Perasaan cinta yang tumbuh di antara para pemuda dan pemudi tentu jadi hal lumrah yang bisa kita ketahui saat sekarang. Apalagi ketertarikan dengan lawan jenis menjadi salah satu tanda jika para remaja akan memasuki usia dewasa.
Namun apa jadinya jika ada cara-cara unik dalam mengungkapkan rasa cinta ini di antara kedua pemuda dan pemudi tersebut? Ternyata ada sebuah tradisi atau kebiasaan yang berkembang, khususnya di tengah masyarakat Gayo Alas, Aceh dulunya terkait perilaku yang satu ini.
Kebiasaan tersebut dikenal dengan istilah "Murojok." Meskipun istilah ini mulai terasa asing saat sekarang, cara ini pernah banyak digunakan oleh para pemuda dan pemudi di Gayo Alas untuk menunjukkan rasa suka antara satu sama lainnya.
Lantas bagaimana sebenarnya praktik dari tradisi murojok tersebut serta penerapannya di tengah masyarakat dulunya. Simak ulasan lengkapnya dalam artikel berikut ini.
Mengenal Tradisi Murojok
Jika Kawan berselancar di internet, informasi terkait tradisi murojok ini sangat sedikit dijumpai. Namun salah satu surat kabar lawan, Indonesia Raya pernah memuat artikel terkait tradisi ini dalam terbitannya pada 1971 silam.
Dinukil dari artikel kirim Dh. Hendrayana, "Sedikit Tentang Tradisi Bertjinta di Gajo Atas" yang terbit di surat kabar Indonesia Raya edisi 22 Agustus 1971, dijelaskan jika murojok merupakan salah satu kebiasaan yang berkembang di kalangan muda mudi Gayo Alas dulunya. Pada dasarnya, murojok merupakan cara untuk membangun interaksi atau menarik perhatian lawan jenis.
Dalam penerapannya, salah satu pemuda akan menyampaikan pantun pada pemudi yang disukainya. Biasanya hal ini dia lakukan dari bawah rumah yang ditinggali oleh pemudi tersebut.
Perlu Kawan ketahui, dulunya rumah-rumah di Gayo Alas banyak berbentuk rumah panggung dengan kolong tinggi di bawahnya. Biasanya kolong rumah ini digunakan sebagai kandang hewan ternak atau tempat menyimpan barang.
Praktik di Tengah Masyarakat
Kegiatan murojok ini umumnya dilakukan oleh para pemuda pada malam hari. Jika dilakukan pada siang hari, pertemuan antara pemuda dan pemudi ini dianggap kurang sopan di tengah masyarakat.
Kebiasaan ini bermula saat para pemuda berkumpul bersama dengan teman sebayanya. Pada zaman dahulu, sudah jadi kebiasaan di tengah masyarakat jika seorang laki-laki sudah menginjak usia dewasa, maka dia akan keluar dari rumah orang tuanya.
Para pemuda ini biasanya akan tinggal di sebuah rumah yang dikenal dengan sebutan serami. Di sinilah aktivitas para pemuda ini terpusat setiap harinya.
Pada saat malam tiba, para pemuda ini biasanya akan berjalan menyisiri kampung. Jika ada salah seorang pemuda yang sudah jatuh hati pada seorang gadis, maka dirinya akan mendatangi rumah pujaan hatinya tersebut.
Saat sampai di sanalah aktivitas murojok kemudian berlangsung. Pemuda ini akan menyampaikan pantun yang berisi pesan-pesan untuk sang gadis secara berbisik-bisik.
Hal ini dilakukan agar ucapan yang dia sampaikan tidak didengar orang lain. Sebab bisa saja jika pemuda ini diketahui oleh laki-laki yang ada di rumah tersebut, perkelahian dapat terjadi saat itu juga.
Namun ada kalanya juga orang-orang yang berada di rumah paham dengan kondisi ini. Apalagi jika pemuda tersebut berperilaku dengan sopan, dirinya justru direstui dan diterima oleh keluarga gadis yang dia sukai.
Keberadaan Tradisi Murojok
Seiring berkembangnya zaman, kebiasaan murojok ini sudah mulai ditinggalkan di tengah masyarakat. Bahkan bisa dibilang cara mendekati lawan jenis dengan proses murojok ini hampir tidak dijumpai lagi saat sekarang.
Berkembangnya pendidikan serta pengaruh zaman menjadi sebab kebiasaan ini mulai ditinggalkan oleh masyarakat. Apalagi sudah banyak cara-cara lain yang dikenal untuk menyampaikan rasa cinta antara setiap pasangan yang umum dijumpai pada saat ini.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


