mengapa kita sulit lepas dari ponsel saat bersama orang lain - News | Good News From Indonesia 2026

Mengapa Kita Sulit Lepas dari Ponsel saat Bersama Orang Lain?

Mengapa Kita Sulit Lepas dari Ponsel saat Bersama Orang Lain?
images info

Foto oleh tommao wang di Unsplash


Seseorang sedang berbincang dengan temannya, tetapi perhatian mereka justru tertuju pada layar ponsel Pernahkah Kawan berkumpul bersama teman atau keluarga, tetapi sebagian besar waktu justru dihabiskan dengan melihat layar ponsel?

Suasana seperti ini semakin mudah ditemukan di berbagai tempat. Saat berada di kafe, ruang tunggu, bahkan meja makan keluarga, banyak orang hadir secara fisik, tetapi tidak sepenuhnya terlibat dalam percakapan yang sedang berlangsung. Perhatian mereka sering kali terbagi antara orang yang ada di depan mata dan berbagai informasi yang muncul di layar ponsel.

Fenomena tersebut dikenal sebagai phubbing, istilah yang berasal dari gabungan kata phone dan snubbing. Phubbing menggambarkan perilaku seseorang yang mengabaikan orang lain karena lebih fokus pada ponselnya.

Sekilas, kebiasaan ini mungkin terlihat sepele. Namun, dalam jangka panjang, phubbing dapat memengaruhi kualitas komunikasi dan hubungan sosial yang dibangun dalam kehidupan sehari-hari.

Laporan Digital 2025 Indonesia dari DataReportal menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia menghabiskan lebih dari tiga jam per hari menggunakan media sosial.

Tingginya intensitas penggunaan perangkat digital membuat ponsel tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga bagian yang hampir tidak terpisahkan dari aktivitas sehari-hari. Di sinilah phubbing mulai menjadi fenomena sosial yang semakin sering terjadi.

baca juga

Ketika Ponsel jadi Pusat Perhatian

Perkembangan teknologi menghadirkan banyak kemudahan. Informasi dapat diperoleh dalam hitungan detik, komunikasi menjadi lebih cepat, dan berbagai aktivitas dapat dilakukan melalui satu perangkat.

Namun, kemudahan tersebut juga membawa konsekuensi baru.

Setiap hari, pengguna menerima berbagai notifikasi dari aplikasi pesan, media sosial, berita, hingga platform hiburan. Akibatnya, perhatian seseorang mudah teralihkan bahkan ketika sedang berbicara dengan orang lain.

Tidak jarang seseorang membuka ponsel hanya untuk memeriksa satu pesan. Namun, beberapa menit kemudian, ia sudah berpindah ke media sosial, melihat video pendek, atau membaca berbagai informasi lain yang muncul di beranda.

Tanpa disadari, interaksi yang sedang berlangsung menjadi terganggu. Kondisi ini menunjukkan bahwa ponsel tidak lagi sekadar alat bantu komunikasi. Dalam banyak situasi, perangkat tersebut justru menjadi pusat perhatian yang bersaing dengan interaksi sosial di dunia nyata.

Dampaknya terhadap Hubungan Sosial

Phubbing tidak selalu menimbulkan konflik secara langsung. Namun, kebiasaan ini dapat memengaruhi kualitas hubungan antarindividu.

Bayangkan ketika seseorang sedang bercerita tentang pengalaman penting yang dialaminya, tetapi lawan bicara justru lebih sering melihat layar ponsel. Meskipun tetap berada di tempat yang sama, perhatian yang terpecah dapat membuat seseorang merasa kurang dihargai atau kurang didengarkan.

Dalam berbagai penelitian mengenai komunikasi interpersonal, perhatian penuh menjadi salah satu unsur penting dalam membangun hubungan yang sehat. Ketika perhatian tersebut terganggu secara terus-menerus, kualitas komunikasi juga dapat menurun.

Akibatnya, percakapan menjadi lebih dangkal, hubungan terasa kurang dekat, dan interaksi sosial kehilangan makna yang seharusnya terbentuk melalui kehadiran secara utuh.

Bagi generasi muda yang tumbuh bersama teknologi digital, tantangan ini menjadi semakin relevan. Kehadiran fisik tidak selalu berarti kehadiran emosional jika perhatian lebih banyak diberikan kepada layar dibandingkan kepada orang yang sedang diajak berbicara.

baca juga

Menemukan Keseimbangan di Era Digital

Ponsel bukanlah penyebab utama masalah dalam hubungan sosial. Perangkat tersebut tetap memiliki banyak manfaat dan membantu manusia dalam berbagai aspek kehidupan.

Yang menjadi tantangan adalah bagaimana menggunakannya secara lebih sadar.

Langkah sederhana seperti menyimpan ponsel saat sedang makan bersama keluarga, mengurangi kebiasaan memeriksa notifikasi ketika berbincang, atau memberikan perhatian penuh kepada lawan bicara dapat membantu menciptakan interaksi yang lebih bermakna.

Di tengah dunia yang semakin terhubung secara digital, kemampuan untuk hadir sepenuhnya dalam percakapan mungkin menjadi sesuatu yang semakin berharga.

Pada akhirnya, teknologi seharusnya membantu manusia untuk terhubung, bukan justru menciptakan jarak di antara mereka. Mungkin masalahnya bukan karena kita terlalu sering menggunakan ponsel. Mungkin masalahnya adalah karena kita mulai lupa memberikan perhatian kepada orang-orang yang sebenarnya sedang berada tepat di depan kita.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

IS
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.