Kalau mendengar tentang Program Makan Bergizi Gratis atau yang lebih dikenal dengan “MBG” kebanyakan orang langsung membayangkan makanan yang dibagikan kepada siswa di sekolah secara gratis. Reaksi tersebut sangat wajar, karena yang paling dicondongkan dari Program ini memang tentang soal gizi anak-anak.
Namun sebagai mahasiswa agribisnis, saya melihat MBG tidak hanya berhenti di urusan isi piring saja. Kawan GNFI perlu tau, ada rantai yang sangat panjang di balik satu porsi makan bergizi gratis. Ada beras dari petani, telur dari peternak, ikan dari nelayan, sayur dari kebun, semuanya bergerak melalui pedagang, pemasok, sampai akhirnya masuk ke dapur penyedia makanan.
Artinya, MBG sebenarnya bukan cuman program makanan bergizi gratis, tetapi juga program yang bisa memengaruhi rantai ekonomi pangan dari hulu hingga hilir.
Peluang Besar Untuk Pangan Lokal
Program ini tidak hanya bisa membantu memenuhi kebutuhan gizi peserta didik, tetapi juga bisa membuka peluang pasar bagi para petani, peternak, nelayan, koperasi, BUMDes, dan UMKM pangan lokal. Bukan cuman anak-anak yang menerima makanan bergizi, tetapi masyarakat yang terdampak juga bisa memakmurkan ekonominya.
Kalau kita melihat nilai anggarannya, MBG jelas bukan program kecil. Belanja pangan dalam program ini sangat besar, dan itu berarti ada perputaran uang yang juga sangat besar di sektor agribisnis. Dalam bayangan saya, kalau belanja bahan pangan ini benar-benar diserap dari daerah masing-masing, hasilnya bisa luar biasa.
Petani sayur bisa punya pasar yang lebih pasti, peternak ayam dan peternak telur tidak bingung mencari pembeli, nelayan punya penjualan hasil tangkap yang lebih stabil, dan UMKM pangan juga punya ruang untuk berkembang.
Petani Lokal Jangan Sampai Hanya Jadi Penonton
Masalahnya, peluang sebesar ini tidak selalu otomatis langsung dinikmati oleh petani lokal. Dalam program pangan berskala besar, yang biasanya lebih diuntungkan ada pemasok yang punya modal kuat, jaringan luas, dan akses yang lebih dekat dengan sistem pengadaan.
Sementara petani kecil seringkali belum punya kapasitas untuk memenuhi permintaan dalam jumlah besar dan rutin. bukan karena hasil mereka tidak bagus. Banyak petani lokal justru punya produk yang berkualitas. Hanya saja, ketika masuk ke dalam sistem pengadaan formal, mereka sering terbentur urusan administrasi, standar kualitas, transportasi, sampai sistem pembayaran.
Kebijakan Bagur Perlu Dikawal
Pemerintah melalui Badan Gizi Nasional sebenarnya sudah menekankan pentingnya penggunaan bahan pangan lokal. Ini langkah yang baik karena setiap daerah punya potensi pangan yang berbeda. Jadi, sudah semestinya menu MBG juga menyesuaikan kondisi wilayah, bukan hanya bergantung pada pasokan dari luar daerah.
Kebjikan yang bagus belum tentu selalu berjalan mulus. Aturan SPPG tidak boleh menolak pasokan dari UMKM, petani, peternak, dan nelayan kecil perlu diapresiasi, tetapi tanpa pengawasan dan pendampingan yang jelas, aturan itu bisa saja hanya menjadi formalitas.
MBG seharusnya tidak hanya berbicara soal siapa yang paling banyak memasok bahan pangan, tetapi yang lebih penting adalah siapa saja yang diberi kesempatan untuk ikut tumbuh dan membantu memberikan gizi untuk anak-anak. Jangan sampai petani lokal hanya menjadi pemasok bahan mentah dengan harga rendah, sementara keuntungan yang lebih besar dinikmati oleh pihak yang sudah memiliki kuasa yang kuat dari awal.
Saatnya MBG Menguatkan Ekonomi Daerah
Kawan GNFI, MBG akan jauh lebih bermakna kalu bisa menghubungkan dua hal sekaligus : yaitu gizi anak-anak dan kesejahteraan masyarakat pelaku pangan lokal. Makanan yang sampai ke siswa akan punya nilai lebih jika berasal dari petani, peternak, nelayan, dan pelaku usaha kecil di daerah mereka sendiri.
Maka dari itu, MBG tidak hanya dilihat sebagai program membagikan makanan secara gratis, tetapi juga sebagai kesempatan untuk menguatkan pangan lokal. Semoga pelaksanaan program ini benar-benar memberikan ruang bagi pelau kecil agar manfaatnya tidak hanya terasa di ruang kelas, tetapi juga sampai kesawah, kendang, tambak, dan dapur-dapur usaha kecil yang ada dierah masing-masing.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


