inilah 3 species manusia purba indonesia yang pernah hidup pada zaman paleolitikum - News | Good News From Indonesia 2026

Inilah 3 Species Manusia Purba Indonesia yang Pernah Hidup pada Zaman Paleolitikum

Inilah 3 Species Manusia Purba Indonesia yang Pernah Hidup pada Zaman Paleolitikum
images info

Cetakan Tengkorak Homo Erectus dari Jawa, Indonesia | Sumber: World History Encyclopedia - Ryan Somma


Secara etimologis, istilah paleolitikum berasal dari bahasa Yunani, yaitu paleo yang berarti tua atau kuno dan lithos yaitu batu. Karena itu, Paleolitikum dikenal sebagai zaman batu tua.

Masa ini diperkirakan berlangsung sekitar 450.000 hingga 350.000 SM, ketika manusia purba masih menggunakan peralatan sederhana yang sebagian besar terbuat dari batu untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Istilah "batu tua" mengacu pada alat-alat yang digunakan manusia pada masa itu, yang sebagian besar dibuat dari batu. Peralatan yang digunakan masih sangat sederhana dengan bentuk yang kasar karena teknik pembuatan belum berkembang.

Dalam memenuhi kebutuhan hidup, manusia pada zaman paleolitikum mengandalkan kegiatan berburu hewan serta mengumpulkan makanan dari alam. 

Pada masa ini mereka belum mampu menghasilkan atau membudidayakan bahan pangan sendiri sehingga kehidupan mereka sangat bergantung pada kondisi alam. Akibatnya, mereka menjalani pola hidup nomaden, yaitu berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari sumber makanan.

baca juga

Manusia purba umumnya memilih untuk tinggal di gua sekitar sungai. Sungai menyediakan berbagai sumber makanan, seperti ikan, udang, dan hewan air lainnya, sekaligus menjadi sumber air untuk kebutuhan sehari-hari.

Sementara itu, gua juga digunakan sebagai tempat berlindung dari panas, hujan, serta ancaman hewan buas, sehingga menjadi lokasi yang aman untuk ditinggali.

Meganthropus paleojavanicus

Meganthropus paleojavanicus merupakan fosil manusia purba tertua. Istilah tersebut berarti "manusia raksasa tertua dari Jawa", berasal dari bahasa Yunani dan Latin.

Fosil ini pertama kali ditemukan di situs Sangiran, Jawa Tengah oleh ahli paleonologi asal Belanda, G.H.R. von Koenigswald, antara tahun 1936—1941.

baca juga

Fosil yang ditemukan berupa tengkorak, rahang bawah, dan gigi-gigi yang lepas. Para ahli memperkirakan tinggi Meganthropus paleojavanicus sekitar 1,8 meter dan berat 90—100 kilogram.

Meganthropus paleojavanicus mengandalkan alam dalam bertahan hidup, ketika sumber daya alam habis, mereka akan berpindah ke tempat baru yang terdapat sumber daya alam melimpah.

Manusia purba ini memiliki kapasitas otak yang cukup besar 900 cc, lebih besar dibandingkan kapasitas otak manusia purba lain yang ditemukan di Indonesia.

Hal tersebut menunjukkan adanya perkembangan kemampuan berpikit dan beradaptasi dengan lingkungan. Untuk menunjang kehidupannya, manusia purba ini menggunakan alat-alat batu untuk membantu berburu dan mengolah makanan adalah kapak genggam dan kapak perimbas. 

Pithecanthropus erectus/ Homo erectus

Pithecanthropus erectus pertama kali ditemukan di situs Trinil, Ngawi, Jawa Timur pada tahun 1890 oleh Eugene Dubois, yang merupakan ahli paleoantropologi asal Belanda.

Di Trinil, ia menemukan tulang rahang bawah, tempurung kepala, tulang paha, serta geraham atas dan geraham bawah. Di perkirakan Homo erectus hidup antara 1,5 juta—500.000 tahun yang lalu.

Istilah Pithecanthropus erectus berasal dari bahasa Yunani yang memiliki arti manusia kera yang berjalan tegak. Jenis manusia purba ini memiliki ciri khas, geraham gigi yang kuat, dahi yang menonjol dan lebar, hidung yang tebal, volume otak sekitar 750-1350 cc, serta badan yang tidak terlalu tegak, rata-rata tinggi 165-180 sentimeter.

Pithecanthropus erectus Hidup berpindah-pindah tempat tergantung ketersediaan bahan makanan dari alam sekitar.

Homo soloensis dan Homo wajakensis

Homo soloensis ditemukan pertama kali di Desa Ngandong, tepi sungai Bengawan Solo, Jawa Tengah oleh G.H.R. von Koenigswald, Ter Haar, dan Oppenoorth antara tahun 1931-1933.

Dilansir dari Gramedia Blog, fosil yang berhasil ditemukan sudah tidak sempurna, yaitu tengkorak berupa fragmen rahang bawah, dan beberapa buah ruas leher.

Homo soloensis meninggalkan berbagai hasil kebudayaan berupa alat-alat batu, seperti serpih dan kapak genggam, serta peralatan yang dibuat dari tulang maupun tanduk hewan.

Para ahli berasumsi bahwa pola kehidupan Homo soloensis cenderung menetap di sekitar aliran sungai, sebagaimana ditunjukkan oleh banyaknya penemuan fosil yang berada tidak jauh dari kawasan sungai.

Pola hidup menetap mulai terlihat dari keberadaan kkjokkenmddinger dan abris sous roche sebagai bukti adanya hunian manusia purba.

Sementara itu, Homo wajakensis ditemukan di Desa Wajak, Campurdarat, Tulungagung, Jawa Timur oleh B.D. van Rietschoten pada tahun 1889.

Homo wajakensis termasuk jenis Homo sapiens, yaitu manusia yang memiliki ciri fisik, kapasitas otak, dan postur tubuh yang hampir sama dengan manusia modern sehingga dikenak sebagai "manusia bijak" karena kemampuan berpikirnya yang lebih maju. (Restu Gunawan Dkk. dalam Buku Ajar Sejarah Indonesia Kelas X SMA (2014)).

Asal-usul manusia modern, termasuk nenek moyang masyarakat Indonesia, menjadi salah satu topik yang banyak dikaji oleh arkeolog dan sejarawan. Salah satu pendapat menyatakan bahwa Homo wajakensis, yang termasuk kelompok Homo sapiens, merupakan leluhur subras Melayu Indonesia.

Seteleh berevolusi, manusia purba ini dinilai punya kemiripan dengan ras Mongoloid serta diduga berhubungan dengan asal-usul ras Australoid.

Adapun ciri-ciri Homo wajakensis antara lain bervolume otak sekitar 1.630 cc, wajah datar dan lebar, rahang yang kuat dengan gigi besar, tinggi badan sekitar 173 sentimeter, serta ditemukan fosil berupa tengkorak, rahang, tulang paha, dan tulang kering.

Keberadaan manusia purba pada zaman paleolitikum menunjukkan bahwa Indonesia memiliki peran penting dalam sejarah evolusi manusia berbagai temuan fosil memberikan gambaran manusia purba.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizkia Putri Fahira lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizkia Putri Fahira.

RP
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.