Di tengah banjir informasi yang tidak pernah berhenti, kebiasaan menggulir layar tanpa sadar membuat banyak orang menghabiskan waktu berjam-jam di ruang digital.
Generasi muda menghabiskan banyak waktu untuk mengakses informasi melalui media sosial dan platform digital.
Pada pukul 23.00 malam, seorang mahasiswa berniat tidur setelah menyelesaikan tugas kuliah. Sebelum memejamkan mata, ia membuka media sosial selama beberapa menit untuk melihat kabar terbaru.
Awalnya hanya satu unggahan. Kemudian muncul video lain, berita yang sedang viral, komentar pengguna, hingga rekomendasi konten berikutnya. Tanpa disadari, waktu terus berjalan. Ketika layar ponsel akhirnya dimatikan, jam sudah menunjukkan lewat tengah malam.
Situasi seperti ini mungkin pernah dialami banyak orang. Keinginan untuk sekadar melihat informasi terbaru sering kali berubah menjadi kebiasaan menggulir layar tanpa henti. Fenomena tersebut dikenal sebagai doomscrolling.
Doomscrolling adalah kebiasaan mengonsumsi informasi secara terus-menerus melalui internet, terutama informasi yang memicu rasa khawatir, penasaran, atau ketertarikan yang sulit dihentikan.
Istilah ini semakin sering digunakan untuk menggambarkan perilaku masyarakat digital yang terus mencari pembaruan informasi meskipun sebenarnya sudah merasa lelah.
Fenomena ini berkembang seiring meningkatnya penggunaan internet dan media sosial. Berdasarkan laporan Digital 2025 Indonesia dari DataReportal, masyarakat Indonesia menghabiskan lebih dari tiga jam setiap hari menggunakan media sosial. Tingginya intensitas penggunaan tersebut membuat banyak orang semakin mudah terpapar arus informasi yang berlangsung selama 24 jam tanpa jeda.
Doomscrolling adalah kebiasaan mengonsumsi informasi secara terus-menerus melalui internet, terutama informasi yang memicu rasa khawatir, penasaran, atau ketertarikan yang sulit dihentikan. Istilah ini semakin sering digunakan untuk menggambarkan perilaku masyarakat digital yang terus mencari pembaruan informasi meskipun sebenarnya sudah merasa lelah.
Fenomena ini berkembang seiring meningkatnya penggunaan internet dan media sosial. Berdasarkan laporan Digital 2025 Indonesia dari DataReportal, masyarakat Indonesia menghabiskan lebih dari tiga jam setiap hari menggunakan media sosial. Tingginya intensitas penggunaan tersebut membuat banyak orang semakin mudah terpapar arus informasi yang berlangsung selama 24 jam tanpa jeda.
Ketika Informasi Tidak Pernah Berakhir
Salah satu alasan mengapa doomscrolling begitu mudah terjadi adalah karena platform digital dirancang untuk membuat pengguna tetap bertahan lebih lama.
Setiap kali seseorang menonton video, membaca berita, atau memberikan tanda suka pada sebuah unggahan, sistem akan mempelajari perilaku tersebut. Informasi itu kemudian digunakan untuk menampilkan konten lain yang dianggap relevan.
Akibatnya, selalu ada sesuatu yang menarik untuk dilihat berikutnya.
Belum selesai membaca satu berita, muncul berita lain. Belum selesai menonton satu video, sistem sudah menyiapkan rekomendasi berikutnya. Ditambah dengan fitur infinite scrolling, pengguna dapat terus menggulir layar tanpa menemukan titik akhir yang jelas.
Notifikasi juga berperan besar dalam menjaga perhatian pengguna. Pemberitahuan mengenai unggahan terbaru, topik yang sedang ramai dibicarakan, atau aktivitas teman membuat seseorang merasa perlu terus memeriksa ponselnya.
Dalam kondisi tertentu, rasa penasaran tersebut membuat seseorang sulit berhenti meskipun sebenarnya tidak sedang mencari informasi yang penting.
Dampak Doomscrolling pada Kehidupan Sehari-hari
Sekilas, doomscrolling mungkin terlihat seperti kebiasaan yang tidak berbahaya. Namun, jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan ini dapat memengaruhi cara seseorang mengelola waktu dan perhatiannya.
Banyak orang membuka media sosial hanya beberapa menit, tetapi akhirnya menghabiskan waktu jauh lebih lama dari yang direncanakan. Akibatnya, waktu istirahat berkurang, pekerjaan tertunda, dan konsentrasi menjadi lebih sulit dijaga.
Selain itu, paparan informasi yang terus-menerus juga dapat membuat seseorang merasa kewalahan. Dalam satu hari, pengguna dapat menerima ratusan informasi mengenai tren baru, isu sosial, berita viral, hingga berbagai opini yang saling bertentangan.
Tidak mengherankan jika sebagian orang merasa lelah meskipun hanya menghabiskan waktu dengan melihat layar ponsel.
Fenomena ini juga banyak dialami oleh Generasi Z yang tumbuh bersama teknologi digital. Akses informasi yang begitu mudah membuat generasi muda memiliki kesempatan besar untuk belajar dan memperoleh wawasan baru. Namun di sisi lain, mereka juga menghadapi tantangan berupa arus informasi yang tidak pernah berhenti.
Ketika setiap informasi terasa penting untuk diketahui, muncul dorongan untuk terus mengikuti perkembangan terbaru. Padahal, tidak semua informasi memiliki dampak langsung terhadap kehidupan sehari-hari.
Belajar Berhenti di Tengah Arus Informasi
Perkembangan teknologi digital akan terus berlangsung. Informasi akan semakin cepat menyebar, dan platform digital akan semakin memahami kebiasaan penggunanya.
Karena itu, tantangan utama bukanlah menghindari internet, melainkan mengelola cara kita menggunakannya.
Membatasi waktu penggunaan media sosial, menonaktifkan notifikasi yang tidak penting, serta menentukan waktu khusus untuk mengakses informasi dapat menjadi langkah sederhana untuk mengurangi kebiasaan doomscrolling.
Yang tidak kalah penting adalah menyadari bahwa tidak semua informasi harus diketahui saat itu juga. Kadang-kadang, berhenti sejenak dari arus informasi justru membantu seseorang lebih fokus pada aktivitas yang benar-benar penting.
Pada akhirnya, teknologi diciptakan untuk membantu manusia memperoleh informasi dan terhubung dengan dunia. Namun jika tidak digunakan secara bijak, teknologi juga dapat membuat kita terus sibuk mengikuti informasi tanpa pernah benar-benar memberi ruang untuk beristirahat.
Mungkin masalahnya bukan karena informasi yang tersedia terlalu banyak.
Mungkin masalahnya adalah karena kita terlalu sering merasa harus mengetahui semuanya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

