Sebelum jalan raya dipenuhi kendaraan bermotor, Kediri pernah memiliki moda transportasi yang menjadi urat nadi mobilitas masyarakat sekaligus penggerak ekonomi daerah.
Moda transportasi itu adalah trem uap yang dioperasikan oleh Kediri Stoomtram Maatschappij (KSM), perusahaan trem swasta yang berdiri pada akhir abad ke-19.
Lebih dari seabad lalu, suara lokomotif kecil yang mengepul melintasi sawah, desa, hingga kawasan perkebunan menjadi pemandangan sehari-hari. Trem bukan sekadar alat angkut penumpang, tetapi juga mesin yang menjaga roda industri gula, kopi, hingga hasil pertanian tetap berputar.
Lahir dari Pesatnya Industri Perkebunan
Pada abad ke-19, Kediri dikenal sebagai salah satu wilayah paling subur di Jawa Timur. Sungai Brantas yang membelah kawasan ini membuat tanah di sekitarnya sangat cocok untuk pertanian dan perkebunan. Berbagai komoditas seperti padi, tembakau, kopi, hingga tebu berkembang pesat.
Ketika pemerintah kolonial menerapkan sistem tanam paksa dan kemudian memasuki era ekonomi liberal, investasi swasta di sektor perkebunan semakin berkembang. Pabrik-pabrik gula bermunculan di berbagai wilayah Kediri, mulai dari Merican, Tegowangi, Purwoasri, Kencong, hingga Kawarasan.
Produksi hasil bumi meningkat, tetapi muncul persoalan baru: bagaimana mengangkut hasil panen dalam jumlah besar secara cepat dan efisien? Kebutuhan inilah yang kemudian melahirkan Kediri Stoomtram Maatschappij pada 27 September 1895.
Menghubungkan Desa, Kota, dan Industri
KSM membangun jalur trem yang menghubungkan Jombang, Pare, hingga Kediri dengan panjang lintasan mencapai lebih dari 120 kilometer. Selain jalur utama tersebut, terdapat pula lintasan menuju kawasan perkebunan dan pabrik gula sehingga distribusi hasil produksi menjadi jauh lebih mudah.
Jalur yang melintasi desa hingga pusat kota memudahkan orang bepergian untuk berdagang, bekerja di pabrik, mengurus administrasi pemerintahan, maupun mengunjungi keluarga. Aktivitas yang sebelumnya memerlukan waktu berjam-jam kini dapat ditempuh lebih cepat.
Mobilitas barang pun meningkat. Berbagai komoditas hasil bumi dari Kediri dapat dipasarkan ke wilayah lain dengan lebih efisien. Dalam konteks ini, trem berfungsi sebagai penghubung penting antara kawasan produksi dan pusat perdagangan.
Trem beroperasi hampir setiap hari, termasuk hari libur. Jalur-jalurnya melewati puluhan stasiun kecil dan halte yang tersebar di desa-desa. Hal ini membuat masyarakat memiliki akses transportasi yang sebelumnya sulit diperoleh.
Menariknya, KSM tidak hanya mengangkut barang. Perusahaan ini juga melayani perjalanan penumpang dengan tiga kelas layanan. Kelas satu diperuntukkan bagi kalangan elite Eropa, kelas dua bagi kelompok ekonomi menengah seperti pedagang dan warga asing, sedangkan kelas tiga menjadi pilihan masyarakat pribumi karena tarifnya paling terjangkau. Bahkan, kelas tiga menjadi penyumbang penumpang terbesar bagi perusahaan.
Penggerak Ekonomi yang Populer
Keberadaan trem memberikan dampak besar terhadap perekonomian Kediri. Sebelum ada transportasi rel, hasil perkebunan biasanya diangkut menggunakan pedati atau perahu melalui Sungai Brantas. Cara tersebut membutuhkan waktu lebih lama dan kapasitas angkutnya terbatas.
Dengan adanya trem, gula, kopi, tembakau, kapuk, hingga hasil pertanian lainnya dapat dikirim lebih cepat menuju pusat perdagangan maupun jalur distribusi ke kota lain. Efisiensi ini membuat biaya angkut lebih terkendali sekaligus mempercepat perputaran ekonomi daerah.
Tak hanya perusahaan perkebunan yang merasakan manfaatnya. Pemerintah kolonial memperoleh pemasukan dari aktivitas ekonomi yang meningkat, sementara masyarakat lokal mendapat peluang kerja baru.
KSM juga mempekerjakan ratusan tenaga kerja lokal sebagai masinis, kondektur, teknisi, pegawai stasiun, petugas halte, hingga pekerja bengkel kereta. Sebelum bekerja, mereka mendapatkan pelatihan langsung agar mampu mengoperasikan maupun merawat lokomotif dan gerbong.
Meredup Akibat Krisis dan Persaingan
Memasuki dekade 1930-an, kejayaan KSM mulai meredup. Perusahaan mengalami penurunan laba hingga mencapai ƒ15.194,31, yang memaksanya melakukan berbagai langkah efisiensi, mulai dari mengurangi jumlah pegawai hingga menutup sejumlah halte.
Kondisi tersebut semakin diperparah ketika krisis ekonomi global atau malaise melanda dunia pada 1930. Melemahnya industri perkebunan membuat volume pengangkutan hasil bumi menurun drastis, sementara daya beli masyarakat yang ikut merosot menyebabkan jumlah penumpang trem terus berkurang.

Eks Stasiun Badas | Wikimedia Commons: Yhossy Railfans
Masa surut transportasi trem di Kediri berlanjut pada periode berikutnya. Sejumlah jalur trem dinonaktifkan seiring ditutupnya beberapa pabrik gula pada masa pendudukan Jepang. Setelah Indonesia merdeka, jalur kereta api Jombang–Pare mulai dinonaktifkan secara bertahap sejak 1976 hingga resmi berhenti beroperasi pada 1984.
Selain berkurangnya aktivitas industri, meningkatnya persaingan dengan moda transportasi jalan raya turut mempercepat berakhirnya era trem dan kereta di jalur tersebut.
Kini rel-rel trem itu telah lama menghilang dari lanskap Kediri. Sebagian bekas jalurnya berubah menjadi jalan, permukiman, atau lahan pertanian. Jejaknya mungkin tak lagi terlihat jelas, tetapi perannya sebagai penggerak kehidupan kota tetap menjadi bagian penting dalam sejarah perkembangan Kediri.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


