysia bukan sekadar negara bertetangga, melainkan dua bangsa serumpun yang berbagi banyak cerita, nilai, dan akar budaya.
Barangkali inilah makna paling sederhana dari diplomasi budaya. Bukan tentang menunjukkan siapa yang paling kaya tradisinya, melainkan tentang menemukan begitu banyak kesamaan yang membuat kita merasa lebih dekat sebagai sesama anak Nusantara.
Di tengah dunia yang semakin terhubung, pengalaman seperti inilah yang mengingatkan kita bahwa persahabatan sering kali tumbuh dari hal-hal yang paling sederhana. Bisa berawal dari permainan masa kecil, sepiring makanan, sebaris aksara, dan keinginan tulus untuk saling mengenal.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


