Bali dikenal sebagai salah satu daerah di Indonesia yang kaya akan tradisi dan budaya yang masih lestari hingga saat ini. Beragam upacara adat dan keagamaan rutin digelar sepanjang tahun sebagai bagian dari kehidupan masyarakat setempat. Salah satu perayaan penting bagi umat Hindu di Bali adalah Hari Raya Nyepi yang memiliki rangkaian tradisi unik, salah satunya Omed-Omedan. Meski telah menjadi tradisi turun-temurun, Omed-Omedan masih belum banyak dikenal oleh masyarakat di luar Bali.
Lantas, apa itu tradisi Omed-Omedan, bagaimana asal-usulnya, dan seperti apa prosesi pelaksanaannya? Simak pembahasannya berikut ini, Kawan GNFI!
Apa Itu Tradisi Omed-Omedan?
Omed-Omedan merupakan salah satu tradisi unik di Bali tepatnya di Banjar Kaja, Sesetan. Tradisi ini biasanya dilakukan pada hari Ngembak Geni atau satu hari setelah perayaan Nyepi.
Ciri khas tradisi ini adalah adanya aktivitas tarik-menarik, berpelukan, dan berciuman pipi. Untuk memastikan tradisi berlangsung dengan tertib dan nyaman, pelaksanaannya mengikuti aturan yang telah disepakati oleh masyarakat setempat.
Tradisi ini biasanya dilakukan oleh pemuda dan pemudi di Bali. Nantinya di satu sisi terdapat kelompok remaja pria dan di sisi lain yang berhadapan terdapat kelompok remaja putri.
Jumlah masing-masing kelompok sudah ditentukan terlebih dulu, biasanya kelompok pria berjumlah 40 orang dan kelompok putri berjumlah 60 orang. Jumlah anggota kelompok dibuat tidak sama agar tenaga yang dikeluarkan untuk tarik-menarik tetap sama dan seimbang.
Asal-Usul dan Sejarah Tradisi Omed-Omedan
Tradisi Omed-Omedan berasal dari kata "omed" yang dalam bahasa Bali yang berarti tarik. Tradisi ini diyakini telah berkembang sejak sekitar abad ke-17 hingga awal abad ke-18.
Asal-usulnya berkaitan dengan kisah yang diwariskan secara turun-temurun oleh keluarga I Gusti Ngurah Oka Putra, tokoh adat Desa Sesetan.
Pada masa itu, Desa Sesetan dipimpin oleh Anak Agung Made Raka yang dikisahkan mengalami penyakit serius dan tidak kunjung pulih meskipun telah menempuh berbagai upaya pengobatan.
Selama masa pemulihannya, Anak Agung Made Raka meminta agar masyarakat tidak datang menjenguknya. Permintaan tersebut justru menimbulkan kekecewaan di kalangan warga. Sebagai bentuk pelampiasan kekecewaan, mereka berkumpul di halaman Puri Oka Sesetan dan mengadakan permainan tarik-menarik untuk membuat keributan.
Keramaian yang ditimbulkan permainan tersebut akhirnya menarik perhatian Anak Agung Made Raka. Saat beliau keluar untuk melihat sekaligus menghentikan kegiatan itu, terjadi peristiwa yang dipercaya sebagai keajaiban. Setelah menyaksikan langsung permainan Med-Medan, rasa sakit yang selama ini dideritanya dikisahkan hilang seketika.
Pengalaman tersebut kemudian membuat beliau memerintahkan agar tradisi Med-Medan terus diselenggarakan setiap tahun. Sejak saat itu, tradisi tersebut diwariskan secara turun-temurun dan berkembang menjadi Omed-Omedan yang masih dilestarikan oleh masyarakat Desa Sesetan hingga sekarang.
Tata Cara dan Aturan Tradisi Omed-Omedan
Pelaksanaan tradisi Omed-Omedan diawali dengan sembahyang bersama yang diikuti oleh para pemuda dan pemudi Banjar Kaja, Sesetan, di Pura Banjar. Ritual ini dipimpin oleh Jero Mangku sebagai bentuk permohonan kepada Tuhan agar seluruh rangkaian tradisi dapat berlangsung dengan aman, lancar, dan tanpa hambatan.
Setelah prosesi sembahyang selesai, acara dibuka oleh Prajuru Banjar (pengurus banjar/pejabat setempat) yang terdiri atas Kelihan Banjar, Kelihan Dinas, serta Ketua Sekaa Truna-Truni. Pada tahap ini, para peserta juga diberikan arahan singkat mengenai tata tertib pelaksanaan sekaligus pesan agar menjaga keamanan dan sportivitas selama tradisi berlangsung.
Selanjutnya, peserta dibagi menjadi dua kelompok yang saling berhadapan, yakni kelompok laki-laki dan kelompok perempuan. Masing-masing kelompok dipimpin oleh seorang ketua yang berada di barisan paling depan, sementara anggota lainnya berbaris di belakang dengan saling memegang pinggang teman di depannya.
Ketika tanda dimulainya permainan diberikan, kedua kelompok mulai saling berpegangan tangan hingga berpelukan dan berusaha menarik lawannya hingga melewati garis yang telah ditentukan panitia.
Kelompok yang berhasil mempertahankan posisinya dinyatakan sebagai pemenang, sedangkan kelompok yang kalah harus menyerahkan pemimpin kelompoknya kepada pihak lawan sebagai pacundang.
Setelah fase pertama selesai, dilakukan putaran selanjutnya dengan tata cara permainan yang sama. Namun, pacundang yang berada di tim lawan kini dijadikan tawanan.
Jika di putaran kedua tim lawan kembali menang, maka tim yang kalah harus menyerahkan satu orang pacundang lagi, tetapi jika kalah, pacundang yang menjadi tawanan lawan harus diserahkan kembali ke tim asalnya.
Selama tradisi berlangsung, terdapat pecalang yang bertugas mengawasi jalannya permainan. Mereka memberikan aba-aba dimulai dan dihentikannya setiap putaran, menjaga ketertiban peserta maupun penonton, serta menyiramkan air sebagai tanda berakhirnya satu fase permainan.
Tradisi Omed-Omedan akan diakhiri ketika seluruh peserta telah memperoleh giliran dan kondisi fisik peserta mulai lelah, yang umumnya terjadi menjelang sore hari.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


