mahasiswa uny luncurkan program im strong untuk perkuat resiliensi anak di lingkungan rumah pengolahan sampah mardiko - News | Good News From Indonesia 2026

Mahasiswa UNY Luncurkan Program "I'M STRONG" untuk Perkuat Resiliensi Anak di Lingkungan Rumah Pengolahan Sampah Mardiko

Mahasiswa UNY Luncurkan Program "I'M STRONG" untuk Perkuat Resiliensi Anak di Lingkungan Rumah Pengolahan Sampah Mardiko
images info

Kegiatan Wawancara dan Program


Penutupan operasional Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan pada Maret 2024 lalu memberikan tantangan ekonomi yang cukup berat bagi keluarga pemulung di sekitarnya. Tekanan kondisi lingkungan yang berubah secara drastis ini tidak hanya berdampak pada aspek pemenuhan kebutuhan material harian, tetapi juga secara signifikan membawa dampak terhadap kesehatan mental serta perkembangan sosial-emosional anak-anak, terutama dalam hal kepercayaan diri, stabilitas emosi, dan motivasi belajar mereka di sekolah maupun lingkungan rumah.

Melihat kondisi yang mendesak tersebut, tim mahasiswa lintas disiplin ilmu dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang berkolaborasi dari bidang PGSD, Psikologi, dan Pendidikan Nonformal, berinisiatif menginisiasi sebuah program pengabdian kepada masyarakat yang bertajuk "I'M STRONG". Program inovatif ini dirancang secara khusus untuk meningkatkan ketangguhan atau resiliensi diri serta mengasah keterampilan sosial dan emosional bagi 15 anak berusia 7-12 tahun yang berada di bawah naungan Rumah Pengolahan Sampah Mardiko, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

baca juga

Membangun Kepercayaan Diri dan Motivasi Anak

Maryana, selaku Ketua Rumah Pengolahan Sampah Mardiko, menjelaskan bahwa perubahan kondisi ekonomi keluarga pasca-penutupan TPST Piyungan membuat anak-anak seringkali merasa minder, cemas, dan mengalami penurunan semangat yang cukup drastis dalam kegiatan belajar sehari-hari. Kebutuhan akan dukungan emosional yang komprehensif menjadi sangat krusial saat ini, agar anak-anak tetap memiliki pandangan hidup yang positif serta optimisme terhadap masa depan mereka, meskipun dalam keterbatasan.

Hasil pengisian skala resiliensi awal menunjukkan data yang mengkhawatirkan, di mana mayoritas anak memerlukan pendampingan lebih intensif dan terstruktur untuk membantu mereka dalam mengenali diri, mengelola emosi, serta membangun konsep diri yang jauh lebih kuat dan tangguh di tengah tekanan lingkungan.

Pendekatan Social Emotional Learning (SEL) yang Komprehensif

Program I'M STRONG hadir sebagai solusi nyata dengan mengintegrasikan pendekatan berbasis Social Emotional Learning (SEL) yang diakui secara global, dipadukan dengan kerangka teori resiliensi yang berfokus pada penguatan tiga pilar utama: I Have sebagai dukungan eksternal yang aman, I Am sebagai bentuk kekuatan internal individu, dan I Can sebagai modal keterampilan sosial yang aplikatif.

Pelaksanaan program ini berlangsung intensif selama tiga bulan penuh melalui 14 kali pertemuan luring yang dikemas secara menarik dengan lima tahapan terstruktur:

  1. Orientation: Fokus pada pembangunan rasa aman dan kesiapan psikologis anak sebelum intervensi utama.
  2. Knowing My Self: Tahapan untuk meningkatkan kesadaran diri dan kepercayaan diri anak secara mendalam.
  3. Connecting with Others: Pelatihan intensif mengenai rasa empati, komunikasi efektif, dan keterampilan hubungan sosial.
  4. Reframe and Act: Mengajarkan teknik mengelola emosi secara mandiri dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.
  5. Growth Celebration: Sebuah acara puncak sebagai perayaan untuk memperkuat perkembangan positif dan capaian anak.
baca juga

Upaya Keberlanjutan dan Dampak Jangka Panjang

Lebih dari sekadar pendampingan sementara, program I'M STRONG ini turut menyiapkan strategi keberlanjutan intervensi melalui pembentukan kader komunitas dari kalangan orang tua, pemanfaatan Strongers Guide Book yang komprehensif, serta dukungan berkelanjutan dari pengelola TPST.

Taqiya Ahsanu Wibowo, selaku ketua tim pengusul, berharap program ini dapat menjadi model intervensi kesehatan mental berbasis komunitas yang berkontribusi nyata pada pencapaian SDGs ketiga mengenai Kehidupan Sehat dan Sejahtera.

"Tujuan utama kami adalah membekali anak-anak dengan kemampuan untuk bangkit, beradaptasi secara positif, dan memiliki keyakinan diri yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan di masa depan," ujarnya dengan penuh harapan. Langkah proaktif ini diharapkan dapat memberikan dampak jangka panjang yang signifikan bagi perkembangan karakter, kesejahteraan psikologis, dan kualitas hidup anak-anak di lingkungan pengolahan sampah tersebut.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AM
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.