Apa yang ada di benak kawan GNFI ketika mendengar kata candi? pasti mayoritas akan tertuju pada candi Prambanan atau candi Borobudur
Tidak salah, karena dua candi ini menjadi ikon wisata yang terkenal hingga mancanegara. Kedua candi ini selalu ada di brosur pariwisata, buku pelajaran,bahkan nama kedua candi ini seringkali menjadi yang pertama muncul di media sosial ketika kita membicarakan tentang pariwisata.
Tapi, ternyata tidak jauh dari candi Prambanan sekitar 5 km ke arah selatan terdapat situs candi yang terletak di kawasan perbukitan dan di sekitar lembah, candi Banyunibo namanya. Candi ini menawarkan pemandangan yang berbeda dibandingkan destinasi wisata sejarah pada umumnya. Suasana yang tenang, lingkungan yang sangat asri dan sunyi sangat mendukung keindahan candi ini.
Nama Banyunibo sendiri berasal dari bahasa Jawa, yaitu banyu yang berarti air dan nibo yang berarti jatuh atau menetes. Penamaan tersebut diyakini berkaitan dengan keberadaan aliran air yang berada di sekitar kawasan candi. Hingga kini, nama tersebut masih melekat sebagai identitas situs warisan budaya yang satu ini.
Apakah kawan GNFI tau? Candi Banyunibo ini diperkirakan dibangun pada abad ke-9 Masehi dan merupakan situs peninggalan agama Buddha, keberadaan candi ini juga menjadi salah satu bukti bahwa wilayah Yogyakarta dulunya pernah menjadi pusat perkembangan tradisi dan kehidupan keagamaan termasuk agama Buddha, tepatnya pada masa kerajaan Mataram kuno masih berjaya.
Jika kita bicara terkait dengan arsitekturnya, kompleks candi Banyunibo terdiri dari satu candi induk yang menghadap ke arah barat dan terdapat candi perwara atau candi pengiring berbentuk stupa, yang letaknya ada di kawasan pelataran. Meskipun candi ini tidak sebesar situs candi Borobudur atau Prambanan, candi Banyunibo memiliki keindahan yang hingga saat ini masih bisa dinikmati melalui bentuk bangunan dan relief-relief yang ditemukan masih menempel pada dinding-dinding candi ini.
erdapat beberapa relief yang tersisa di bagian dalam maupun luar bangunan candi, salah satu relief yang menarik adalah relief dewi Hariti lengkap bersama suaminya, Vaisravana. Dalam kepercayaan agama Buddha, dewi Hariti dikenal sebagai dewi pelindung anak-anak sekaligus menjadi lambang dari kesuburan, selain keberadaan relief-relief tersebut, terdapat juga arca Bodhisatwa. Nah kawan GNFI, keberadaan relief dan arca ini juga menjadi salah satu unsur yang menunjukkan bahwa candi ini dibangun dengan corak agama Buddha.
Namun saat ditemukan candi ini berada dalam keadaan runtuh dan sebagian besar dari strukturnya tertimbun tanah dari lahan pertanian. Batu-batu penyusun bangunannya tersebar dan membuat candi ini tidak dikenali. Baru pada saat tahun 1940 mulai dilakukan penelitian dan identifikasi terhadap candi ini oleh para arkeolog, dan mulai dipugar pada tahun 1943 yang pastinya dilakukan secara bertahap agar bentuk candi bisa direkonstruksi dengan baik dan mendekati kondisi aslinya, akhirnya usaha para arkeolog berhasil dan pada tahun 1978 proses pemugaran selesai.
Hasil pemugaran tersebut bisa kita lihat hingga saat ini berdiri dengan megahnya. Selain dilihat sebagai bukti kemegahan masa Mataram kuno, candi Banyunibo juga menjadi objek wisata yang saat ini belum banyak orang tahu akan keberadaannya. Hanya dengan membayar tiket seharga Rp5.000 dan parkir motor Rp2.000, kawan GNFI bisa menikmati pemandangan yang indah dan sekaligus berwisata sejarah.
Candi Banyunibo sangat menarik untuk dikunjungi ketika waktu senja tiba, karena letak candi ini yang menghadap ke barat kita bisa menyaksikan matahari yang mulai terbenam. Meski belum seramai destinasi wisata populer lainnya, situs ini menawarkan pengalaman yang berbeda melalui suasana dan lingkungannya yang jauh dari hiruk pikuk kota dan bagaimana nilai sejarah yang terkandung di dalam setiap corak bangunannya membuat siapapun yang mengunjunginya seolah diajak berjalan mundur untuk menelusuri jejak warisan kuno di tengah perbukitan Yogyakarta.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


