mengenal tradisi pasola warisan budaya masyarakat sumba - News | Good News From Indonesia 2026

Mengenal Tradisi Pasola, Warisan Budaya Masyarakat Sumba

Mengenal Tradisi Pasola, Warisan Budaya Masyarakat Sumba
images info

Mengenal Tradisi Pasola, Warisan Budaya Masyarakat Sumba | Wikimedia Commons | RaiyaniM


Tradisi Pasola merupakan salah satu tradisi adat yang paling dikenal dari Pulau Sumba. Tradisi ini menampilkan dua kelompok penunggang kuda yang saling melempar tombak kayu dalam sebuah arena terbuka sebagai bagian dari ritual adat masyarakat Sumba.

Di balik atraksinya yang menarik perhatian wisatawan, Pasola menyimpan sejarah panjang serta berbagai nilai budaya dan spiritual yang masih dijaga hingga saat ini. Nah, bagi Kawan GNFI yang ingin mengenal lebih jauh tentang tradisi Pasola, simak pembahasannya sampai habis, ya!

Apa Itu Tradisi Pasola?

Tradisi Pasola merupakan salah satu warisan budaya masyarakat di Pulau Sumba yang hingga kini masih dilestarikan oleh para penganut kepercayaan Marapu. 

Istilah Pasola berasal dari bahasa Sumba, yaitu "pa" yang berarti permainan dan "sola" atau "hola" yang berarti tombak atau lembing. Jadi, Pasola dapat diartikan sebagai permainan atau pertarungan menggunakan tombak yang dilakukan di atas kuda. 

Meski dikenal sebagai atraksi perang adat, Pasola tidak sekadar menampilkan aksi saling melempar tombak antara dua kelompok penunggang kuda. Tradisi ini mengandung berbagai nilai budaya, spiritual, dan kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Sumba. 

Tradisi ini umumnya diselenggarakan menjelang dimulainya musim tanam, yaitu sekitar bulan Februari dan Maret. Bagi masyarakat Sumba, Pasola merupakan bagian dari rangkaian ritual adat yang bertujuan memohon keberkahan, kesuburan tanah, dan hasil panen yang melimpah. 

Sebelum pelaksanaan Pasola, masyarakat adat terlebih dahulu menjalani berbagai tahapan upacara dan ritual yang dipimpin oleh para tetua adat sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi yang telah berlangsung selama berabad-abad. 

baca juga

Sejarah dan Asal Usul Tradisi Pasola

Menurut cerita yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Sumba, tradisi Pasola bermula dari kisah seorang perempuan cantik bernama Rabu Kaba. Kisah ini melibatkan dua kelompok masyarakat, yaitu suku Waiwuang dan suku Kodi, yang terlibat perselisihan akibat perebutan Rabu Kaba. Konflik yang terjadi berpotensi menimbulkan pertumpahan darah dan perpecahan antar kelompok.

Untuk mencegah konflik berkepanjangan, para tetua adat kemudian mencari jalan damai melalui sebuah ritual adat. Sebagai bentuk penyelesaian perselisihan, kedua kelompok sepakat menggelar ritual Nyale yang kemudian dilanjutkan dengan Pasola. 

Sejak saat itu, Pasola tidak hanya menjadi simbol keberanian dan ketangkasan, tetapi juga menjadi lambang persatuan dan penyelesaian konflik secara adat.

Karena berakar dari kisah tersebut, tradisi Nyale dan Pasola hingga kini tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Nyale menjadi penanda dimulainya rangkaian upacara adat yang akan berujung pada pelaksanaan Pasola. 

Dalam kepercayaan masyarakat Sumba, kedua tradisi ini merupakan bagian dari warisan leluhur yang memiliki makna spiritual dan sosial yang mendalam.

baca juga

Tahapan Pelaksanaan Tradisi Pasola

Tradisi Pasola tidak hanya terdiri dari rangkaian ritual dan pertunjukan perang adat, tetapi juga diiringi berbagai aturan serta pantangan yang harus dipatuhi masyarakat. 

Beberapa larangan tersebut antara lain tidak mengenakan pakaian berwarna merah, tidak memakai giring-giring, tidak membunyikan gong, tidak menyanyikan lagu daerah saat mengerjakan sawah, tidak melintasi lokasi yang dianggap pamali, tidak menumbuk padi pada malam hari, tidak menyalakan api atau membakar ladang, serta tidak membakar ayam. 

Masyarakat percaya bahwa mematuhi pantangan tersebut dapat menjaga kelancaran dan kesakralan pelaksanaan Pasola. Selain larangan tersebut, terdapat beberapa tahapan yang harus dilakukan, berikut daftarnya.

1. Tahap Persiapan

Tahap pertama diawali dengan musyawarah para rato atau tetua adat untuk menentukan waktu pelaksanaan Pasola. Penentuan tanggal dilakukan dengan memperhatikan tanda-tanda alam, terutama kemunculan nyale atau cacing laut yang biasanya terjadi pada Februari hingga Maret. 

Selain menentukan waktu, masyarakat juga mempersiapkan berbagai perlengkapan seperti tombak kayu, kuda Sumba, dan pakaian adat yang akan digunakan dalam tradisi ini. Sebelum hari pelaksanaan, para rato juga menggelar ritual Burri Wepadalu untuk memastikan kesiapan seluruh kelompok yang akan mengikuti Pasola.

2. Pencarian Nyale

Sebelum Pasola digelar, masyarakat terlebih dahulu melaksanakan tradisi Nyale, yaitu mencari cacing laut di pesisir pantai yang dipimpin oleh tetua adat. Kemunculan nyale dipercaya menjadi pertanda datangnya musim tanam sekaligus penunjuk baik atau buruknya hasil panen pada tahun tersebut.

baca juga

3. Pajurra dan Puncak Pasola

Menjelang puncak acara, masyarakat mengadakan Pajurra, yaitu tradisi bergulat di atas pasir sebagai bagian dari perayaan adat. Keesokan harinya, Pasola digelar dengan mempertemukan dua kelompok penunggang kuda yang saling melempar tombak kayu di arena terbuka.

4. Penutupan Upacara

Pelaksanaan Pasola berakhir ketika ketua adat memasuki arena dan mengelilinginya dengan menunggang kuda sebagai tanda bahwa seluruh rangkaian upacara telah selesai. Setelah itu, masyarakat menggelar ritual syukur dengan memberikan persembahan kepada leluhur sebagai ungkapan terima kasih atas kelancaran tradisi yang telah berlangsung.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Amanda Jingga Rambadani lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Amanda Jingga Rambadani.

AJ
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.