mengapa generasi z takut ketinggalan tren cara media sosial membentuk fomo - News | Good News From Indonesia 2026

Mengapa Generasi Z Takut Ketinggalan Tren? Cara Media Sosial Membentuk FOMO

Mengapa Generasi Z Takut Ketinggalan Tren? Cara Media Sosial Membentuk FOMO
images info

Foto : Freepik


Di balik algoritma, notifikasi, dan budaya perbandingan sosial, media sosial diam-diam membentuk rasa takut tertinggal yang semakin akrab di kalangan Generasi Z.

Pukul 07.00 pagi, di sebuah kamar kos yang masih sunyi, notifikasi ponsel menjadi suara pertama yang terdengar hari itu. Sebelum benar-benar bangun, seorang mahasiswa sudah membuka layar dan masuk ke dunia yang tidak pernah benar-benar berhenti bergerak.

Dalam hitungan menit, ia melihat begitu banyak hal sekaligus: teman yang magang, video TikTok viral, informasi konser baru, hingga cuplikan pertandingan Timnas Indonesia yang ramai dibicarakan sejak malam sebelumnya.

Semua hadir dalam satu layar kecil, bahkan sebelum hari benar-benar dimulai.

Fenomena ini semakin sering terjadi terjadi di kalangan Generasi Z. Platform digital tidak lagi hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi telah berubah menjadi ruang utama untuk mengikuti perkembangan dunia. Informasi bergerak cepat, tren datang silih berganti, dan setiap pembaruan terasa seperti sesuatu yang perlu segera diketahui.

Laporan Digital 2025 Indonesia dari DataReportal mencatat bahwa lebih dari 70 persen pengguna internet di Indonesia aktif menggunakan media sosial setiap hari, dengan rata-rata penggunaan lebih dari tiga jam per hari.. Angka ini menunjukkan bahwa media sosial telah menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari, terutama bagi generasi muda.

Di titik inilah muncul fenomena Fear of Missing Out (FOMO), yaitu perasaan takut tertinggal informasi, pengalaman, atau tren yang sedang terjadi di sekitar.

baca juga

Bagaimana Sistem Media Sosial Membentuk FOMO

FOMO tidak hanya lahir dari kebiasaan individu, tetapi juga dibentuk oleh sistem media sosial yang bekerja secara halus di balik layar.

Setiap kali seseorang menonton video, menyukai unggahan, atau mencari suatu topik, sistem akan mempelajari pola tersebut. Data itu kemudian digunakan untuk menyajikan konten yang dianggap paling relevan dengan minat pengguna. Akibatnya, linimasa menjadi sangat personal, tetapi sekaligus tidak pernah benar-benar berhenti.

Sebelum selesai menikmati satu konten, sudah muncul konten lain. Belum selesai membaca satu unggahan, beranda kembali diperbarui dengan informasi baru. Disertai dengan notifikasi yang terus bermunculan, pengguna didorong untuk selalu kembali membuka aplikasi.

Kondisi ini membuat batas antara “cukup” dan “lanjut” menjadi semakin kabur.

Selain itu, indikator seperti jumlah like, views, dan share turut membentuk persepsi baru tentang apa yang dianggap penting. Konten dengan angka tinggi cenderung dianggap lebih layak diperhatikan, meskipun belum tentu paling relevan secara pribadi.

Dalam kajian mengenai perilaku digital Generasi Z, Imaddudin (2020), peneliti di bidang komunikasi, menjelaskan bahwa FOMO memiliki hubungan erat dengan konsep diri seseorang. Semakin sering seseorang membandingkan dirinya dengan orang lain di ruang digital, semakin besar kemungkinan muncul perasaan tidak puas terhadap dirinya sendiri.

Ketika Tren Menjadi Tekanan Sosial

Dalam kehidupan sehari-hari, FOMO sering muncul dari hal-hal yang tampak sederhana.

Ketika sebuah konser besar diumumkan, linimasa media sosial langsung dipenuhi berbagai informasi: jadwal penjualan tiket, strategi “war ticket”, hingga unggahan orang-orang yang berhasil mendapatkannya. Sebagian yang ikut berburu tiket bukan karena menjadi penggemar utama, tetapi karena tidak ingin merasa tertinggal dari lingkungan sosialnya.

Fenomena serupa terjadi pada makanan viral, tempat wisata populer, hingga tren TikTok yang berubah sangat cepat. Keinginan untuk ikut serta sering kali bukan didorong oleh kebutuhan, melainkan oleh dorongan sosial: rasa takut tertinggal dari percakapan yang sedang berlangsung.

Dalam kajian mereka tentang perilaku Generasi Z di ruang digital, Kamaly dkk. (2025), peneliti di bidang komunikasi dan media sosial, menemukan bahwa media sosial telah menjadi ruang utama bagi generasi muda dalam memperoleh informasi dan mengikuti dinamika sosial. Namun di saat yang sama, ruang ini juga mempercepat siklus tren, sehingga pengguna semakin terdorong untuk terus mengikuti arus yang bergerak cepat.

Akibatnya, ketertinggalan tidak lagi hanya soal informasi, tetapi juga soal keterhubungan sosial.

FOMO dalam Rutinitas Generasi Z

Dalam level yang lebih personal, FOMO sering hadir di sela aktivitas harian.

Saat sedang mengerjakan tugas, notifikasi muncul. Sekadar ingin mengecek, tetapi sering berlanjut lebih lama dari yang direncanakan. Atau ketika membuka media sosial, muncul unggahan teman yang sedang magang, mengikuti seminar, memenangkan lomba, atau melakukan perjalanan ke tempat baru.

Dalam hitungan detik, muncul perbandingan yang tidak disadari.

“Kenapa hidupku belum sampai di titik itu?”

Padahal, media sosial hanya menampilkan bagian terbaik dari kehidupan seseorang. Proses panjang, kegagalan, dan tantangan di baliknya sering kali tidak terlihat.

Dalam konteks ini, penelitian yang dilakukan oleh Imaddudin, seorang peneliti kajian komunikasi digital pada tahun 2020, menunjukkan bahwa FOMO berkaitan erat dengan konsep diri seseorang. Semakin sering seseorang membandingkan kehidupannya dengan orang lain di media sosial, semakin besar kemungkinan muncul perasaan tidak puas terhadap dirinya sendiri.

baca juga

Mengelola FOMO di Era Digital

Media sosial akan terus berkembang dan menjadi bagian dari kehidupan modern. Karena itu, tantangan utama bukanlah menghindari media sosial, melainkan memahami cara kerjanya.

Membatasi waktu penggunaan, mengatur notifikasi, dan memberi jeda dari layar dapat menjadi langkah sederhana untuk mengurangi FOMO. Namun, yang lebih penting adalah kesadaran bahwa tidak semua tren harus diikuti, dan tidak semua pencapaian orang lain perlu dijadikan ukuran keberhasilan diri sendiri.

Pada akhirnya, media sosial seharusnya menjadi alat yang membantu manusia untuk terhubung dan memperoleh informasi, bukan ruang yang membuat seseorang terus merasa tertinggal.

Mungkin masalahnya bukan karena kita terlalu sering membuka media sosial.

Mungkin justru karena kita terlalu sering mengukur hidup sendiri dari potongan kehidupan orang lain yang tidak utuh.

Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan untuk berhenti sejenak, menjaga jarak, dan kembali fokus pada perjalanan diri sendiri menjadi semakin penting bagi Generasi Z hari ini.

Bukan untuk tertinggal dari dunia, tetapi agar tidak kehilangan diri sendiri di dalamnya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

IS
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.