Komoditas ekspor Indonesia yang sering mendapat perhatian besar biasanya berkisar pada nikel, kelapa sawit, atau batu bara.
Namun, produk manufaktur lain seperti kalung emas, cincin berlian, dan mutiara juga sedang mencatatkan performa yang kuat bagi neraca perdagangan kita. Sektor ini membuktikan bahwa industri kreatif lokal memiliki kontribusi nilai ekspor yang cukup besar.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita memaparkan data mengenai sektor ini. Sepanjang Januari hingga Desember 2025, nilai pengapalan perhiasan dan barang berharga dari Indonesia ke pasar global menyentuh angka USD 9,1 miliar.
Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang berada di angka USD 5,5 miliar, ada kenaikan sebesar 64,73 persen. Angka ini menjadi indikator bahwa produk olahan logam mulia buatan domestik makin diminati dan punya daya saing yang baik di luar negeri.
Meski grafiknya sedang naik, tantangan di lapangan tentu tidak hilang begitu saja. Para pelaku industri ini masih harus berhadapan dengan variabel seperti fluktuasi harga bahan baku murni di pasar dunia, pergeseran selera konsumen internasional, hingga ketidakpastian ekonomi global.
Agar momentum ini tidak turun di tengah jalan, penguatan kualitas produk dan pembaruan desain menjadi aspek penting untuk diperhatikan.
Langkah untuk mendongkrak daya saing perhiasan lokal ini tidak lagi melulu mengandalkan metode pengerjaan tradisional atau sekadar ketukan palu manual.
Kini, pembinaan dari pemerintah mulai digeser ke arah transformasi digital dan penerapan teknologi pintar langsung di lini produksi. Siasat ini diambil demi memangkas inefisiensi dan mengejar tingkat presisi tinggi yang diminta oleh pasar luar negeri.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Reni Yanita, menyebutkan bahwa penerapan skema Industri 4.0 menjadi faktor penentu agar produsen lokal bisa bergerak lebih cepat dan tepat dalam merespons pasar.
Sejauh ini, Kemenperin bahkan sudah melakukan penilaian khusus bernama Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0) untuk memotret seberapa siap para pelaku bisnis logam mulia ini berpindah ke sistem modern.
Hasil dari penilaian indeks tersebut menunjukkan angka yang cukup bagus. Beberapa produsen lokal dinilai sudah mulai berhasil mengintegrasikan teknologi modern ke dalam dapur produksi mereka.
Wujud nyatanya antara lain dari mulai digunakannya digitalisasi sistem manajemen, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), penguatan keamanan siber, sampai pembuatan produk yang bisa dikustomisasi sesuai pesanan konsumen secara massal tanpa membuang banyak waktu.
Atas dasar perkembangan di dapur produksi itu, memperluas akses pasar lewat pameran fisik juga dijadikan instrumen penting untuk memperkuat ekosistem bisnis dari hulu ke hilir.
Direktur Industri Aneka, Reny Meilany, menambahkan bahwa pelaksanaan posisinya sangat strategis karena tidak sekadar mempertemukan penjual dan pembeli di satu meja, tapi juga jadi ruang berkumpulnya ide inovasi dan penjajakan investasi baru.
Adanya pembenahan teknologi di sektor hulu dan agresivitas promosi di sektor hilir, harapannya industri perhiasan diharapkan tidak cuma jadi penghasil devisa instan yang sifatnya musiman. Lebih dari itu, penguatan rantai pasok ini ditargetkan mampu menciptakan lapangan kerja baru di berbagai daerah sekaligus menjaga keberlanjutan usaha para pengrajin lokal untuk jangka panjang.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

