Tahukah Kawan, ada sebuah permainan tradisional dari Kalimantan Barat yang dulunya tercipta dari kebiasaan buaya saat menjaga telurnya. Permainan tradisional ini bernama jage telok buaya.
Permainan tradisional ini sering kali menjadi sarana hiburan bagi anak-anak di sela waktu luang. Permainan tradisional yang banyak menggunakan aktivitas fisik ini umumnya dijumpai di daerah pesisir yang ada di Kalimantan Selatan.
Meskipun bernama jage telok buaya, permainan ini sebenarnya tidak seberbahaya namanya. Apalagi tidak ada buaya yang benar-benar digunakan dalam permainan ini.
Lantas bagaimana penjelasan lebih lanjut seputar permainan tradisional dari Kalimantan Barat tersebut? Simak ulasan lengkapnya dalam artikel berikut ini.
Mengenal Jage Telok Buaya, Permainan Tradisional dari Kalimantan Barat
Seperti yang sudah disinggung pada bagian awal, permainan jage telok buaya terinspirasi dari kebiasaan buaya ketika menjaga telur-telurnya. Dinukil dari Lisyawati Nurcahyani, dkk., yang berjudul Permainan Tradisional Masyarakat Pesisir di Kecamatan Teluk Pakedai Kabupaten Kubu Raya Kalimantan Barat, buaya menjadi salah satu satwa yang umum dijumpai di daerah pesisir.
Ketika bertelur, induk buaya biasanya akan menjaga telurnya dengan baik. Jika ada orang yang mengambil telur-telur itu secara serampangan, maka bahaya dari induk buaya bisa saja dialaminya.
Penggambaran induk buaya dalam menjaga telur inilah yang kemudian digambarkan dalam permainan tradisional tersebut. Sebab dalam proses bermain, akan ada salah seorang pemain yang seolah-olah menjadi induk buaya dan menjaga telur-telurnya.
Alat yang Digunakan untuk Bermain
Terdapat tiga alat utama yang digunakan dalam permainan tradisional jage telok buaya, yakni buah pinang, kayu, dan pelepah pisang atau tali. Sebelum bermain, para pemain mesti mengumpulkan buah pinang dalam jumlah tertentu terlebih dahulu.
Buah pinang ini disimbolkan sebagai telur yang mesti dijaga oleh pemain yang menjadi induk buaya nantinya. Sementara itu, kayu yang dipersiapkan dalam permainan ini nantinya akan digunakan sebagai sarang buaya.
Kayu yang digunakan mesti kuat dan bisa menancap di tanah. Hal ini bertujuan agar kayu tersebut tidak mudah patah ketika proses bermain nantinya.
Terakhir, alat yang digunakan dalam permainan jage telok buaya adalah pelepah pisang. Alat ini juga bisa digantikan dengan tali rafia atau sejenisnya.
Tali ini digunakan untuk mengikat pemain yang menjadi induk buaya dengan kayu yang menjadi sarangnya. Hal ini bertujuan untuk membatasi ruang gerak pemain tersebut dalam menjaga telur-telurnya.
Proses Bermain
Untuk bermain jage telok buaya, dibutuhkan beberapa orang anak untuk menjadi pemainnya. Ketika semua pemain sudah berkumpul, maka mereka bisa melakukan undian untuk menentukan siapa yang akan menjadi induk buaya.
Semua alat yang sudah dipersiapkan kemudian ditata sedemikian rupa. Kayu yang digunakan sebagai sarang bisa ditancapkan dan buah pinang diposisikan di bawahnya.
Setelah itu, pemain yang menjadi induk buaya bisa mengikatkan bagian tubuhnya dengan tali. Ujung tali lainnya kemudian diikatkan ke kayu yang menjadi sarang.
Dengan demikian, induk buaya hanya memiliki ruang gerak sepanjang tali tersebut saja. Pemain ini mesti menjaga telur-telur tersebut sebaik mungkin.
Di sisi lain, pemain lainnya akan bertugas untuk mengambil telur buaya. Jika salah seorang dari mereka berhasil ditangkap, maka dia akan menjadi induk buaya pada giliran berikutnya.
Namun jika induk buaya gagal menangkap dan melindungi telurnya, maka proses bermain kembali diulang dari awal. Proses ini akan terus berlangsung selama tiga putaran
Jika selama tiga putaran induk buaya masih gagal melindungi telurnya, maka pemain yang mengambil telur paling sedikit akan bergantian berjaga pada giliran berikutnya. Nantinya permainan ini akan berakhir ketika semua pemain sudah kelelahan dan sepakat untuk mengakhirinya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


