75 tahun hari bidan nasional dari 16 ribu menjadi ratusan ribu penjaga kesehatan ibu dan anak - News | Good News From Indonesia 2026

75 Tahun Hari Bidan Nasional: Dari 16 Ribu Menjadi Ratusan Ribu Penjaga Kesehatan Ibu dan Anak

75 Tahun Hari Bidan Nasional: Dari 16 Ribu Menjadi Ratusan Ribu Penjaga Kesehatan Ibu dan Anak
images info

Free to use under the Unsplash License by National Cancer Institute


Kawan GNFI, hari ini, 24 Juni 2026, Indonesia memperingati Hari Bidan Nasional yang ke-75. Sebuah angka yang istimewa, karena menandai tiga perempat abad perjalanan panjang para perempuan yang telah menjadi garda terdepan kesehatan ibu dan anak di seluruh penjuru negeri, sejak era awal kemerdekaan hingga Indonesia modern hari ini.

Bermula dari Konferensi Bidan Pertama di Jakarta

Penetapan 24 Juni sebagai Hari Bidan Nasional berakar dari sebuah momentum bersejarah pada 1951. Konferensi bidan pertama yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal tersebut merupakan prakarsa para bidan senior yang berdomisili di ibu kota, dengan tujuan meletakkan landasan yang kuat serta arah yang benar bagi perjuangan profesi bidan selanjutnya.

Hasil terpenting dari konferensi tersebut adalah kesepakatan untuk mendirikan sebuah organisasi profesi bernama Ikatan Bidan Indonesia (IBI), berbentuk kesatuan, bersifat nasional, dan berazaskan Pancasila serta Undang-Undang Dasar 1945. Para pemrakarsa konferensi ini tercatat sebagai sosok-sosok pejuang awal, di antaranya Ibu Selo Soemardjan, Ibu Fatimah, Ibu Sri Mulyani, Ibu Salikun, Ibu Sukaesih, Ibu Ipah, dan Ibu S. Margua, yang kemudian memproklamirkan IBI sebagai satu-satunya organisasi resmi bagi para bidan Indonesia.

Tiga tahun setelah konferensi, tepatnya pada 15 Oktober 1954, IBI diakui sah sebagai organisasi berbadan hukum dan terdaftar dalam Lembaran Negara oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Pada 1956, IBI semakin memperluas jejaringnya dengan diterima sebagai anggota International Confederation of Midwives (ICM), organisasi bidan tingkat dunia.

baca juga

Pertumbuhan yang Luar Biasa dalam Tiga Dekade

Kawan GNFI, salah satu hal paling menarik dari perjalanan IBI adalah lonjakan jumlah anggotanya yang sangat signifikan, terutama setelah pemerintah meluncurkan kebijakan Crash Program Pendidikan Bidan dalam kurun waktu Pelita IV hingga Pelita VI pada periode 1989 hingga 1997.

Data resmi dari IBI Pusat menunjukkan pertumbuhan yang mengesankan: jumlah anggota tercatat sebanyak 16.413 orang pada 1988, kemudian melonjak menjadi 46.114 orang pada 1994, terus bertambah menjadi 66.547 orang pada 1998, lalu mencapai 141.148 orang pada 2013, hingga akhirnya menembus 304.732 orang pada September 2018.

Pertumbuhan jumlah anggota ini juga diiringi oleh perluasan struktur organisasi di seluruh penjuru Indonesia. Hingga 2018, IBI telah memiliki 34 Pengurus Daerah, 509 Pengurus Cabang di tingkat kabupaten/kota, dan 3.728 Pengurus Ranting di tingkat kecamatan, unit pendidikan, maupun unit pelayanan kesehatan.

Peran Strategis Bidan dalam Kebijakan Kesehatan Nasional Terkini

Kawan, peran bidan ternyata bukan sekadar catatan sejarah masa lalu, melainkan tetap menjadi tulang punggung strategi kesehatan nasional hingga hari ini. Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan RI Semester I Tahun 2025 secara eksplisit menempatkan bidan sebagai elemen kunci dalam strategi nasional menekan Angka Kematian Ibu.

