origami bukan melarang gadget linda lookman punya cara yang lebih efektif mengisi liburan anak - News | Good News From Indonesia 2026

Origami: Bukan Melarang Gadget, Linda Lookman Punya Cara yang Lebih Efektif Mengisi Liburan Anak

Origami: Bukan Melarang Gadget, Linda Lookman Punya Cara yang Lebih Efektif Mengisi Liburan Anak
images info

Bukan Melarang Gadget, Linda Lookman Punya Cara yang Lebih Efektif Mengisi Liburan Anak | Foto: unsplash


Libur sekolah seharusnya menjadi momen anak mengeksplorasi banyak hal baru. Namun, bagi sebagian keluarga, liburan justru identik dengan bertambahnya waktu menatap layar. Ketika rutinitas belajar berhenti, ponsel dan tablet sering mengambil alih peran sebagai teman bermain.

Tak sedikit orang tua kemudian memilih membatasi penggunaan gadget. Cara ini memang penting, tetapi sering kali hanya menyelesaikan persoalan di permukaan.

Anak menjauh dari layar untuk sementara, lalu kembali mencarinya karena tidak menemukan aktivitas lain yang sama menariknya.

Di sinilah pendekatan yang dibawa Linda Lookman Marlina, Ketua Asosiasi Origami Indonesia, menjadi menarik untuk disimak. Alih-alih mengajak orang tua memulai dari larangan, ia memperkenalkan origami sebagai kegiatan yang mampu mengisi rasa ingin tahu anak secara alami.

Origami memang tampak sederhana. Hanya selembar kertas dan beberapa lipatan. Namun di balik kesederhanaannya, tersimpan proses belajar yang tidak bisa diberikan oleh layar digital.

Kompas.com menjelaskan bahwa origami merupakan seni melipat kertas yang telah berkembang selama ratusan tahun. Aktivitas ini tidak hanya menghasilkan karya seni, tetapi juga membantu mengembangkan kreativitas, ketelitian, dan kemampuan motorik halus anak.

baca juga

Yang Hilang Bukan Waktu, tetapi Perhatian Anak

Selama ini pembahasan mengenai kecanduan gadget lebih banyak berfokus pada durasi penggunaan layar. Padahal, persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana perhatian anak kini mudah dikuasai oleh konten digital yang serba cepat.

Video berdurasi singkat, permainan yang penuh hadiah instan, hingga media sosial membuat anak terbiasa memperoleh hiburan dalam hitungan detik. Origami menawarkan pengalaman yang bertolak belakang.

Tidak ada tombol untuk mempercepat proses. Tidak ada hadiah virtual setelah satu lipatan selesai. Anak justru diajak menikmati setiap tahapan hingga akhirnya sebuah bentuk muncul dari selembar kertas.

Barangkali inilah alasan mengapa origami terasa relevan di era digital. Aktivitas ini melatih kemampuan yang semakin jarang digunakan, yaitu sabar, fokus, dan menikmati proses.

Berawal dari Komunitas menjadi Gerakan Kreatif

Perjalanan Linda Lookman bersama Asosiasi Origami Indonesia juga menunjukkan bahwa origami bukan sekadar hobi.

OrigamiUSA, melalui tulisan Linda berjudul COG Spotlight: Indonesian Origami Community, menceritakan bagaimana komunitas pecinta origami di Indonesia tumbuh dari kelompok kecil hingga berkembang menjadi organisasi yang mempertemukan para penggemar origami dari berbagai daerah.

Perkembangan tersebut membuat origami tidak lagi dipandang sebagai aktivitas anak-anak semata. Berbagai kegiatan, pelatihan, hingga konvensi rutin menghadirkan ruang belajar bagi siapa saja yang ingin mengenal seni melipat kertas lebih dalam.

DetikJabar juga melaporkan bahwa Konvensi Origami Indonesia 2024 menjadi wadah bagi para pegiat origami untuk menunjukkan inovasi sekaligus membuka peluang ekonomi kreatif melalui karya-karya mereka.

Artinya, origami tidak berhenti sebagai aktivitas mengisi waktu luang. Ia juga dapat berkembang menjadi keterampilan yang memiliki nilai sosial bahkan ekonomi.

baca juga

Liburan Tidak Harus Selalu Mahal

Ada anggapan bahwa liburan yang menyenangkan identik dengan bepergian ke tempat wisata atau membeli mainan baru. Padahal, pengalaman yang paling membekas sering kali lahir dari aktivitas sederhana yang dilakukan bersama. Origami termasuk salah satunya.

Kompas.com menyebutkan bahwa berbagai jenis kertas, mulai dari kertas lipat, HVS, hingga kertas bekas, dapat dimanfaatkan untuk membuat origami. Dengan biaya yang sangat terjangkau, anak sudah bisa mencoba membuat puluhan model berbeda.

Hari ini mungkin mereka membuat burung. Besok mencoba bunga. Lusa beralih ke dinosaurus atau hewan favorit lainnya.

Setiap model baru menghadirkan tantangan yang berbeda sehingga rasa penasaran anak tetap terjaga tanpa harus bergantung pada layar.

Melatih Kemampuan yang akan Berguna di Masa Depan

Tanpa disadari, setiap lipatan dalam origami mengajarkan keterampilan yang penting dalam kehidupan sehari-hari.

Anak belajar mengikuti instruksi secara bertahap. Mereka belajar memperbaiki kesalahan ketika hasil lipatan belum sesuai. Mereka juga belajar bahwa keberhasilan tidak selalu diperoleh dalam satu kali percobaan.

Kemampuan seperti inilah yang sering disebut sebagai bagian dari proses membangun ketekunan dan memecahkan masalah. Di tengah budaya serba instan, pelajaran sederhana seperti ini justru semakin bernilai.

Peran Orang Tua Bukan menjadi Guru

Salah satu kelebihan origami adalah orang tua tidak harus menjadi ahli untuk mulai bermain bersama anak. Mereka bisa belajar dari buku, video, atau komunitas secara bersamaan.

Sesekali biarkan anak menemukan cara melipatnya sendiri. Biarkan bentuknya belum sempurna. Biarkan mereka membuka kembali lipatan yang salah lalu mencoba lagi. Proses tersebut jauh lebih penting daripada hasil akhirnya.

Karena yang sedang dibangun bukan sekadar bentuk burung atau bunga, melainkan rasa percaya diri bahwa mereka mampu menyelesaikan sesuatu dengan usaha sendiri.

baca juga

Mengembalikan Makna Liburan

Liburan sekolah semestinya bukan hanya jeda dari tugas dan pekerjaan rumah. Liburan juga menjadi kesempatan bagi anak untuk menemukan minat baru yang mungkin tidak mereka temui di ruang kelas.

Apa yang dilakukan Linda Lookman melalui Asosiasi Origami Indonesia menunjukkan bahwa solusi menghadapi dominasi gadget tidak selalu dimulai dengan melarang atau membatasi.

Kadang, yang dibutuhkan justru menghadirkan aktivitas yang cukup menarik sehingga anak dengan sukarela meletakkan ponselnya. Selembar kertas memang tidak bisa menyaingi kecanggihan teknologi.

Namun, ketika lipatan demi lipatan berhasil berubah menjadi karya yang mereka buat sendiri, anak memperoleh sesuatu yang tidak diberikan layar: pengalaman mencipta, rasa bangga, dan kenangan yang mungkin akan mereka ingat jauh setelah liburan usai.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AM
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.