Glenmore, nama ini mungkin masih asing di telinga sebagian Kawan GNFI. Nama ini merujuk di beberapa tempat di dunia, seperti Glenmore di Skotlandia, Glenmore di Amerika Serikat, Glenmore di Australia, hingga Glenmore di Indonesia.
Meskipun namanya sama, tak semua tempat itu betul-betul memiliki keterikatan sejarah satu sama lain. Namun, lain halnya dengan Glenmore di Skotlandia dan Glenmore di Indonesia yang konon memiliki keterkaitan sejarah.
Glenmore di Skotlandia merupakan kawasan taman hutan nasional yang terletak di kaki Pegunungan Cairngorm. Glenmore versi Skotlandia membentang seluas 5.000 hektare dengan keindahan khas alam dataran tinggi Eropa.
Berbeda dengan Glenmore versi “bule”, Glenmore versi Indonesia merupakan sebuah kecamatan yang ada di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Letak Kecamatan Glenmore juga cukup strategis karena berada di jalan nasional yang menghubungkan Banyuwangi Kota dan Genteng dengan Kabupaten Jember.
Disadur dari Badan Pusat Stastik Kabupaten Banyuwangi 2025, Kecamatan Glenmore menempati luas area sekitar 421,98 km2. Kecamatan ini mencakup delapan desa/kelurahan, yakni Karangharjo, Tulungrejo, Sumbergondo, Bumiharjo, Sepanjang, Tegalharjo, dan Margomulyo.
Kenapa Dinamakan Glenmore?
Secara historis, konon nama “Glenmore” memang diambil dari kawasan di Skotlandia. Di sisi lain, ada juga yang mneyebut jika nama ini digunakan untuk menamai perkebunan milik seorang pengusaha asal Skotlandia bernama Ros Taylor, yaitu Glenmore Estate, yang didirikan pada awal abad ke-20.
Istilah "Glenmore" sendiri berasal dari bahasa Gaelik (bahasa asli Skotlandia). "Glen" berarti bukit besar atau kawasan dataran tinggi yang sejuk, sedangkan "More" berarti hamparan tanah yang berkontur.
Nama ini dirasa cocok untuk kawasan di lereng selatan Gunung Raung tersebut karena tanahnya yang berbukit-bukit dan udaranya yang sangat sejuk.
Glenmore: Dari Hutan Belantara Jadi Perkebunan Modern
Sebelum dikenal sebagai Glenmore, wilayah ini adalah hutan belantara yang tidak tersentuh penduduk. Perubahan besar terjadi setelah disahkannya Undang-Undang Agraria (Agrarische Wet) 1870 yang membuka pintu bagi investor asing untuk mengelola lahan di Hindia Belanda.
Merangkum dari penelitian Fiqqi Dikrulloh yang bertajuk Sejarah Perkembangan Glenmore Estate di Banyuwangi Tahun 1920-1928, pada 2 Februari 1910, Ros Taylor secara resmi memulai usaha perkebunannya dengan menanam komoditas ekspor utama seperti karet, kopi, dan kakao. Dalam membuka lahan ini, Ros Taylor bekerja sama dengan mitra lokal bernama Mbah Yasin, seorang mantan pejabat dari Sidoarjo yang dipercaya pemerintah untuk menemani sang investor.
Masa Puncak Kejayaan dan Nuansa "Sepetak Eropa" Kawasan Glenmore berkembang pesat pada periode 1920-1928. Saking majunya kawasan ini kala itu, di tahun 1920 dibangun pabrik pengolahan hasil perkebunan oleh firma asal Surabaya (Firma Carl Schlieper) dengan mesin-mesin yang didatangkan langsung dari Inggris.
Selain itu, demi mempermudah ekspor ke Eropa, dibangun jalur kereta api dan dua stasiun, yaitu Stasiun Krikilan dan Stasiun Kempit.
Di sisi lain, fasilitas kesehatan turut dibangun. Saat itu, himpunan pengusaha perkebunan Eropa membangun Klinik Krikilan pada tahun 1911 untuk menjamin kesehatan para buruh dan warga Eropa di sana.
Pesatnya perkembangan ini menarik banyak warga Eropa untuk bermigrasi dan menetap di Glenmore. Mereka membangun pemukiman khusus di daerah yang sekarang dikenal sebagai Sepanjang.
Di sana, gaya hidup Eropa sangat kental dengan tersedianya fasilitas mewah pada masanya, seperti lapangan tenis, hotel, dan sekolah khusus Eropa (ELS). Hal inilah yang membuat Glenmore sering dijuluki sebagai "Sepetak Eropa di Tanah Jawa".
Selain itu, nama “Glenmore” juga masih digunakan untuk nama sebuah stasiun, yakni Stasiun Glenmmore. Stasiun Glenmore juga sudah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Unit Pusat Pelestarian dan Desain Arsitektur PT Kereta Api Indonesia (Persero).
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


