AIESEC in UNEJ secara resmi membuka rangkaian kegiatan Jember Youth Leadership Conference (JYLC) 11.0 yang diselenggarakan di Gedung ISDB Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember. Mengusung tema “Grow Beyond Boundaries with Punggawa”, konferensi ini menjadi wadah bagi generasi muda untuk mengembangkan kapasitas kepemimpinan, memperluas perspektif, serta mempersiapkan diri menghadapi tantangan masa depan.
Jember Youth Leadership Conference (JYLC) merupakan konferensi kepemudaan tahunan yang diselenggarakan oleh AIESEC in UNEJ sebagai ruang pembelajaran dan pengembangan diri bagi para pemuda. Pada pelaksanaan tahun ini, sebanyak 48 peserta dari berbagai latar belakang mengikuti rangkaian kegiatan yang dirancang untuk mendorong peserta keluar dari zona nyaman, mengenali potensinya, serta membangun karakter kepemimpinan yang adaptif terhadap perubahan zaman.
Hari pertama konferensi diawali dengan proses registrasi peserta dan pembukaan acara yang dilanjutkan dengan Opening Conference. Pada sesi awal ini, peserta diperkenalkan dengan tujuan, nilai, dan pengalaman yang akan mereka jalani selama konferensi berlangsung. Suasana yang penuh semangat dan antusiasme terlihat sejak awal acara, menunjukkan tingginya minat peserta untuk terlibat aktif dalam setiap rangkaian kegiatan.
Setelah sesi pembukaan, peserta mengikuti Opening Plenary bertajuk “Mission Briefing: Why Are We Here?”. Sesi ini menjadi ruang refleksi bagi peserta untuk memahami makna kehadiran mereka dalam konferensi. Peserta diajak untuk mengenali tujuan pribadi, memahami tantangan yang dihadapi pemuda saat ini, serta membangun kesadaran akan pentingnya kepemimpinan yang berdampak.
Salah satu momen yang paling dinantikan dalam Day 1 adalah Chair Reveal, yaitu pengenalan pembicara utama konferensi. Pada kesempatan ini, peserta disambut oleh Bachtiar Nur Alam selaku Head of Organizational Development From National Board yang hadir sebagai chair dalam JYLC 11.0. Kehadiran beliau memberikan antusiasme tersendiri bagi peserta karena materi yang disampaikan tidak hanya berfokus pada konsep kepemimpinan, tetapi juga pengalaman nyata dalam pengembangan organisasi dan pemberdayaan generasi muda.
Melalui sesi “Mission 1: Before The Walls Existed”, peserta diajak untuk memahami bagaimana batasan-batasan dalam diri sering kali terbentuk oleh pengalaman, lingkungan, maupun persepsi pribadi. Sesi ini mendorong peserta untuk merefleksikan berbagai hambatan yang selama ini menghalangi mereka dalam berkembang dan berani mengambil langkah untuk melampaui batas tersebut. Diskusi yang interaktif membuat peserta aktif berbagi pandangan serta pengalaman mereka selama proses pembelajaran berlangsung.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan Evening Plenary bertajuk “Behind The Invisible Walls”. Pada sesi ini, peserta diajak untuk menggali lebih dalam mengenai tantangan internal maupun eksternal yang sering dihadapi generasi muda dalam proses pengembangan diri. Melalui berbagai aktivitas reflektif dan games seru, peserta belajar untuk memahami bahwa setiap individu memiliki tantangan yang berbeda, namun tetap memiliki kesempatan yang sama untuk bertumbuh dan berkembang.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Salah satu peserta, Ezra selaku Team Leader of Outreach, mengungkapkan bahwa Day 1 memberikan banyak pembelajaran berharga dan perspektif baru mengenai kepemimpinan maupun peran AIESEC dalam menciptakan dampak positif bagi masyarakat.
“Meskipun tadi saya datang sedikit terlambat, saya cukup menyayangkan hal tersebut karena ternyata banyak sekali hal berharga yang bisa dipelajari dari sesi hari ini. Kita belajar banyak dari chair yang luar biasa keren dan sangat menginspirasi. Selain itu, Conference Committee juga bekerja dengan sangat baik sehingga acara dapat berjalan dengan lancar. Dari mereka, saya belajar bagaimana perjalanan dan proses yang dilalui hingga bisa berkembang dan menjadi versi terbaik dari diri mereka saat ini,” ujar Ezra.
Ia juga menambahkan bahwa kegiatan ini membantunya memahami lebih jauh mengenai AIESEC dan kontribusinya terhadap pengembangan generasi muda.
“Hari ini membuat saya semakin memahami apa itu AIESEC dan bagaimana organisasi ini terus berkontribusi untuk memberikan dampak positif bagi sesama. Tidak hanya itu, saya juga belajar bagaimana AIESEC terus berkembang dan mampu beradaptasi dengan berbagai perubahan serta perkembangan global yang terjadi. Secara keseluruhan, Day 1 memberikan banyak insight baru, inspirasi, dan semangat untuk terus berkembang. Saya sangat excited untuk mengikuti rangkaian acara selanjutnya dan belajar lebih banyak lagi bersama teman-teman semua,” tambahnya.
Rangkaian kegiatan hari pertama ditutup dengan sesi call to action, dokumentasi, dan refleksi bersama peserta. Melalui berbagai sesi yang telah dilalui, Day 1 JYLC 11.0 berhasil menciptakan ruang pembelajaran yang mendorong peserta untuk mengenal diri mereka lebih dalam, memahami arti kepemimpinan yang berdampak, serta mempersiapkan diri untuk mengikuti perjalanan pengembangan diri pada hari-hari berikutnya.
Sebagai konferensi kepemudaan yang telah memasuki tahun ke-11 penyelenggaraan, JYLC akan terus menjadi ruang bagi generasi muda untuk bertumbuh, berkolaborasi, dan mengembangkan potensi kepemimpinan mereka. Melalui tema “Grow Beyond Boundaries with Punggawa”, JYLC 11.0 diharapkan mampu mendorong para peserta untuk melampaui berbagai batasan yang ada dan menjadi pemimpin yang siap menciptakan dampak positif bagi lingkungan sekitarnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


