Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Rabu (18/6/2026) dibuka di level 6.321,96 dan sempat menyentuh titik tertinggi sesi I di level 6.377,19.
Namun, IHSG juga sempat menyentuh titik terendah sesi I di level 6.221,42. Meski demikian, IHSG saat ini telah mengalami rebound setelah terkoreksi tajam hingga menyentuh level 5.342,14 akibat berbagai tekanan, termasuk sentimen rebalancing indeks MSCI dan FTSE, konflik di Timur Tengah, serta pelemahan nilai tukar rupiah.
Penguatan IHSG juga didorong oleh penurunan harga minyak seiring optimisme tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran. Selain itu, sentimen positif turut datang dari klarifikasi Danantara yang menyatakan bahwa PT Danantara Sumberdaya Indonesia hanya akan bertindak sebagai pengawas ekspor, bukan sebagai broker atau trader.
Harga minyak dunia tercatat turun sekitar 5 persen ke level US$83 per barel pada Senin (15/6) sore. Sementara itu, harga emas rebound 2,9 persen menjadi US$4.360 per ons. Sentimen tersebut turut direspons positif oleh bursa-bursa Asia yang kompak ditutup menguat.
Tren penurunan harga minyak, ditambah kenaikan harga Pertamax sebesar 32 persen, berpotensi meringankan beban impor energi Indonesia sekaligus meredakan kekhawatiran terhadap pelebaran defisit fiskal yang sebelumnya sempat menekan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat hingga menembus level Rp18.000 per dolar AS.
5 Agenda yang Dapat Menentukan Arah IHSG Bulan Ini
- Rapat FOMC/The Fed pada 16–17 Juni.
- Keputusan suku bunga Bank Indonesia pada 18 Juni.
- MSCI Global Market Accessibility Review pada 18 Juni.
- FTSE Rebalancing Effective Date pada 19 Juni.
- Keputusan status pasar Indonesia oleh MSCI pada 23 Juni.
Kelima agenda tersebut diharapkan menghasilkan sentimen positif yang dapat meningkatkan kepercayaan investor domestik maupun asing terhadap pasar modal Indonesia. Dengan demikian, IHSG berpeluang melanjutkan tren rebound setelah sebelumnya mengalami koreksi yang cukup dalam.
Pemerintah Siapkan 3 Langkah, Perkuat Kepercayaan Pasar
Dalam upaya memperkuat kepercayaan pasar dan menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah dinamika global, pemerintah tengah mempercepat tiga langkah utama, yaitu deregulasi perizinan, percepatan hilirisasi dan industrialisasi, serta menjaga stabilitas iklim usaha.
Hal tersebut disampaikan Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, usai rapat di Ruang Sidang Kabinet, Istana Merdeka, pada Senin (15/6).
Penyederhanaan Regulasi dan Perizinan
Penyederhanaan regulasi dan perizinan diperlukan guna menciptakan iklim investasi yang lebih kompetitif serta mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Kemudahan berusaha menjadi salah satu faktor penting untuk menarik investasi dan memperkuat daya saing Indonesia di tengah dinamika ekonomi global.
Percepatan Hilirisasi dan Industrialisasi
Penguatan nilai tukar dan ketahanan ekonomi tidak dapat dipisahkan dari kinerja ekspor dan impor Indonesia. Oleh karena itu, hilirisasi dan industrialisasi menjadi instrumen penting untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.
Menjaga Stabilitas Iklim Usaha dan Ekonomi
Stabilitas merupakan faktor yang tidak kalah penting dalam menjaga kepercayaan pelaku usaha dan pasar. Pemerintah mengajak seluruh elemen masyarakat, pelaku ekonomi, dan dunia usaha untuk bersama-sama menjaga stabilitas serta memperkuat fondasi ekonomi nasional.
Sejumlah agenda ekonomi dan kebijakan yang tengah disiapkan pemerintah diharapkan dapat memperkuat kepercayaan pasar, sehingga mendukung keberlanjutan tren penguatan IHSG ke depan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


