dari hutan hingga pesisir mereka adalah wajah kepedulian kalimantan timur - News | Good News From Indonesia 2026

Dari Hutan hingga Pesisir, Mereka adalah Wajah Kepedulian Kalimantan Timur

Dari Hutan hingga Pesisir, Mereka adalah Wajah Kepedulian Kalimantan Timur
images info

Dari Hutan hingga Pesisir, Mereka adalah Wajah Kepedulian Kalimantan Timur | Foto: Pexels


Pernahkah kita membayangkan bahwa pahlawan tidak selalu mengenakan seragam, berdiri di panggung megah, atau memiliki jutaan pengikut di media sosial?

Kadang, mereka justru berjalan menyusuri hutan dengan sepatu berlumpur. Ada yang memunguti sampah sungai saat orang lain masih terlelap. Ada pula yang mengetuk pintu rumah demi mengajak tetangga memilah sampah.

Mereka mungkin tidak muncul di layar televisi setiap hari. Namun tanpa disadari, langkah-langkah kecil mereka telah menjaga kehidupan banyak orang. Dan menariknya, sebagian kisah itu datang dari Kalimantan Timur.

Di tengah identitas Kaltim yang kerap dilekatkan dengan tambang, industri, dan pembangunan Ibu Kota Nusantara, ada wajah lain yang tak kalah mengagumkan: para local heroes yang memilih peduli kepada sesama dan lingkungan. Mereka membuktikan bahwa perubahan besar sering kali lahir dari kepedulian sederhana.

Yuliana Wetuq, Perempuan Dayak Penjaga Hutan Wehea

Tak banyak orang mengenal nama Yuliana Wetuq. Namun bagi masyarakat Dayak Wehea di Kutai Timur, sosok ini bukan sekadar aktivis lingkungan. Ia adalah penjaga rumah.

Yuliana berasal dari Desa Nehas Liah Bing, Kecamatan Muara Wahau. Sejak kecil, ia tumbuh bersama hutan. Baginya, pepohonan bukan sekadar sumber kayu, melainkan bagian dari identitas dan kehidupan masyarakat adat.

Menurut ANTARA Kaltim, Yuliana mulai aktif menjaga Hutan Lindung Wehea sejak 2008 bersama kelompok Petkuq Meheuy, pasukan penjaga hutan adat yang dibentuk masyarakat Dayak Wehea.

Di tengah ancaman kerusakan lingkungan, konsistensi menjaga kawasan hutan selama bertahun-tahun merupakan bentuk keberanian yang luar biasa. Sebagai informasi, Hutan Wehea sendiri dikenal sebagai salah satu habitat penting bagi berbagai satwa endemik Kalimantan, termasuk orangutan.

baca juga

Andika Yohantoro, Mengubah Sampah jadi Harapan

Kalau melihat tumpukan sampah, apa yang biasanya terlintas di pikiran kita?

Kotor.

Bau.

Menyebalkan.

Namun bagi Andika Yohantoro dari Kutai Timur, sampah justru menjadi pintu perubahan.

Menurut Kumparan, Andika memulai gerakannya karena prihatin melihat kebiasaan warga membuang sampah sembarangan di lingkungan tempat tinggalnya. Alih-alih mengeluh, ia bergerak.

Ia mengajak masyarakat memilah sampah dari rumah, membangun sistem bank sampah, hingga mengembangkan Composting Training Center (CTC) untuk mengolah limbah organik menjadi kompos.

Perjalanannya tentu tidak mudah. Mengubah kebiasaan masyarakat bukan pekerjaan semalam. Ada penolakan, ada keraguan, bahkan ada yang menganggap usahanya sia-sia.

Namun Andika tetap melangkah. Sedikit demi sedikit, warga mulai ikut terlibat. Anak-anak belajar bahwa sampah memiliki nilai. Orang dewasa memahami bahwa lingkungan bersih adalah investasi bersama.

Dari sebuah kampung di Kutai Timur, lahirlah pelajaran penting. Kadang perubahan tidak membutuhkan teknologi rumit. Yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang berani memulai.

