kita sering mengingat majapahit padahal kutai pernah mengajarkan cara bertahan berabad abad - News | Good News From Indonesia 2026

Kita Sering Mengingat Majapahit, Padahal Kutai Pernah Mengajarkan Cara Bertahan Berabad-abad

Kita Sering Mengingat Majapahit, Padahal Kutai Pernah Mengajarkan Cara Bertahan Berabad-abad
images info

Kita Sering Mengingat Majapahit, Padahal Kutai Pernah Mengajarkan Cara Bertahan Berabad-abad | Foto: Unsplash


Tidak semua kejayaan lahir dari denting pedang dan perluasan wilayah. Ada pula yang tumbuh diam-diam di tepian sungai, diwariskan lewat adat, ingatan, dan kemampuan beradaptasi.

Ketika berbicara tentang kerajaan besar di Nusantara, banyak dari kita akan menyebut Majapahit, Sriwijaya, atau Mataram. Nama-nama itu seperti sudah akrab sejak bangku sekolah. Namun, jauh di tepian Sungai Mahakam, Kalimantan Timur, ada sebuah kesultanan yang kisahnya tak kalah seru untuk ditelusuri.

Namanya Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

Kesultanan ini bukan sekadar catatan sejarah yang tersimpan di balik kaca museum. Ia adalah cerita tentang bagaimana sebuah kerajaan mampu bertahan melewati pergantian zaman: dari masa kerajaan Hindu, datangnya Islam, kolonialisme Belanda, pendudukan Jepang, hingga akhirnya menjadi bagian dari Republik Indonesia. Dan mungkin, justru di situlah letak kejayaannya yang sesungguhnya.

Bermula dari Tepian Mahakam

Sungai Mahakam bukan hanya aliran air yang membelah Kalimantan Timur. Bagi masyarakat Kutai, sungai ini adalah nadi kehidupan.

Jauh sebelum jalan raya dibangun, Mahakam menjadi jalur perdagangan, komunikasi, sekaligus perekat hubungan antarkampung. Di sepanjang tepian sungai inilah Kerajaan Kutai Kartanegara tumbuh sekitar abad ke-13.

Banyak sejarawan membedakan antara Kerajaan Kutai Martadipura—yang dikenal melalui Prasasti Yupa sebagai kerajaan Hindu tertua di Nusantara—dengan Kutai Kartanegara yang muncul kemudian. Keduanya memiliki perjalanan sejarah berbeda.

Namun dalam perkembangannya, Kutai Kartanegara berhasil menyatukan warisan tersebut hingga dikenal sebagai Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Sebuah nama panjang yang menyimpan cerita panjang pula.

Ketika Diplomasi jadi Kekuatan

Kita sering menganggap kejayaan kerajaan hanya diukur dari banyaknya wilayah taklukan. Padahal, Kutai menunjukkan cara lain untuk bertahan.

Alih-alih hanya mengandalkan kekuatan militer, Kesultanan Kutai membangun hubungan dagang dan diplomasi dengan berbagai pihak. Letaknya yang strategis membuat wilayah ini menjadi persinggahan penting bagi para pedagang dari luar Nusantara.

Komoditas seperti hasil hutan, rotan, damar, sarang burung walet, hingga berbagai hasil bumi menjadi penggerak ekonomi kerajaan. Hubungan dengan kerajaan lain pun terjalin.

Ketika Islam mulai berkembang di Nusantara, Kutai tidak menolaknya. Kesultanan justru beradaptasi dengan perubahan tersebut. Proses Islamisasi berlangsung bertahap hingga gelar pemimpin berubah menjadi sultan.

Kemampuan beradaptasi inilah yang membuat Kutai tetap berdiri ketika banyak kerajaan lain mulai runtuh diterpa perubahan zaman.

baca juga

Era Sultan Aji Muhammad Parikesit: Babak Modernisasi

Salah satu tokoh penting dalam sejarah Kesultanan Kutai adalah Sultan Aji Muhammad Parikesit. Di bawah kepemimpinannya, kesultanan memasuki babak modernisasi.

Dilansir dari ANTARA, istana baru dibangun dengan megah menggunakan perpaduan arsitektur Eropa klasik dan sentuhan lokal Kutai. Bangunan itu berdiri kokoh di Tenggarong dan menjadi simbol kemajuan pada masanya.

