Di tengah meningkatnya perhatian terhadap kesehatan mental remaja saat ini, Kawan, sebuah madrasah di wilayah pedesaan Kabupaten Malang menunjukkan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari lingkungan sekolah.
MTs Nurul Huda, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, tengah mengembangkan Program Sekolah Sehat Jiwa sebagai upaya membangun ekosistem belajar yang aman, suportif, dan peduli terhadap kesehatan mental peserta didik.
Program ini lahir dari kebutuhan nyata yang ditemukan oleh dewan guru. Berbagai dinamika yang dialami siswa mendorong sekolah untuk tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga memperkuat sistem dukungan psikososial di lingkungan madrasah.
Dari proses tersebut, muncul gagasan untuk menghadirkan pendekatan yang lebih dekat dengan keseharian siswa melalui teman sebaya.
Kepala MTs Nurul Huda, Usman Alianto, S.Pd.I, menegaskan bahwa kesehatan mental merupakan bagian penting dari kualitas pendidikan. Karena itu, sekolah berkomitmen menjadikan Program Sekolah Sehat Jiwa sebagai salah satu program yang terus dikembangkan secara berkelanjutan.
Komitmen tersebut kemudian diwujudkan melalui kegiatan sosialisasi dan workshop yang melibatkan tim dosen dari STIKES Widyagama Husada Malang, Universitas Widya Gama, bersama mahasiswa.
Kegiatan tahap awal difokuskan pada identifikasi berbagai persoalan yang dihadapi siswa, pemetaan kebutuhan sekolah, serta penguatan kapasitas guru dalam mengenali tanda-tanda awal permasalahan kesehatan jiwa.
Selama ini, proses identifikasi masih banyak dilakukan oleh guru. Namun, sekolah melihat perlunya sistem yang lebih inklusif agar siswa memiliki ruang yang nyaman untuk berbicara ketika menghadapi tekanan emosional maupun persoalan sosial.
Dari sinilah lahir inisiatif “Kanca Cilik”, sebuah program teman sebaya yang dirancang sebagai jembatan awal bagi siswa untuk saling mendengarkan, memberikan dukungan, dan mengarahkan teman yang membutuhkan bantuan kepada guru maupun layanan yang tersedia.
Nama “Kanca Cilik”, yang dalam bahasa Jawa berarti "teman kecil" atau "teman dekat", dipilih karena merepresentasikan kedekatan, rasa percaya, dan semangat saling menjaga antarsiswa.
Melalui program ini, sekolah membentuk Satgas Kanca Cilik Peduli Sehat Jiwa, yang terdiri atas siswa-siswi terpilih sebagai pendamping sebaya. Mereka dibekali pemahaman mengenai kesehatan jiwa dasar, keterampilan komunikasi, cara mengidentifikasi masalah secara dini, serta mekanisme rujukan apabila ditemukan siswa yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Keberadaan satgas bukan untuk menggantikan peran guru maupun tenaga kesehatan, melainkan menjadi pintu pertama agar siswa lebih berani menyampaikan permasalahan yang mereka hadapi.
Pendekatan teman sebaya dinilai memiliki keunggulan tersendiri. Banyak remaja merasa lebih nyaman bercerita kepada teman yang seusia sebelum akhirnya mencari bantuan kepada orang dewasa. Oleh karena itu, program ini juga diarahkan untuk membangun perilaku mencari bantuan kesehatan jiwa (help-seeking behavior) yang positif di kalangan siswa.
Selain menjadi ruang curhat yang aman, Kanca Cilik juga diharapkan mampu meningkatkan literasi kesehatan mental sehingga siswa lebih memahami pentingnya menjaga kesehatan psikologis, mengenali tanda-tanda ketika dirinya atau temannya membutuhkan bantuan, serta mengetahui akses layanan kesehatan jiwa yang dapat dimanfaatkan.
Pendampingan terhadap Satgas Kanca Cilik tidak berhenti pada saat pelatihan. Sekolah bersama tim pendamping merancang agenda pembinaan setiap bulan. Kegiatan tersebut menjadi ruang evaluasi, penguatan kapasitas anggota satgas, sekaligus memastikan program berjalan sesuai kebutuhan siswa.
Tim dosen STIKES Widyagama Husada Malang bersama Universitas Widya Gama dan mahasiswa juga berperan dalam memberikan pendampingan berkelanjutan selama proses pengembangan program. Kolaborasi ini diharapkan mampu memperkuat kapasitas sekolah dalam membangun sistem dukungan kesehatan jiwa yang berbasis komunitas sekolah.
Lebih dari sekadar program, Sekolah Sehat Jiwa di MTs Nurul Huda menjadi ikhtiar untuk menciptakan budaya sekolah yang menghargai empati, keterbukaan, dan kepedulian. Lingkungan belajar yang aman diyakini akan membantu siswa berkembang secara optimal, baik dari sisi akademik maupun kesejahteraan psikologisnya.
Ke depan, sekolah berharap Program Sekolah Sehat Jiwa dan gerakan Kanca Cilik dapat terus berkembang sebagai budaya positif di lingkungan madrasah. Dengan dukungan guru, orang tua, tenaga kesehatan, perguruan tinggi, dan para siswa sendiri, sekolah optimistis mampu menghadirkan ruang belajar yang semakin ramah, sehat, dan berpihak pada tumbuh kembang generasi muda.
Langkah yang dimulai dari sebuah madrasah di Kecamatan Bantur ini menunjukkan bahwa membangun kesehatan jiwa tidak selalu harus dimulai dari fasilitas besar. Kepedulian, kolaborasi, dan keberanian mendengarkan menjadi fondasi penting untuk menciptakan sekolah yang benar-benar aman dan sehat bagi setiap anak.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


