Di era ketika banyak anak menghabiskan waktu di depan layar untuk menikmati konten, Muhammad De Liang Al-Farabi justru memilih menciptakan kontennya sendiri.
Di usia ketika sebagian besar anak masih belajar menyusun cerita pendek, bocah asal Trenggalek, Jawa Timur, ini telah menerbitkan puluhan buku berbahasa Inggris, bahkan beberapa di antaranya berhasil masuk jajaran Top 15 dan Top 50 Amazon di Amerika Serikat dan Inggris.
Prestasi tersebut tentu mengundang kekaguman. Namun, jika dicermati lebih dalam, kisah De Liang sesungguhnya bukan tentang seorang "anak ajaib". Justru sebaliknya, kisahnya menunjukkan bahwa karya besar sering kali lahir dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Sudut pandang inilah yang jarang dibahas.
Selama ini perhatian publik lebih banyak tertuju pada jumlah buku yang berhasil diterbitkan atau pencapaiannya di Amazon. Padahal, fondasi dari semua itu adalah rutinitas membaca, menulis, dan terus belajar setiap hari.
Menurut berbagai kisah yang dibagikan sang ayah, Ario Muhammad, De Liang mulai menulis sejak usia tujuh tahun. Awalnya ia hanya membuat buku bergambar sederhana. Dalam tiga bulan pertama, ia berhasil menyelesaikan empat buku ilustrasi.
Enam bulan kemudian, ia merampungkan novel komedi pertamanya. Rutinitas tersebut terus berlanjut hingga menghasilkan puluhan karya yang dipublikasikan secara internasional.
Prestasi Besar Berawal dari Kebiasaan Kecil
Banyak orang mengira De Liang langsung menghasilkan novel yang sukses. Faktanya, prosesnya berlangsung bertahap.
Ia tidak langsung menulis karya yang masuk daftar terlaris Amazon. Ia memulai dari cerita sederhana, memperbaiki kemampuan menulis sedikit demi sedikit, lalu terus menghasilkan karya baru.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa produktivitas bukanlah hasil ledakan inspirasi sesaat, melainkan akumulasi dari kebiasaan yang dilakukan berulang.
Dalam dunia psikologi belajar, proses seperti ini dikenal sebagai compoundlearning, yakni peningkatan kemampuan yang terjadi karena latihan kecil yang dilakukan secara konsisten dalam jangka panjang.
Ketika Membaca Menjadi Bahan Bakar Menulis
Ada satu kebiasaan lain yang tidak kalah menarik. Sebelum dikenal sebagai penulis, De Liang lebih dulu dikenal sebagai pembaca.
Ia terbiasa menghabiskan banyak waktu membaca berbagai genre buku. Kebiasaan tersebut memperkaya kosakata, memperluas imajinasi, sekaligus membantunya memahami struktur cerita.
Menurut laporan JawaPos, sebagian besar karya De Liang ditulis dalam bahasa Inggris. Novel seperti A Tale of J: Quirky Friends dan Stories of the WorstBullies History bahkan berhasil masuk Top 15 Amazon kategori Dark Comedy di Amerika Serikat dan Inggris. Sementara novel fantasinya, Rigel: The Last Guardian, pernah menembus Top 50 Amazon dan kemudian diterbitkan dalam bahasa Indonesia.
Prestasi tersebut memperlihatkan bahwa membaca bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga memperkaya kemampuan seseorang menghasilkan karya.
Orang Tua Tidak Menulis untuk Anak, tetapi Menemani Prosesnya
Hal lain yang menarik adalah peran keluarga. Sering kali kisah anak berprestasi digambarkan sebagai hasil latihan keras yang dipenuhi target. Pada keluarga De Liang, pendekatan yang muncul justru berbeda.
Sang ayah lebih banyak membangun budaya membaca dan berdiskusi daripada memaksa anak mengejar prestasi. Ketika De Liang selesai menulis, naskahnya dibahas bersama, diperbaiki, lalu dipersiapkan untuk diterbitkan.
Artinya, keluarga tidak menggantikan proses kreatif anak, melainkan menciptakan lingkungan yang membuat proses tersebut dapat tumbuh secara alami. Pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa ekosistem belajar sering kali lebih penting daripada sekadar bakat.
Menembus Amazon Bukan Tujuan Akhir
Masuk dalam daftar buku terlaris Amazon tentu menjadi pencapaian yang membanggakan. Namun, jika melihat perjalanan De Liang, keberhasilan itu tampaknya bukan tujuan utama.
Ia tetap menulis setelah bukunya dikenal. Ia tetap membaca setelah memperoleh penghargaan. Bahkan, karya-karyanya terus bertambah dari tahun ke tahun.
HaiBunda melaporkan bahwa jumlah buku yang ditulis De Liang terus bertambah hingga lebih dari 40 judul, sementara beberapa karyanya berhasil masuk Top 15 maupun Top 50 Amazon Amerika Serikat dan Inggris. Ia juga aktif menjadi pembicara dalam berbagai seminar literasi serta menerima penghargaan WIPONationalAwardSchoolchildren 2024.
Hal tersebut menunjukkan bahwa pencapaian bukanlah garis akhir, melainkan konsekuensi dari kebiasaan yang terus dipelihara.
Pelajaran yang Bisa Dipetik
Kisah De Liang sering dipahami sebagai cerita tentang anak berbakat.
Padahal, pesan yang lebih penting justru terletak pada prosesnya. Ia memulai dari halaman kosong. Ia belajar sedikit demi sedikit. Ia menghasilkan satu buku, lalu buku berikutnya. Kebiasaan itu dilakukan terus-menerus hingga akhirnya dikenal pembaca internasional.
Di tengah budaya yang serba instan, kisah De Liang mengingatkan bahwa karya besar jarang lahir secara tiba-tiba. Ia tumbuh melalui disiplin yang mungkin terlihat biasa setiap harinya.
Barangkali inilah alasan mengapa perjalanan De Liang layak mendapat perhatian. Bukan semata karena ia berhasil membawa nama Indonesia ke daftar buku terlaris Amazon, melainkan karena ia menunjukkan bahwa konsistensi dapat mengalahkan anggapan bahwa hanya mereka yang berbakat sejak lahir yang mampu menghasilkan karya luar biasa.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


