Jakarta selalu menunjukkan bahwa pelayanan publik berkembang mengikuti kebutuhan masyarakatnya. Perubahan kini terlihat dari hadirnya Mobil Klinik Hewan Keliling yang diluncurkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Jika kita melihat sekilas, layanan ini rasanya hanya ditujukan bagi pemilik hewan peliharaan saja. Namun, ternyata manfaatnya didesain jauh lebih luas. Program ini erat kaitannya dengan kesehatan masyarakat dalam melakukan pengendalian penyakit dan upaya membangun Jakarta sebagai kota yang ramah terhadap seluruh makhluk hidup.
Hubungan antara manusia dan hewan di Jakarta memang terus berubah. Hewan peliharaan kini menjadi bagian dari kehidupan banyak keluarga. Kucing, anjing, kelinci, hingga hewan eksotis semakin mudah ditemui di lingkungan permukiman.
Di sisi lain, masih banyak hewan yang juga hidup di jalan dan membutuhkan banyak-banyak perhatian. Sayangnya, akses terhadap dokter hewan belum mudah dijangkau oleh semua warga.
Jarak, biaya, hingga keterbatasan waktu sering menjadi kendala untuk membawa hewan ke fasilitas kesehatan.
Pemprov DKI Jakarta menyiapkan lima unit mobil yang akan beroperasi di lima wilayah kota administrasi. Setiap mobil dilengkapi satu dokter hewan dan satu paramedis veteriner.
Layanan yang tersedia juga cukup lengkap. Warga dapat memanfaatkan konsultasi, pemeriksaan kesehatan, vaksinasi, pengobatan, pemeriksaan laboratorium, ultrasonografi (USG), sterilisasi, hingga bedah minor.
Dengan konsep jemput layanan, masyarakat tidak selalu harus datang ke klinik hewan untuk memperoleh pelayanan kesehatan bagi hewan peliharaannya.
Kehadiran mobil klinik ini dinilai sebagai perubahan cara pandang terhadap pelayanan publik. Biasanya kita mendatangi kantor atau fasilitas pemerintah untuk memperoleh layanan.
Kini pemerintah hadir lebih dekat ke lingkungan warganya. Pendekatan seperti ini membuat pelayanan menjadi lebih mudah diakses.
Warga yang tinggal jauh dari klinik hewan atau memiliki keterbatasan mobilitas tetap dapat memperoleh pelayanan kesehatan yang layak bagi hewan peliharaannya.
Tidak sedikit pemilik hewan yang baru membawa peliharaannya ke dokter ketika kondisinya sudah sakit. Padahal pemeriksaan berkala tentu membantu mendeteksi penyakit lebih awal.
Kesehatan hewan dan manusia tentu saling berkaitan. Beberapa penyakit dapat menular dari hewan kepada manusia sehingga pengendalian kesehatan hewan menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan lingkungan.
Oleh sebab itu, layanan vaksinasi, pemeriksaan kesehatan, dan pengobatan turut membantu mengurangi risiko penyebaran penyakit di tengah masyarakat.
Pemprov DKI Jakarta menargetkan sterilisasi terhadap 23.000 hewan pada tahun 2026. Target ini meningkat dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 21.000 hewan.
Sterilisasi memiliki peran besar dalam mengendalikan pertumbuhan populasi hewan, terutama kucing yang berkembang biak dengan sangat cepat.
Pengendalian populasi melalui sterilisasi jauh lebih efektif dan manusiawi dibanding membiarkan jumlah hewan yang terus bertambah tanpa pengelolaan. Langkah ini dapat membantu mengurangi risiko penelantaran hewan dan berbagai masalah yang muncul akibat populasi tidak terkendali.
Meski telah menjadi langkah awal yang baik, pengembangan layanan Mobil Klinik Hewan Keliling masih perlu diperluas agar semakin banyak warga dapat merasakan manfaatnya.
Untuk saat ini, setiap layanan yang diberikan tetap mengacu pada tarif retribusi berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2024 tentang Pajak dan Retribusi Daerah.
Aturan tersebut diterapkan kepada seluruh masyarakat tanpa membedakan domisili, termasuk pemilik hewan dengan KTP non-DKI Jakarta.
Pemeriksaan kesehatan hewan dikenakan biaya mulai Rp35.000, sedangkan pemeriksaan yang disertai pengobatan berkisar antara Rp70.000 hingga Rp100.000, tergantung jenis hewan.
Layanan operasi kecil dikenakan tarif Rp175.000, sementara sterilisasi yang sudah mencakup pemeriksaan, laboratorium, dan tindakan operasi diberikan harga senilai Rp400.000 untuk kucing dan Rp700.000 untuk anjing.
Selain itu, tersedia layanan USG seharga Rp200.000, serta pemeriksaan laboratorium diagnostik yang terdiri atas pemeriksaan hematologi sebesar Rp100.000 per sampel dan biokimia darah sebesar Rp75.000 per sampel.
Informasi mengenai jadwal pelayanan perlu disampaikan secara rutin melalui berbagai saluran komunikasi, sehingga akan membuat masyarakat mengetahui kapan dan di mana mobil klinik hadir di wilayah mereka.
Rasanya, pemerintah juga perlu melihat wilayah mana yang memiliki kepadatan hewan peliharaan yang lebih tinggi atau memiliki kebutuhan layanan lebih besar. Data tersebut nantinya akan menjadi pertimbangan ketika menyusun jadwal pelayanan yang lebih efektif atau bahkan menambah moda sesuai kebutuhan agar pelayanan semakin merata.
Mobil Klinik Hewan Keliling merupakan contoh bagaimana pelayanan publik dapat berkembang mengikuti perubahan kebutuhan masyarakat.
Program ini memang berangkat dari layanan kesehatan hewan, tetapi dampaknya tentu menyentuh banyak aspek, mulai dari kesehatan lingkungan, pengendalian penyakit, hingga peningkatan kualitas hidup di Jakarta.
Harapannya program tersebut dapat menjadi fondasi penting bagi Jakarta untuk mempertahankan statusnya sebagai kota bebas rabies sekaligus mewujudkan diri nya menjadi skala kota global yang ramah hewan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

