Pembahasan mengenai Artificial Intelligence (AI) saat ini tidak hanya terbatas pada dunia pendidikan, bisnis, atau teknologi. AI juga mulai hadir dalam industri kecantikan dan media sosial yang setiap hari digunakan oleh jutaan perempuan.
Kehadiran berbagai fitur seperti beauty filter, AI retouch, hingga virtual makeup membuat siapa saja dapat tampil lebih menarik hanya dalam hitungan detik.
Ide tulisan ini muncul ketika saya melihat berbagai konten di TikTok dan Instagram yang menggunakan filter kecantikan berbasis AI. Tidak sedikit pengguna yang mengunggah video transformasi wajah mereka sebelum dan sesudah menggunakan filter tersebut.
Di kolom komentar, saya menemukan banyak perempuan yang menuliskan kalimat seperti “Andai wajah asliku seperti ini” atau “Kenapa setelah lihat filter jadi minder sama muka sendiri?”.
Fenomena tersebut membuat saya bertanya-tanya, apakah teknologi kecantikan benar-benar membantu perempuan menjadi lebih percaya diri, atau justru menciptakan standar kecantikan baru yang sulit dicapai di kehidupan nyata?
Sebagai mahasiswi Sistem Informasi, saya melihat bahwa perkembangan teknologi memang membawa banyak manfaat. Namun, di balik kemudahannya, terdapat dampak sosial yang perlu diperhatikan.
Ketika Teknologi Membuat Cantik jadi Lebih Mudah
Perkembangan teknologi AI telah mengubah cara banyak orang menampilkan diri di media sosial. Berbagai aplikasi kini mampu memperhalus kulit, mengubah bentuk wajah, mempertegas fitur wajah, hingga memberikan efek makeup secara otomatis hanya dalam beberapa detik.
Pengguna tidak lagi memerlukan kemampuan editing yang rumit karena hampir semua proses dilakukan oleh sistem secara otomatis.
Kemudahan tersebut membuat banyak pengguna tertarik untuk menampilkan versi terbaik dari diri mereka di dunia digital. Tidak sedikit orang yang lebih nyaman mengunggah foto yang telah diedit dibandingkan menampilkan wajah asli mereka.
Menurut Lukman, Muis, dan Hamid (2023), intensitas penggunaan media sosial dapat memengaruhi tingkat ketidakpuasan terhadap citra tubuh (body image dissatisfaction) pada perempuan dewasa awal.
Hal ini disebabkan oleh paparan yang terus-menerus terhadap konten visual yang menampilkan standar kecantikan tertentu, sehingga individu cenderung lebih sering melakukan perbandingan sosial terhadap penampilannya dengan orang lain.
Dalam konteks penggunaan filter kecantikan dan teknologi AI, kondisi tersebut dapat memperkuat persepsi idealisasi wajah yang tidak realistis, sehingga pengguna merasa kurang puas terhadap wajah aslinya.
Akibatnya, kepercayaan diri mereka dapat menurun secara perlahan apabila kondisi ini terjadi secara berulang dan tidak disertai dengan penerimaan diri yang baik.
Selain itu, fenomena ini juga dapat berdampak pada kesehatan mental individu, seperti meningkatnya kecemasan terhadap penampilan, munculnya rasa tidak percaya diri dalam interaksi sosial, serta keinginan untuk terus mengubah tampilan fisik agar sesuai dengan standar yang dianggap ideal di media sosial.
Jika kondisi ini dibiarkan, maka dapat berpotensi memengaruhi kesejahteraan psikologis dalam jangka panjang, terutama pada individu yang memiliki tingkat ketergantungan tinggi terhadap media sosial.
Oleh karena itu, diperlukan kesadaran digital dan kemampuan literasi media agar pengguna dapat lebih kritis dalam menyikapi konten yang dikonsumsi serta mampu menerima dirinya secara lebih positif.
Meskipun terlihat positif, penggunaan teknologi yang berlebihan dapat membuat seseorang terbiasa melihat versi dirinya yang telah dimodifikasi. Akibatnya, sebagian orang mulai merasa kurang puas terhadap penampilan aslinya karena tidak sesuai dengan tampilan digital yang mereka lihat setiap hari.
Standar Kecantikan di Media Sosial Semakin Sulit Dicapai
Media sosial saat ini dipenuhi oleh konten yang menampilkan wajah sempurna, kulit mulus, dan penampilan yang terlihat ideal. Banyak pengguna tidak menyadari bahwa sebagian besar foto dan video tersebut telah melalui proses editing, filter, atau bantuan AI.
Fardouly dan Vartanian (2016) menjelaskan bahwa media sosial memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan citra tubuh dan persepsi kecantikan seseorang. Semakin sering seseorang terpapar pada standar kecantikan tertentu, semakin besar kemungkinan ia membandingkan dirinya dengan standar tersebut.
Akibatnya, standar kecantikan yang terbentuk di media sosial semakin jauh dari realitas. Perempuan tidak lagi membandingkan diri dengan orang lain secara langsung, melainkan dengan versi digital yang telah dimodifikasi oleh teknologi.
Padahal, setiap individu memiliki karakteristik fisik yang berbeda. Kecantikan tidak dapat diseragamkan hanya berdasarkan standar yang sedang populer di internet.
Kehilangan Percaya Diri di Tengah Standar Kecantikan Digital
Salah satu dampak yang paling sering muncul dari fenomena ini adalah menurunnya rasa percaya diri. Banyak perempuan mulai merasa bahwa wajah mereka kurang menarik karena tidak sesuai dengan standar kecantikan yang terus ditampilkan di media sosial.
Perbandingan yang dilakukan secara terus-menerus dapat memunculkan rasa insecure terhadap bentuk wajah, warna kulit, kondisi kulit, maupun penampilan secara keseluruhan. Bahkan, beberapa orang mulai merasa tidak nyaman ketika harus tampil tanpa filter atau tanpa makeup.
Penelitian Tiggemann dan Anderberg (2020) menunjukkan bahwa paparan gambar yang telah diedit di media sosial dapat meningkatkan kecenderungan seseorang untuk membandingkan diri dengan orang lain dan merasa kurang puas terhadap penampilannya sendiri.
Fenomena ini menunjukkan bahwa teknologi tidak hanya mengubah cara manusia berinteraksi, tetapi juga memengaruhi cara manusia memandang dirinya sendiri. Ketika validasi dari media sosial menjadi ukuran utama kecantikan, rasa percaya diri seseorang dapat menjadi sangat bergantung pada penilaian orang lain.
Oleh karena itu, penting bagi pengguna media sosial untuk memahami bahwa tidak semua yang terlihat di internet merupakan gambaran nyata. Teknologi dapat membantu mempercantik tampilan, tetapi tidak seharusnya menentukan nilai diri seseorang.
Teknologi mungkin mampu menciptakan wajah yang tampak sempurna, tetapi tidak selalu mampu menciptakan rasa percaya diri. AI dan makeup bukanlah sesuatu yang salah, tetapi keduanya tidak seharusnya menentukan nilai seseorang.
Di balik makeup dan AI, ada banyak perempuan yang diam-diam berjuang menerima dirinya sendiri. Karena pada akhirnya, kecantikan bukan tentang seberapa sempurna penampilan kita di layar, melainkan seberapa nyaman kita menjadi diri sendiri di kehidupan nyata.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