Menurut Museum Mulawarman, pembangunan istana dimulai pada 1936 untuk menggantikan istana lama berbahan kayu. Proses pembangunannya dipercayakan kepada perusahaan Belanda Hollandsche Beton Maatschappij (HBM) dengan rancangan arsitek Estourgie. Istana tersebut selesai pada 1937 dan menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

Yang menarik, modernisasi itu tidak membuat Kutai kehilangan jati dirinya. Tradisi tetap dijaga. Adat tetap dijalankan. Identitas lokal tidak ditukar dengan kemajuan. Justru keduanya berjalan berdampingan.

Erau: Festival yang Menolak Lupa

Kalau ada satu warisan Kutai yang masih bisa kita saksikan hingga hari ini, jawabannya adalah Erau. Festival adat ini telah berlangsung turun-temurun sejak masa kesultanan. Erau bukan sekadar pesta rakyat. Ia adalah ungkapan syukur, penghormatan terhadap leluhur, sekaligus cara masyarakat menjaga ingatan kolektif tentang siapa mereka sebenarnya.

Di tengah dunia yang bergerak serba cepat, Erau seolah berkata bahwa tradisi tidak harus kalah oleh modernitas. Generasi boleh berganti. Teknologi boleh berubah. Namun, akar budaya tetap bisa bertahan jika ada yang bersedia merawatnya.

Museum Mulawarman: Tempat Sejarah Bernapas

Hari ini, bekas istana kesultanan dikenal sebagai Museum Mulawarman. Gedung bercat putih itu berdiri anggun di Tenggarong, menyimpan berbagai peninggalan berharga: singgasana sultan, pakaian kebesaran, keris pusaka, perlengkapan upacara adat, hingga benda-benda yang menjadi saksi perjalanan panjang Kutai.

MuseumMulawarman menyebut bangunan tersebut pernah menjadi pusat pemerintahan dan adat Kesultanan Kutai sebelum akhirnya dialihfungsikan sebagai museum.

Bagi sebagian orang, museum mungkin hanya tempat menyimpan benda tua. Namun bagi Kutai, ANTARA menyebut museum adalah ruang di mana sejarah terus bernapas. Sebutan itu terasa tepat, sebab museum ini tidak hanya memajang artefak, tetapi juga mengajak pengunjung memahami perjalanan panjang Kesultanan Kutai melalui setiap benda yang dipamerkan.

baca juga

Tempat anak-anak belajar bahwa mereka berasal dari leluhur yang tidak sekadar "pernah ada", melainkan pernah membangun peradaban yang mampu bertahan selama berabad-abad.

Barangkali kita perlu mendefinisikan ulang arti kejayaan. Apakah kejayaan hanya tentang menaklukkan wilayah? Ataukah tentang kemampuan menjaga nilai-nilai di tengah perubahan?

Kesultanan Kutai Kartanegara mungkin tidak selalu muncul dalam percakapan populer tentang kerajaan besar Nusantara. Namun mereka meninggalkan pelajaran yang relevan hingga hari ini. Bahwa bertahan membutuhkan kemampuan beradaptasi. Bahwa identitas tidak harus dikorbankan demi kemajuan. Dan bahwa warisan budaya hanya akan hidup jika ada generasi yang memilih untuk mengenangnya.

Jangan Biarkan Kutai Menjadi Catatan Kaki

Mungkin mencintai Indonesia tidak selalu berarti melakukan hal-hal besar. Kadang, cukup dengan meluangkan waktu membaca kisah-kisah yang nyaris terlupakan. Mengunjungi museum. Menyaksikan festival adat. Atau sekadar menceritakan kembali sejarah kepada orang-orang terdekat.

Karena bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang bangga pada masa depannya. Namun, juga bangsa yang tahu kepada siapa ia berutang cerita.

Dan di tepian Sungai Mahakam itu, Kesultanan Kutai Kartanegara telah meninggalkan satu pesan penting: peradaban yang kuat bukanlah yang paling bising dikenang, melainkan yang tetap hidup di hati generasi setelahnya.

Jadi, jika suatu hari langkahmu sampai di Kalimantan Timur, jangan hanya mencari tempat untuk berfoto. Dengarkan ceritanya. Sebab mungkin, ada bagian dari Indonesia yang selama ini belum benar-benar kita kenal.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AM
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.