Di era serba digital, bahkan otomatisasi seperti saat ini, mudah bagi kita mendapatkan akses informasi. Kita terbiasa terhubung dengan orang lain secara daring, bahkan seringkali merasa aneh jika tidak menggunakan kanal seperti media sosial.
Bukan hanya itu, muncul istilah seperti FOMO (Fear of Missing Out), fenomena psikologis yang menjelaskan bahwa seseorang cenderung merasa cemas atau takut tertinggal, ketika melewatkan tren yang dibicarakan oleh orang lain.
Ragam situasi global yang terjadi belakangan ini juga diketahui berdampak pada kesejahteraan Gen Z dan Milenial.
Dikenal sebagai generasi cemas, sebenarnya apa saja tantangan yang dihadapi oleh dua generasi ini, Gen Z dan Milenial?
Berdasarkan data IDN Research Institute tentang bagaimana kejadian global berdampak pada kesejahteraan Gen Z dan milenial dalam ‘Indonesia Millenial and Gen Z Report 2025.’ Dalam laporan ini, diketahui sebanyak 55% responden menyatakan bahwa krisis global, masalah lingkungan, dan krisis ekonomi berpengaruh pada kesehatan mental mereka.
Adapun berbagai aspek yang berkontribusi di dalamnya meliputi ketidakstabilan ekonomi sebesar 55%. Selanjutnya, sebesar 44% faktor yang berkontribusi menyebabkan stres adalah ketidakpastian kondisi ekonomi belakangan ini. Kemudian diikuti oleh ketidakadilan sosial sebesar 31%.
Isu lingkungan seperti perubahan iklim juga berkontribusi sebesar 28% dalam menyebabkan stres bagi Gen Z dan Milenial.
Bukan hanya itu, sebesar 24% penyebab stres juga disebabkan oleh tuntutan pekerjaan.
Sementara sebanyak 22% responden mengatakan bahwa faktor yang ikut serta menyebabkan stres adalah sulitnya mencari kerja setelah pandemi covid-19.
Masih dalam pemaparan yang sama, Gen Z dan Milenial kerap kali menghadapi tekanan untuk mengejar kesempurnaan.
Bukan hanya faktor makro, ternyata ada tantangan lain yang perlu menjadi perhatian, terutama bagi Gen Z dan Milenial. Hal ini berkaitan dengan penggunaan media sosial. Ternyata, saluran informasi yang memungkinkan kita berinteraksi lewat dunia maya ini telah membawa tantangan mental tersendiri bagi kedua generasi tersebut. Hal ini mulai berdampak pada cara mereka memandang diri sendiri.
Ketidakpastian ekonomi, krisis global, hingga budaya validasi di media sosial saling berkelindan membentuk sumber stres baru yang belum pernah dihadapi generasi sebelumnya dalam skala yang sama.
Tercatat, Sebanyak 55% Gen Z dan disusul sebanyak 65% Milenial mengakui bahwa standar yang ditampilkan pada media sosial seringkali menghancurkan harga diri dan kesehatan mental mereka.
Budaya di membandingkan diri lewat kanal seperti media sosial ternyata memberikan dampak yang signifikan bagi Gen Z dan Milenial.
Data dalam laporan tersebut melaporkan bahwa sebanyak 70% Gen Z kerap kali membandingkan hidupnya dengan orang lain secara daring, hal ini bahkan memperburuk perasaan cemas dan depresi.
Milenial pun diketahui tidak ketinggalan di belakangnya, sebanyak 58% responden dari kalangan Milenial mengakui perilaku serupa.
Terlepas dari kesadaran diri akan bahaya dan dampak membandingkan diri sendiri, ternyata diketahui sebanyak 42% Milenial dan 30% Gen Z kesulitan melepaskan diri dari hal tersebut.
Sebenarnya apa saja risiko yang muncul jika kita mulai mencari validasi dari luar, seperti validasi yang berasal dari media sosial?
Sebanyak 52% Gen Z dan disusul 68% Milenial mengakui bahwa mereka bergantug pada validasi dari engagement media sosial, seperti jumlah like, comments yang memengaruhi harga diri mereka.
Keterikatan ini juga dapat ditinjau dari besarnya angka ketergantungan Gen Z dan Milenial dalam mencari validasi lewat media sosial.
Diketahui sebanyak 68% Gen Z melaporkan ketergantungan pada validasi lewat media sosial.
Perbadingan ini memperlihatkan dampak luas dari media sosial terhadap harga diri dan bagaimana tantangan kedua generasi ini dalam menjaga hubungan baik terhadap umpan balik yang mereka terima secara daring.
Di sisi lainnya, media sosial juga memunculkan fenomena baru yang sering dikenal dengan nama doomscrolling.
Hal ini merujuk pada kebiasaan menggulir (scrolling) layar gawai tanpa henti untuk membaca konten negatif di media sosial.
Sebanyak 72% Gen Z dilaporkan mengalami kelelahan oleh paparan tayangan negatif. Sementara Milenial berada di persentase sebesar 60%.
Bukan hanya itu, 40% Milenial juga bahkan mengakui bahwa mereka merasa kesulitan melepaskan diri dari konten di media sosial. Sementara Gen Z sebesar 28%.
Di tengah cepatnya laju informasi serta tuntutan untuk selalu terlihat berhasil, kemampuan diri untuk membangun batas yang sehat dalam menggunakan media sosial tampaknya menjadi hal penting bagi generasi saat ini, terutama Gen Z dan Milenial.
Sebab, meski media sosial menjadi wadah untuk tetap terhubung dengan orang lain, ternyata ruang digital yang satu ini juga bisa menjadi sumber tekanan ketika nilai diri kita mulai ditentukan dari perbandingan dan validari dari orang lain.
Bagaimana menurut kawan GNFI?
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


