Sebanyak 409 siswa kelas XI SMA Swasta Santo Thomas 2 Medan meninggalkan bangku kelas demi menjalani pembelajaran kontekstual di alam dan industri, Kamis (11/6/2026).
Kegiatan studi alam (field project) yang dikemas dalam agenda kokurikuler akhir semester genap Tahun Ajaran 2025/ 2026 ini dirancang sebagai bentuk asesmen nyata terhadap capaian pembelajaran siswa.
Sejak pukul 07.00 WIB, halaman sekolah di Jalan S. Parman, Medan, telah dipadati bus-bus yang siap membawa rombongan. Para siswa dibagi ke dalam tiga rute berbeda berdasarkan peminatan akademik mereka, didampingi oleh puluhan guru yang bertindak sebagai fasilitator lapangan.
Rombongan terbesar, yakni 168 siswa kelas XI Saintek Murni, bertolak menuju Simalem Organic Farm di Taman Simalem Resort, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo.
Sementara itu, 146 siswa kelas XI Saintek Terapan bergerak menuju kawasan pesisir untuk mengunjungi Pabrik Peleburan dan Kantor Pusat PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) di Kabupaten Batubara.
Adapun 95 siswa kelas XI Soshum menelusuri jejak sejarah di Museum Pengasingan Bung Karno serta Museum Pusaka Karo di Berastagi.
Kepala SMA Swasta Santo Thomas 2 Medan, Sr. Oratna Sembiring, M.Pd., SCMM., yang ikut turun langsung mendampingi siswa, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar rekreasi pengisi waktu luang. Studi alam tersebut merupakan instrumen asesmen kokurikuler untuk mengukur sejauh mana siswa mampu mengintegrasikan teori ilmiah dengan realitas di lapangan.
"Kami ingin memastikan bahwa pendidikan di Santo Thomas 2 tidak menghasilkan lulusan yang gagap terhadap realitas sosial dan perkembangan industri. Melalui field project ini, anak-anak diajak melihat, menyentuh, dan menganalisis langsung objek belajar mereka. Ini adalah pengejawantahan dari asesmen kokurikuler yang holistik," ujar Suster Oratna saat ditemui di sela-sela peninjauan.
Senada dengan Kepsek, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum sekaligus Koordinator Kegiatan Kokurikuler, Sanny D.M. Samosir, S.Pd., M.M., menjelaskan bahwa setiap destinasi dipilih secara spesifik berdasarkan relevansi capaian pembelajaran tiap peminatan. Kurikulum sekolah saat ini dituntut untuk lebih fleksibel dan berbasis interaksi langsung.
"Bagi siswa Saintek Murni, Simalem adalah laboratorium botani dan ekologi raksasa. Bagi Saintek Terapan, PT Inalum adalah hilirisasi dari ilmu fisika dan kimia modern. Sedangkan bagi Soshum, museum di Berastagi adalah ruang dialog sejarah yang hidup. Asesmen dilakukan melalui laporan analisis yang wajib disusun siswa pascakegiatan," kata Sanny Samosir.
Manajemen logistik dan pengawasan ketat ratusan siswa ini dikoordinasikan secara berlapis. Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Riccky L Sitorus, S.Pd., bersama Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas dan Sarana, Amran J Sinaga, M.Fil., memastikan seluruh aspek keselamatan dan kedisiplinan siswa tetap terjaga selama satu hari penuh di luar lingkungan sekolah.
"Tantangan terbesar adalah mobilisasi massa di tiga kabupaten berbeda dalam waktu bersamaan. Namun, dengan kedisiplinan yang matang dan koordinasi intensif bersama para koordinator fasilitator di tiap lini, seluruh rangkaian kegiatan dari keberangkatan hingga kepulangan berjalan dengan aman dan tertib," ungkap Riccky L Sitorus.
Kelancaran di lapangan juga tidak terlepas dari peran para Koordinator Fasilitator. Firnandi Sitanggang, S.Pd. memimpin jalannya observasi di Saintek Murni, Ronal Sitorus, S.Pd. mengawal ketat rombongan Saintek Terapan di area objek vital nasional, dan Darwin Effendy Simanjuntak, S.Pd. memandu dinamika pembelajaran sejarah siswa Soshum.
Di Simalem Organic Farm, siswa Saintek Murni mendalami sistem pertanian berkelanjutan dan teknologi pertanian organik.
"Kami belajar bagaimana mikroorganisme lokal digunakan untuk kesuburan tanah tanpa bahan kimia. Mengetahui proses ini secara langsung jauh lebih membekas daripada hanya membaca bab ekosistem di buku teks," aku Fasto Rizky S Sinaga, siswa Kelas XI Saintek Murni 5.
Pihak manajemen Taman Simalem Resort menyambut baik antusiasme ini. Citra Sianipar, Room Division Manager Taman Simalem Resort, mengapresiasi daya kritis para siswa.
"Kami sangat senang menerima kunjungan akademis seperti ini. Siswa-siswi Santo Thomas 2 menunjukkan ketertarikan yang tinggi pada pengelolaan lingkungan berbasis ekowisata, yang menjadi inti dari operasional kami di sini," ujarnya.
Suasana berbeda terlihat di koridor industri PT Inalum, Batubara. Siswa Saintek Terapan menyaksikan langsung proses elektrolisis aluminium cair. Wahyu Melki Sedek Butar-butar, siswa Kelas XI Saintek Terapan 6, mengaku terpukau dengan skala industri yang mereka kunjungi.
"Melihat langsung tungku reduksi dan bagaimana energi listrik skala besar diubah menjadi produk aluminium membuat materi termokimia dan elektrokimia di kelas menjadi masuk akal," tutur Wahyu.
Direktur Operasional PT Inalum, Ivan Ermisyam, menyatakan bahwa keterbukaan industri terhadap institusi pendidikan adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan untuk menyiapkan generasi penerus bangsa.
"Kami berharap kunjungan ke pabrik peleburan ini memicu motivasi para siswa untuk menjadi insinyur dan ahli teknologi masa depan yang akan memajukan industri strategis nasional," kata Ivan.
Sementara itu, atmosfer kontemplasi sejarah menyelimuti rombongan Soshum di Berastagi. Saat mengitari ruang demi ruang di Museum Pengasingan Bung Karno, Aqila Ruth Barimbing, siswi Kelas XI Soshum 2, mengaku merasakan kedekatan emosional dengan narasi perjuangan kemerdekaan.
"Berdiri di tempat yang sama dengan tempat Bung Karno memikirkan masa depan bangsa ini memunculkan rasa nasionalisme yang berbeda. Sejarah tidak lagi terasa kaku," kata Aqila.
Pengelola Museum Pengasingan Bung Karno di Berastagi menyampaikan bahwa kunjungan terstruktur dari lembaga pendidikan seperti ini sangat krusial untuk merawat ingatan kolektif generasi muda.
Menurut pengelola, museum bukan sekadar tempat menyimpan barang antik, melainkan ruang refleksi ideologi dan nilai-nilai kebangsaan yang harus terus diwariskan.
Kunjungan serentak yang berakhir pada petang hari tersebut menandai penutupan rangkaian kegiatan kokurikuler semester genap di SMA Swasta Santo Thomas 2 Medan.
Langkah kontekstualisasi ini diharapkan menjadi pemantik bagi sekolah-sekolah lain di Sumatra Utara untuk terus menghidupkan ruang belajar di luar dinding-dinding kelas demi mencetak generasi yang adaptif dan kritis.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


