Inspirasi datang ketika Hariyanti menatap kancing bajunya. Hanya karena kancing itu terbuat dari batok kelapa, Hariyanti yang punya jiwa wirausaha melihat ada potensi di sana.
Siapa nyana, kacing baju jadi titik awal lahirnya sebuah usaha yang kini sudah berjalan 24 tahun. Tak hanya itu, di usia yang berkepala 2, produk-produknya sudah sampai ke Jamaika, Prancis, Belanda, Malaysia, hingga Sri Lanka.
Sebelum terjun ke dunia kerajinan, Hariyanti sudah pernah berwirausaha. Ia mencoba usaha makanan ringan. Akan tetapi, sebagaimana masalah usaha kuliner pada umumnya, Hariyanti merasakan kerugian akibat produk tidak habis dan harus di-retur. Makanya, ia coba cari ide usaha lain yang lebih long lasting.
"Saya berpikir untuk berbisnis yang biarpun sekarang ini belum laku, tapi tidak basi," kata Yanti.
Bersama sang suami, Yani, mereka mulai bereksperimen untuk membuat produk serupa, yakni kancing baju. Ukurannya beragam, dari 1,3 hingga 5 cm. Hariyanti kemudian berkeliling ke konveksi dan toko alat jahit untuk menawarkan kancing buatan tangannya sendiri.
Tidak mudah memang, tapi perlahan produknya mendapat kepercayaan. Seiring waktu, usahanya berkembang dan mereka merambah dengan memproduksi bros, gantungan kunci, aksesori, hingga tas.
Yang menarik, suaminya membuat sendiri mesin dan pisau pemotong batok. Mesin-mesin itu dimodifikasi agar bisa menghasilkan motif sesuai kebutuhan. Total ada lebih dari sepuluh jenis alat yang digunakan dalam proses produksi. Sebagian dari alat itu dibeli, lalu direkayasa ulang.
Dan di situlah letak keunggulan Yanti Batok Craft. Desain dan proses produksi mereka sulit ditiru karena alatnya pun tidak dijual sembarangan.
Widodo (50), karyawan paling senior yang sudah bergabung sejak sekitar 2008, juga menyebut bahwa proses produksi Yanti Batok Craft tidak asal jadi. Perlu waktu untuk membuat suatu produk bernilai tinggi. Satu produk bisa selesai dalam satu hari atau bahlam bisa tiga hari hingga seminggu untuk yang berukuran besar atau bermotif rumit.
Go Internasional Setelah Ikut Pameran
Kini, produk Yanti Batok Craft telah mencapai pasar internasional. Sebab, Hariyanti cukup progresif dalam berusaha. Ia tak hanya melakukan pemasaran konvensional. Ia pun mulai aktif jemput bola dengan mengikuti pameran. Setelah mengurus legalitas usaha pada 2003, ia membawa produknya ke Bantul Expo, lalu Jakarta Expo, Trade Expo Indonesia, hingga pameran di luar negeri.
"Semuanya gratis dari partner kita, dari pemerintah," cerita Yanti.
Di salah satu pameran itulah ia bertemu pembeli dari Jamaika. Pembeli itu memesan tas-tas bulat dari batok kelapa dalam jumlah besar, sekitar 7.000 buah. Nilainya mencapai ratusan juta rupiah. Tak hanya sekali, pembeli dari Jamaika itu pun terus menjadi pelanggan setia Yanti Batok Craft.
Kini, produk Yanti Batok Craft bisa ditemukan di Malioboro Yogyakarta, Sarinah Jakarta, gerai-gerai di bandara, hingga pasar internasional. Lalu untuk pasar ekspor sudah menjangkau Jamaika, Prancis, Turki, Belanda, Malaysia, dan Sri Lanka.
Dua Kali Dihantam, Dua Kali Bangkit
Untuk bisa tembus pasar global, jelas bukan perkara mudah. Perjalanan Yanti Batok Craft pun sempat terseok-seok.
Pada 2006, gempa bumi dahsyat mengguncang Yogyakarta. Usaha Hariyanti terpaksa berhenti total selama hampir dua tahun. Kebangkitan datang setelah pemerintah menggelar pameran "Bangkit UKM Bantul" yang mempertemukan produk lokal dengan pembeli dari luar daerah.
"Pameran Bangkit UKM Bantul diprakarsai oleh Dinas, kemudian banyak orang-orang luar itu beli," kenang Hariyanti.
Badai kedua datang ketika pandemi Covid-19 pada 2020. Produk kerajinan batok kelapa termasuk kategori tersier sehingga permintaan pasar sangat minim. Kondisi keuangan usaha pun sempat minus.
Yang membuat Hariyanti bertahan bukan hanya tekad, tapi juga sebuah pesanan suvenir dari dinas senilai sekitar Rp30 juta yang menjadi modal untuk kembali bergerak.
Dan yang menarik, untuk mempertahankan usahanya, Yanti tidak merumahkan para karyawan. Kala itu, mesin-mesin dipinjamkan ke rumah masing-masing pekerja agar produksi bisa tetap jalan dari rumah.
Kini, omzet Yanti Batok Craft mencapai rata-rata Rp 3 juta hingga Rp 10 juta per bulan dengan lima hingga sepuluh karyawan yang seluruhnya warga Bantul dan sekitarnya.
"Kita juga nggak muluk-muluk, yang penting kita tetap jalan dan bisa membantu orang," kata Yanti.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


