Ada sebuah cerita rakyat dari Sulawesi Tenggara yang berkisah tentang persaingan kera dan jin beringin. Legenda ini menceritakan tentang persaingan mereka memperebutkan pohon beringin sebagai tempat tinggal.
Bagaimana kisah di balik persaingan kera dan jin beringin dalam cerita rakyat dari Sulawesi Tenggara tersebut?
Kisah Kera dan Jin Beringin yang Saling Bertaruh, Cerita Rakyat dari Sulawesi Tenggara
Dikutip dari buku Cerita Rakyat Buton dan Muna di Sulawesi Tenggara, alkisah pada zaman dahulu di sebuah hutan tumbuh sebuah pohon beringin besar. Di sana bermukim jin beringin yang sudah mendiami pohon tersebut sejak lama.
Pada suatu hari, datang seekor kera di pohon beringin tersebut. Saat kera tengah memanjat, tiba-tiba jin beringin tersebut muncul di hadapannya.
Jin beringin tersebut berkata hendak ke mana perginya si kera. Dengan tenang sang kera menjawab jika dia akan naik dan ingin tinggal di atas pohon beringin itu.
Mendengar jawaban sang kera, jin beringin tertawa dengan kencangnya. Dia berkata jika kera tidak boleh bermukim di sana.
Dia berkata jika pohon beringin tersebut sudah menjadi rumahnya sejak lama. Jin beringin berkata jika kera tidak berhak tinggal di sana.
Namun sang kera kembali menghadapi jin beringin dengan tenang. Dia berkata jika jin beringin tidak bisa memutuskan hal tersebut begitu saja.
Baik dirinya sendiri, jin beringin, maupun pohon besar yang ada di hadapan mereka adalah ciptaan Tuhan. Jadi tidak ada siapapun yang berhak memberikan klaim seperti jin beringin sebelumnya.
Kera pun berkata jika mereka sama-sama berhak tinggal di sana. Namu karena tidak mau berselisih, kera pun mengajak jin beringin untuk sama-sama tinggal di pohon tersebut.
Jin beringin menolak saran tersebut dengan lantang. Dia justru menantang kera untuk beradu siapa yang layak tinggal di sana.
Kera ditantang oleh jin beringin untuk adu siapa yang bisa paling lama begadang hingga siang hari. Kera pun menerima tantangan jin beringin tersebut.
Pada saat malam tiba, jin beringin dan kera mulai begadang. Mereka berusaha menahan kantuk antara satu sama lain.
Saat tengah malam tiba, kera terlihat tertidur sebentar. Jin beringin berkata jika kera sudah tidur.
Namun kera memiliki akal yang cerdik. Dia berkata jika sebelumnya tidak tidur.
Dia hanya berpikir mengapa telur ayam bisa bulat walau tidak ada yang membentuknya. Mendengar penjelasan kera, jin beringin hanya bisa mengangguk-angguk mendengarkannya.
Pada saat menjelang dini hari, hal serupa kembali terjadi. Kera terlihat memejamkan matanya.
Melihat hal itu, jin beringin langsung menepuk bahu kera dan berkata jika dia sudah tidur. Namun kera kembali menunjukkan kecerdasannya.
Kera kembali berkata jika dia tengah berpikir keras. Dia berpikir mengapa air laut tidak pernah penuh, padahal sungai-sungai selalu mengalir mengisinya.
Lagi-lagi jin beringin hanya bisa mengangguk-angguk begitu saja. Mereka pun melanjutkan persaingan hingga pagi tiba.
Ketika matahari mulai tinggi, jin beringin mulai mengantuk. Sebaliknya sang kera masih terlihat segar karena sempat tidur sebentar di malamnya.
Akhirnya jin beringin tidak bisa menahan rasa ngantuknya. Jin beringin pun tertidur pulas dan berdengkur dengan kerasnya.
Sang kera kemudian membangunkan jin beringin. Dia berkata jika jin beringin sudah tertidur dengan pulas.
Dengan setengah sadar, jin beringin sadar jika dia sudah tertidur. Akhirnya jin beringin mengakui kekalahannya atas kera.
Sang kera pun dipersilahkan untuk tinggal di pohon beringin itu. Namun dengan kebaikan hatinya, sang kera tidak mengusir jin beringin dari sana.
Dia justru mengajak jin beringin untuk tinggal bersama. Akhirnya kera dan jin beringin menjadi sahabat dan tinggal bersama di atas pohon tersebut.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