Bripka Taufik Ismail, Polisi yang Menanam Harapan di Pesisir

Ketika mendengar profesi polisi, kebanyakan orang membayangkan tugas menjaga keamanan. Namun Bripka Taufik Ismail menunjukkan bahwa pengabdian bisa melampaui batas profesi. Melalui inisiatif konservasi mangrove, ia menggerakkan masyarakat membersihkan sampah plastik, membibitkan, serta menanam mangrove di berbagai wilayah Kalimantan Timur.

Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Kalimantan Timur mencatat bahwa kiprah tersebut mengantarkannya masuk nominasi Penghargaan Kalpataru 2024 kategori Pengabdi Lingkungan. DLH Kaltim menyebut, kegiatan konservasi yang dilakukannya tidak hanya berlangsung di Balikpapan, tetapi juga menjangkau Penajam Paser Utara, Paser, Samarinda, hingga Kutai Kartanegara.

Ketua Pokja Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup DLH Kaltim, Tutik Rahayuningsih, bahkan menyebut bahwa kepedulian Bripka Taufik dapat menjadi teladan bagi banyak pihak.

"Pak Taufik Ismail ini dapat menjadi contoh yang baik, kepedulian dan kesadaran untuk menjaga lingkungan harus dilakukan oleh semua pihak," ujarnya dilansir dari dinaslh.kaltimprov.go.id.

Mangrove mungkin terlihat seperti tanaman biasa. Padahal, ekosistem ini melindungi pesisir dari abrasi, menjadi tempat berkembang biak berbagai biota laut, sekaligus menyimpan karbon dalam jumlah besar. Setiap bibit mangrove yang ditanam hari ini adalah perlindungan bagi generasi mendatang.

baca juga

Mengapa Kisah Mereka Penting?

Di era ketika popularitas sering diukur melalui jumlah pengikut media sosial, kisah para localheroes ini terasa menyegarkan.

Mereka tidak bekerja demi tepuk tangan. Tidak menunggu viral. Tidak pula berharap namanya dikenang dalam buku sejarah. Mereka hanya percaya bahwa lingkungan yang sehat dan masyarakat yang saling peduli adalah warisan terbaik yang bisa diberikan kepada anak cucu.

Kalimantan Timur hari ini sedang berada dalam sorotan nasional, terutama dengan pembangunan Ibu Kota Nusantara. Namun kemajuan sebuah daerah tidak hanya ditentukan oleh gedung-gedung megah. Ia juga ditentukan oleh kualitas manusianya.

Dan untungnya, Kaltim memiliki banyak sosok seperti Yuliana, Andika, Taufik, serta para pejuang lain yang mungkin belum kita kenal namanya. Mereka adalah pengingat bahwa masa depan tidak dibangun oleh satu orang hebat. Melainkan oleh banyak orang baik yang memilih untuk tidak diam.

Indonesia Masih Punya Banyak Alasan untuk Dibanggakan

Barangkali kita terlalu sering mendengar kabar buruk tentang kerusakan lingkungan, konflik sosial, atau krisis yang datang silih berganti. Sampai-sampai kita lupa bahwa di sudut-sudut Nusantara, masih ada orang-orang yang bekerja dalam diam demi menjaga kehidupan. Mereka tidak menunggu viral. Tidak pula berharap dikenang dalam buku sejarah.

Mereka hanya percaya bahwa bumi yang lebih baik layak diperjuangkan, meski dimulai dari langkah kecil. Yuliana menjaga hutan agar anak cucunya tetap memiliki rumah. Andika mengubah sampah menjadi harapan. Taufik menanam mangrove untuk melindungi pesisir yang mungkin tak pernah ia nikmati sendiri di masa depan.

Mungkin, Indonesia tidak sedang kekurangan orang baik. Kita hanya perlu lebih sering menceritakan kisah mereka. Karena bisa jadi, setelah membaca kisah para local heroes Kalimantan Timur ini, giliran kita yang bertanya. Langkah kecil apa yang bisa kita lakukan hari ini, agar kelak seseorang masih memiliki alasan untuk bangga tinggal di negeri ini?

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AM
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.