Hubungan antara Indonesia dan Hawaii mungkin terdengar tidak biasa jika dilihat dari sudut pandang sejarah. Kedua wilayah ini dipisahkan oleh ribuan kilometer lautan dan berkembang dalam lingkungan budaya yang berbeda.
Namun pada abad ke-19, seorang tokoh politik penting di Kerajaan Hawaii justru memiliki keterkaitan yang unik dengan dunia Melayu.
Tokoh tersebut adalah Walter Murray Gibson, Perdana Menteri terakhir Kerajaan Hawaii, yang pernah belajar bahasa Melayu ketika dipenjara di Jawa dan kemudian menerjemahkan kisah Hikayat Hang Tuah ke dalam bahasa Hawaii.
Kisah hidupnya yang unik menjadi contoh menarik tentang pertemuan budaya yang melampaui batas geografis.
Perjalanan Petualangan yang Membawanya ke Jawa
Walter Murray Gibson lahir di Inggris pada tahun 1822 dan dikenal sebagai sosok yang gemar berpetualang. Pada dekade 1850-an, ia melakukan perjalanan ke berbagai wilayah Asia Tenggara yang saat itu masih berada di bawah pengaruh kolonial Eropa.
Dalam salah satu episode kehidupannya yang paling dramatis, Gibson ditangkap dan dipenjarakan di Pulau Jawa oleh pemerintah kolonial Belanda.
Menurut berbagai catatan sejarah, ia dituduh menghasut atau mendorong perlawanan terhadap otoritas kolonial Belanda. Tuduhan tersebut membuatnya harus menjalani masa tahanan di Jawa.
Meskipun berada dalam situasi yang sulit, pengalaman tersebut justru membuka jalan bagi Gibson untuk mempelajari bahasa yang saat itu digunakan secara luas di kawasan Nusantara, yaitu bahasa Melayu.
Bahasa ini berfungsi sebagai lingua franca yang menghubungkan berbagai kelompok etnis dan wilayah perdagangan di Asia Tenggara.
Belajar Bahasa Melayu di Balik Jeruji
Masa penahanan yang dijalani Gibson tidak hanya menjadi pengalaman politik, tetapi juga pengalaman intelektual. Selama berada di Jawa, ia mempelajari Melayu Kepulauan atau Archipelago Malay, bentuk bahasa Melayu yang banyak digunakan dalam komunikasi antarwilayah di Nusantara.
Kemampuannya dalam bahasa Melayu berkembang hingga mencapai tingkat yang sangat baik. Penguasaan bahasa tersebut menjadi sesuatu yang langka bagi seorang tokoh Barat pada masa itu.
Pengalaman hidup di lingkungan masyarakat Asia Tenggara memberinya akses langsung terhadap tradisi, sastra, dan cerita-cerita yang berkembang di dunia Melayu. Pengetahuan inilah yang kelak membedakannya dari banyak tokoh politik lain di Hawaii.
Karier Politik di Kerajaan Hawaii
Setelah meninggalkan Asia Tenggara, Gibson akhirnya menetap di Hawaii dan terlibat aktif dalam dunia politik. Kariernya terus berkembang hingga mencapai puncaknya ketika ia menjadi Perdana Menteri di bawah pemerintahan Raja Kalākaua pada tahun 1882.
Sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh di Kerajaan Hawaii, Gibson memainkan peran penting dalam berbagai kebijakan kerajaan.
Namun, karier politiknya juga dipenuhi kontroversi. Sebagian kalangan menuduhnya terlalu ambisius, sementara pendukungnya memandangnya sebagai pembela setia kedaulatan Kerajaan Hawaii dan Raja Kalākaua.
Setelah terjadinya gejolak politik yang menghasilkan Bayonet Constitution pada tahun 1887, kekuasaan raja berkurang secara drastis dan Gibson akhirnya tersingkir dari panggung politik.
Menerjemahkan Hikayat Hang Tuah ke dalam Bahasa Hawaii
Salah satu warisan paling unik yang ditinggalkan Gibson bukanlah kebijakan politiknya, melainkan kontribusinya dalam bidang sastra dan pertukaran budaya. Berbekal penguasaan bahasa Melayu dan bahasa Hawaii, ia menerjemahkan karya sastra terkenal Hikayat Hang Tuah ke dalam bahasa Hawaii.
Terjemahan tersebut diterbitkan dalam surat kabar Ka Nūhou Hawaiʻi dengan judul Ke Kaao o Lakamana. Melalui karya ini, masyarakat Hawaii diperkenalkan kepada salah satu epos paling penting dalam tradisi sastra Melayu.
Hikayat Hang Tuah sendiri merupakan kisah kepahlawanan yang sangat berpengaruh di kawasan Nusantara dan Semenanjung Malaya.
Penerjemahan ini menunjukkan bahwa hubungan budaya antara Asia Tenggara dan Hawaii telah berlangsung jauh sebelum era globalisasi modern.
Cerita yang lahir di dunia Melayu dapat menjangkau pembaca di tengah Samudra Pasifik berkat kemampuan bahasa dan minat intelektual seorang tokoh politik yang pernah dipenjara di Jawa.
Warisan Seorang Petualang Sejati
Hingga kini, Walter Murray Gibson tetap menjadi figur yang memancing perdebatan dalam sejarah Hawaii. Namun terlepas dari kontroversi politik yang mengelilinginya, kisahnya menunjukkan bagaimana pengalaman hidup dapat membentuk hubungan lintas budaya yang tidak terduga.
Dari seorang petualang yang dipenjara di Jawa karena dituduh menghasut perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda, ia berubah menjadi pemimpin politik Hawaii yang mampu membawa sastra Melayu ke dunia berbahasa Hawaii.
Warisan tersebut menjadikan Gibson bukan hanya tokoh politik, tetapi juga jembatan budaya yang menghubungkan Nusantara dan Hawaii melalui bahasa, sastra, dan pertukaran gagasan yang melintasi samudra.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


