Kawan GNFI, pernahkah kita mengatakan, “Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Tuhan pasti punya rencana,” ketika sebenarnya kita sedang berusaha menghindari masalah? Kalimat tersebut pada satu sisi dapat menjadi bentuk keimanan dan husnuzan kepada Tuhan. Namun, pada sisi lain, ia juga bisa berubah menjadi spiritual bypassing, yaitu kecenderungan menggunakan keyakinan atau bahasa spiritual untuk menghindari persoalan emosional, psikologis, dan kehidupan yang sebenarnya perlu dihadapi.
Di sinilah pentingnya membedakan antara berprasangka baik kepada Tuhan dan spiritual bypassing. Keduanya sama-sama dapat menggunakan bahasa keagamaan, tetapi memiliki arah yang berbeda.
Berprasangka baik kepada Tuhan mendorong seseorang untuk tetap percaya kepada kebijaksanaan dan rahmat-Nya, sembari berusaha menghadapi kenyataan secara jujur. Sementara itu, spiritual bypassing cenderung menjadikan spiritualitas sebagai “tameng” untuk melarikan diri dari rasa sakit, tanggung jawab, atau evaluasi diri.
Misalnya, seseorang melakukan kesalahan karena kelalaiannya sendiri. Ia tidur terlalu larut, bangun kesiangan, lalu marah kepada orang lain karena merasa aktivitasnya terganggu. Ketika diingatkan, ia mungkin berkata, “Saya serahkan saja kepada-Nya,” tanpa terlebih dahulu mengakui bahwa masalah tersebut berawal dari keputusan dan perilakunya sendiri.
Dalam situasi semacam ini, tawakal dapat disalahpahami sebagai alasan untuk tidak melakukan introspeksi.
Padahal, berprasangka kepada Tuhan tidak identik dengan menolak kenyataan. Seorang Muslim dapat meyakini bahwa Allah Maha Bijaksana sekaligus mengakui bahwa dirinya sedang keliru.
Ia dapat percaya bahwa setiap ujian memiliki hikmah, tetapi tetap bersedia meminta maaf, memperbaiki kebiasaan, dan menerima konsekuensi dari tindakannya. Kepercayaan kepada Allah justru semestinya membuat seseorang lebih jujur terhadap dirinya sendiri.
Dalam psikologi, istilah spiritual bypassing dipopulerkan oleh psikolog John Welwood untuk menggambarkan kecenderungan menggunakan gagasan dan praktik spiritual guna menghindari persoalan psikologis yang belum terselesaikan.
Dalam konteks kehidupan beragama, fenomena ini dapat muncul ketika seseorang menggunakan istilah seperti “sabar”, “ikhlas”, “tawakal”, atau “semua sudah takdir” bukan untuk mengolah masalah, melainkan untuk menutupinya.
Perlu dicatat, tidak semua ucapan tentang takdir, sabar, dan tawakal merupakan spiritual bypassing. Seorang yang sedang berduka, misalnya, tidak harus segera terlihat kuat.
Mengatakan bahwa dirinya percaya kepada Allah sambil tetap menangis dan merasakan kesedihan bukanlah bentuk pelarian. Justru, menerima emosi secara jujur dapat menjadi bagian dari proses menghadapi kenyataan.
Persoalannya terletak pada cara spiritualitas digunakan. Apakah keyakinan kepada Tuhan membantu kita menghadapi masalah atau justru membuat kita menolak kenyataan? Apakah kata “ikhlas” membuat kita mampu menerima dan bergerak maju, atau justru digunakan untuk membungkam luka yang belum dipahami? Apakah “husnuzan kepada Allah” membuat kita lebih bertanggung jawab, atau malah menjadi alasan untuk menyalahkan keadaan?
Kawan, berprasangka baik kepada Tuhan bukan berarti selalu menganggap semua hal akan berjalan sesuai keinginan kita. Ini berarti meyakini bahwa Dirinya memiliki hikmah, rahmat, dan pengetahuan yang melampaui keterbatasan manusia. Keyakinan tersebut tidak menghapus kewajiban kita untuk berusaha, berpikir, mengakui kesalahan, dan memperbaiki diri.
Karena itu, spiritualitas yang sehat tidak membawa seseorang menjauh dari kenyataan, tetapi membantu seseorang menghadapinya dengan lebih jernih. Kita boleh percaya bahwa Dia akan memberikan jalan keluar, tetapi tetap harus mencari jalan tersebut.
Kita boleh meyakini adanya hikmah dalam kesulitan, tetapi tetap boleh mengakui bahwa kesulitan itu menyakitkan. Kita boleh berprasangka baik, tetapi tidak perlu berbohong kepada diri sendiri.
Pada akhirnya, perbedaan antara spiritual bypassing dan berprasangka baik kepada-Nya mungkin dapat dilihat dari buahnya. Jika keyakinan spiritual membuat kita semakin jujur, bertanggung jawab, rendah hati, dan berani menghadapi kenyataan, maka ia sedang berfungsi secara sehat.
Namun, jika spiritualitas membuat kita terus menghindari kesalahan, menolak emosi, menyalahkan orang lain, atau menutup persoalan yang belum selesai, mungkin kita perlu berhenti sejenak dan melakukan muhasabah.
Sebab, berbaik sangka kepada-Nya tidak pernah menuntut kita untuk berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Kadang-kadang, bentuk husnuzan yang paling jujur adalah mengakui bahwa diri kita tidak sedang baik-baik saja, tetapi tetap meyakini Tuhan bersama kita.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