Salah satu kebijakan utama yang ditetapkan dalam laporan tersebut adalah persyaratan persalinan di fasilitas kesehatan harus didampingi oleh tim minimal dua orang, yang terdiri dari kombinasi dokter dan bidan, dua orang bidan, atau bidan bersama perawat. Kebijakan ini menegaskan bahwa bidan bukan sekadar pelengkap, melainkan tenaga kesehatan inti yang keberadaannya menjadi syarat wajib dalam standar pelayanan persalinan yang aman di Indonesia.

Upaya percepatan penurunan Angka Kematian Ibu ini juga didukung berbagai langkah lintas sektor lainnya, mulai dari penyediaan USG di setiap Puskesmas untuk pemeriksaan kehamilan, pemberian tablet tambah darah bagi remaja putri, hingga kerja sama lintas kementerian dalam konsultasi kesehatan bagi calon pengantin, yang seluruhnya melibatkan peran aktif bidan di garis depan pelayanan.

Lebih dari Sekadar Penolong Persalinan

Istilah "bidan" sendiri menyimpan makna mendalam. Berdasarkan penjelasan dari Badan Pengembangan dan Pemberdayaan SDM Kesehatan Kementerian Kesehatan, kata "bidan" diduga berasal dari kata "Widwan" dalam bahasa Sanskerta yang berarti "cakap". Sementara dalam bahasa Inggris, istilah "midwife" yang berarti "with woman", menggambarkan esensi profesi ini sebagai pendamping setia perempuan sepanjang proses kehamilan hingga persalinan.

Tugas seorang bidan jauh melampaui sekadar membantu proses kelahiran. Mereka adalah pendamping selama masa kehamilan, penyedia layanan keluarga berencana, edukator kesehatan reproduksi, hingga mitra perempuan dalam mendeteksi dini berbagai komplikasi kesehatan ibu dan anak. Bidan dapat berpraktik di berbagai tatanan pelayanan, mulai dari rumah, komunitas, rumah sakit, klinik, hingga unit kesehatan lainnya.

Garda Terdepan di Negeri Kepulauan

Tantangan geografis Indonesia menjadikan peran bidan semakin krusial. Sebagai negara kepulauan dengan ribuan pulau yang tersebar di wilayah seluas hampir dua juta kilometer persegi, serta terbagi dalam puluhan ribu desa dan kelurahan, pemerataan akses layanan kesehatan menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah Indonesia. Di sinilah kehadiran bidan di tingkat desa menjadi penentu utama, menjangkau wilayah-wilayah yang sulit dicapai oleh fasilitas kesehatan lanjutan maupun tenaga dokter spesialis.

baca juga

Momentum Refleksi di Usia ke-75

Kawan, di usianya yang ke-75 tahun ini, Hari Bidan Nasional menjadi momentum yang tepat untuk merefleksikan betapa besar peran para bidan dalam menjaga keberlangsungan generasi bangsa, dari satu generasi ke generasi berikutnya. Mereka adalah sosok yang pertama kali menyambut kehidupan baru, sering kali di tempat-tempat yang jauh dari hiruk pikuk kota, namun tetap menjalankan tugasnya dengan dedikasi penuh, sekaligus menjadi bagian integral dari kebijakan kesehatan nasional yang terus berjalan hingga hari ini.

Perjalanan panjang IBI selama 75 tahun, dari sekelompok kecil bidan senior yang berkumpul di Jakarta pada 1951 hingga menjadi organisasi profesi dengan ratusan ribu anggota yang tersebar di seluruh Indonesia, adalah bukti nyata bahwa komitmen menjaga kesehatan ibu dan anak bukanlah perjuangan sesaat, melainkan estafet yang terus diwariskan dari generasi ke generasi bidan Indonesia.

Selamat Hari Bidan Nasional, Kawan GNFI. Mari kita beri apresiasi setinggi-tingginya kepada para bidan yang telah, sedang, dan akan terus menjaga kesehatan ibu dan anak di seluruh pelosok negeri.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

WH
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.