Kawan GNFI lagi buka ponsel, niatnya cuma sebentar. Scroll sedikit, cek pesan, lalu lanjut aktivitas lain. Namun belum lima menit, layar sudah penuh: OTP masuk, notifikasi marketplace muncul, email promo berdatangan, grup chat ramai, aplikasi lain ikut bersuara.
Tanpa sadar, jempolmu mulai bekerja sendiri. Klik. Setuju. Lewati. Abaikan. Semua terasa normal. Bahkan terlalu normal sampai kita tidak lagi benar-benar memperhatikan apa yang sedang kita lakukan. Situasi seperti ini sudah menjadi rutinitas banyak orang. Namun di balik kebiasaan kecil yang tampak sepele itu, ada celah yang dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber.
Kasus penipuan dan peretasan akun terus meningkat, meskipun masyarakat makin akrab dengan teknologi. Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat lebih dari 432.000 laporan penipuan digital sepanjang November 2024 hingga Januari 2026, dengan total kerugian mencapai sekitar Rp9,1 triliun. Angka ini bukan sekadar statistik, ini menunjukkan bahwa ruang digital yang kita anggap “biasa saja” ternyata menyimpan risiko yang sangat nyata.
Ironisnya, banyak korban sebenarnya bukan orang yang tidak paham teknologi. Mereka justru pengguna aktif, terbiasa dengan aplikasi, bahkan merasa cukup aman dalam aktivitas digital sehari-hari.
Lalu kenapa masih bisa tertipu? Jawabannya bukan sekadar soal kehati-hatian, tapi tentang cara otak kita beradaptasi terhadap banjir informasi.
Setiap Hari Dibombardir Notifikasi, Kapan Kita Sempat Curiga?
Puluhan hingga ratusan notifikasi masuk setiap hari, kadangkala datang secara bersamaan. OTP, email, pesan instan, bahkan update aplikasi, semuanya datang tanpa henti.
Awalnya Kawan GNFI mungkin masih selektif, memilah satu per satu. Tapi lama-kelamaan, semua notifikasi mulai terlihat sama: sama pentingnya, atau justru sama tidak pentingnya. Di titik ini, otak mulai mengambil jalan pintas.
Lama kelamaan muncul kondisi yang dikenal dengan security fatigue, yaitu ketika seseorang merasa lelah untuk terus-menerus memproses keputusan terkait keamanan digital. National Institute of Standards and Technology (NIST) menjelaskan bahwa security fatigue membuat pengguna cenderung menghindari usaha tambahan dalam menjaga keamanan, seperti membuat password unik atau mengecek ulang keaslian pesan. Dalam kondisi ini, orang lebih memilih “cara cepat” meskipun berisiko.
Celah tersebut kemudian dimanfaatkan untuk oleh pelaku penipuan. Ketika sebuah pesan palsu datang dengan format yang mirip notifikasi asli seperti mengatasnamakan bank atau layanan pengiriman, otak yang sudah lelah tidak lagi punya energi untuk berhenti dan mengecek ulang.
Klik dulu, mikir belakangan. Jeda beberapa detik yang menentukan segalanya.
Merasa Sudah Paham Teknologi, tapi Kenapa Masih Bisa Tertipu?
Ada asumsi yang cukup umum di kalangan pengguna muda: kalau sudah paham teknologi, berarti aman dari penipuan digital.
Survei Bitwarden (2024) menemukan bahwa 72% pengguna Gen Z masih menggunakan password yang sama di beberapa akun, meskipun 79% di antaranya sadar bahwa kebiasaan itu berisiko. Artinya sederhana tapi penting: banyak orang tahu apa yang benar, tapi tidak selalu melakukannya.
Di sini muncul fenomena yang sering tidak disadari: rasa terlalu percaya diri terhadap kemampuan digital sendiri.
Ketika seseorang merasa “sudah paham internet”, ia cenderung menganggap dirinya tidak perlu terlalu waspada. Padahal justru di titik itu banyak celah terbuka, mulai dari password lemah sampai klik link tanpa verifikasi.
Di sini terlihat satu pola menarik, karena ternyata masalahnya bukan hanya di pengetahuan, tetapi juga di perilaku. Fenomena ini dikenal sebagai optimism bias, yaitu kecenderungan merasa bahwa risiko lebih mungkin terjadi pada orang lain, bukan pada diri sendiri.
Dan dalam konteks keamanan digital, bias kecil seperti ini bisa menjadi awal dari kebocoran akun, pencurian data, hingga kerugian finansial.
Masalahnya Bukan di Teknologi, Tapi Cara Kita Menggunakannya!
Kawan GNFI sering membayangkan peretasan sebagai sesuatu yang rumit seperti hacker dengan kemampuan teknis tinggi, kode rumit, dan sistem yang ditembus secara paksa.
Padahal kenyataannya jauh lebih sederhana.
Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mendeteksi lebih dari 44 juta aktivitas malware hanya dalam periode Januari hingga Mei 2024, sebagian besar terkait malware dan aktivitas phishing.
Dibalik angka besar itu, banyak serangan justru berhasil bukan karena teknologi yang gagal, melainkan karena satu hal yang lebih dasar: manusia yang tidak sempat berhenti sejenak untuk berpikir.
Satu tautan di klik tanpa cek. Satu izin akses disetujui tanpa dibaca. Satu rasa percaya diberikan terlalu cepat dan dari sana, semuanya mulai terbuka.
Keamanan digital, pada akhirnya, bukan hanya soal sistem yang kuat. Namun soal kebiasaan kecil yang diulang setiap hari tanpa disadari.
Kesimpulan
Masalah utama dalam keamanan digital bukan hanya ancaman eksternal, tapi juga cara kita merespons dunia digital yang terlalu cepat. Kelelahan digital membuat kita cenderung mengabaikan detail. Rasa percaya diri membuat kita merasa aman padahal tidak sepenuhnya demikian.
Kabar baiknya, perubahan tidak harus besar. Menggunakan password yang unik, mengaktifkan autentikasi dua faktor, memverifikasi tautan sebelum mengklik, dan sesekali melambat sebelum mengambil keputusan digital dapat mengurangi risiko secara signifikan.
Karena pada akhirnya, bukan sistem yang paling sering gagal. Tapi manusia yang terlalu terbiasa tidak memperhatikan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


