Pukul 22.00 malam. Setelah menyelesaikan tugas kuliah atau pekerjaan harian, seseorang membuka media sosial untuk bersantai sejenak. Namun dalam beberapa menit, layar ponselnya dipenuhi berbagai unggahan yang tampak mengesankan.
Ada teman yang baru diterima magang di perusahaan ternama. Ada yang membagikan sertifikat pelatihan, memenangkan kompetisi, atau merintis usaha di usia muda. Tidak sedikit pula yang mengunggah perjalanan ke luar kota, pengalaman menjadi pembicara seminar, hingga pencapaian akademik yang membanggakan.
Di tengah derasnya unggahan seperti itu, muncul pertanyaan yang mungkin pernah terlintas di benak banyak orang:
"Apakah aku sudah melakukan sesuatu yang cukup berarti?"
Fenomena tersebut semakin umum terjadi di era digital. Media sosial tidak hanya menjadi tempat berbagi aktivitas sehari-hari, tetapi juga ruang yang dipenuhi berbagai bentuk pencapaian. Akibatnya, banyak orang mulai membandingkan perjalanan hidupnya dengan kehidupan orang lain yang terlihat di layar.
Laporan Digital 2025 Indonesia dari DataReportal menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia menghabiskan lebih dari tiga jam setiap hari menggunakan media sosial. Dengan intensitas penggunaan yang tinggi, generasi muda menjadi kelompok yang paling sering terpapar berbagai standar kesuksesan yang muncul di ruang digital.
Tanpa disadari, kondisi ini dapat membentuk anggapan bahwa setiap orang harus selalu berkembang, selalu produktif, dan selalu memiliki pencapaian baru untuk ditunjukkan.
Ketika Pencapaian jadi Ukuran Nilai Diri
Pada dasarnya, memiliki tujuan dan berusaha mencapai sesuatu merupakan hal yang positif. Pencapaian dapat menjadi bentuk perkembangan diri sekaligus hasil dari proses yang telah dijalani. Namun, masalah muncul ketika pencapaian mulai dijadikan ukuran utama untuk menilai diri sendiri.
Di media sosial, seseorang dapat melihat puluhan bahkan ratusan cerita sukses hanya dalam beberapa menit. Karena yang ditampilkan umumnya adalah momen terbaik, pengguna sering kali lupa bahwa setiap orang memiliki latar belakang, kesempatan, dan perjalanan hidup yang berbeda.
Akibatnya, muncul perbandingan yang tidak selalu adil. Seseorang yang sedang berjuang menyelesaikan kuliah mungkin merasa tertinggal karena melihat teman seusianya sudah bekerja. Di sisi lain, orang yang baru memulai karier bisa merasa kurang berhasil ketika melihat teman lain yang telah memiliki usaha sendiri.
Padahal, kehidupan tidak berjalan dalam garis waktu yang sama bagi setiap orang. Apa yang tampak sebagai kesuksesan di media sosial sering kali hanya menunjukkan hasil akhirnya. Proses panjang, kegagalan, tekanan, dan tantangan yang menyertainya jarang terlihat oleh publik.
Tekanan Sosial yang Datang secara Halus
Banyak generasi muda sebenarnya tidak secara langsung dipaksa untuk menjadi sukses. Namun, tekanan tersebut sering hadir dalam bentuk yang lebih halus.
Ketika hampir setiap hari melihat unggahan tentang prestasi, produktivitas, dan pencapaian, seseorang dapat merasa bahwa dirinya harus terus bergerak agar tidak tertinggal.
Fenomena ini membuat sebagian orang sulit merasa puas terhadap apa yang telah dimiliki atau dicapai. Setelah mencapai satu target, muncul target lain yang dianggap lebih penting. Setelah memperoleh satu keberhasilan, perhatian segera beralih kepada keberhasilan orang lain yang tampak lebih besar. Akibatnya, rasa syukur sering kali tergeser oleh keinginan untuk terus mengejar standar baru.
Dalam berbagai kajian mengenai perilaku pengguna media sosial, para peneliti menemukan bahwa paparan terhadap pencapaian orang lain secara terus-menerus dapat meningkatkan kecenderungan seseorang untuk melakukan perbandingan sosial.
Ketika perbandingan tersebut berlangsung terlalu sering, kepercayaan diri dan kepuasan terhadap diri sendiri dapat ikut terpengaruh.
Di sinilah media sosial tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga ruang yang membentuk cara seseorang memandang keberhasilan.
Tidak Semua Orang Harus jadi Luar Biasa
Salah satu tantangan terbesar di era digital adalah menerima bahwa kehidupan tidak selalu harus terlihat mengesankan.
Tidak semua orang harus menjadi pemilik bisnis di usia muda. Tidak semua orang harus memiliki pencapaian yang viral. Tidak semua orang harus bergerak dengan kecepatan yang sama.
Bagi sebagian orang, keberhasilan mungkin berarti mendapatkan pekerjaan impian. Bagi yang lain, keberhasilan bisa berarti menyelesaikan pendidikan, membantu keluarga, atau menjaga kesehatan mental di tengah berbagai tekanan hidup. Setiap orang memiliki definisi sukses yang berbeda.
Karena itu, membandingkan perjalanan hidup dengan standar yang dibentuk media sosial sering kali hanya akan membuat seseorang merasa kurang, meskipun sebenarnya sudah berkembang jauh dari titik awalnya.
Menemukan Makna di Luar Validasi Digital
Media sosial akan terus menjadi bagian dari kehidupan modern. Berbagai cerita tentang kesuksesan dan pencapaian akan terus muncul setiap hari.
Namun, penting untuk mengingat bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh jumlah pencapaian yang diunggah ke internet.
Tidak semua proses harus dibagikan. Tidak semua keberhasilan harus diumumkan. Dan tidak semua hal berharga dapat diukur melalui pengakuan di media sosial.
Pada akhirnya, hidup bukan perlombaan untuk terlihat paling sukses di hadapan orang lain.
Mungkin masalahnya bukan karena kita kurang berprestasi.
Mungkin masalahnya adalah karena kita terlalu sering melihat kehidupan orang lain sebagai ukuran keberhasilan diri sendiri.
Di tengah dunia digital yang terus mendorong kita untuk tampil luar biasa, kemampuan untuk menerima proses hidup sendiri mungkin menjadi salah satu bentuk keberanian yang paling penting hari ini.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

