Kalau masih ada stigma yang mengatakan bahwa kampus Islam negeri hanya cocok untuk anak pesantren atau lulusan madrasah, data UM-PTKIN 2026 tampaknya perlu disebarluaskan. Sebab, pelaksanaan UM-PTKIN tahun ini lebih inklusif.
Sebagai informasi, UM-PTKIN sendiri merupakan jalur seleksi nasional untuk masuk ke Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), seperti UIN, IAIN, dan STAIN. Sistem ini diselenggarakan secara nasional oleh Kementerian Agama dengan prinsip adil, transparan, dan tidak diskriminatif.
Tahun ini ada 20 peserta non-Muslim yang ikut berebut kursi di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN). Bukan cuma itu, di antara puluhan ribu peserta, ada pula calon mahasiswa dari Papua Nugini yang sengaja mendaftar untuk kuliah di Indonesia.
Yang lebih menarik lagi, ada 43 peserta difabel yang ikut seleksi nasional ini. Mereka datang dengan tantangan yang berbeda-beda. Ada yang tuna netra, tuna rungu, tuna daksa, hingga tuna grahita. Meski demikian, semuanya mendapat kesempatan yang sama untuk bersaing.
Ketua Panitia Nasional PMB PTKIN, Prof. Abd. Aziz, menyebut keberagaman peserta tahun ini menjadi salah satu hal yang patut dicatat.
"Tahun ini, UM-PTKIN diikuti oleh 43 peserta difabel dengan rincian 11 siswa tuna netra, 8 tuna rungu, 7 tuna daksa, dan 17 tuna grahita. Kami memastikan seluruh titik lokasi ujian memberikan fasilitas terbaik dan akses yang ramah bagi mereka," kata Abd. Aziz dalam pembukaan UM-PTKIN 2026, Senin (8/6/2026).
Jumlah Peserta UM-PTKIN 2026 Tembus 64.479 Orang
UM-PTKIN 2026 mencatat jumlah peserta mencapai 64.479 orang. Jumlah ini jelas bukan angka kecil. Apalagi jika mengingat PTKIN selama bertahun-tahun kerap dilekatkan dengan citra sebagai kampus yang hanya diminati kalangan tertentu.
Data panitia nasional menunjukkan, lima provinsi dengan jumlah pendaftar terbanyak adalah Jawa Barat (9.245 peserta), Jawa Timur (8.971 peserta), Jawa Tengah (7.440 peserta), Aceh (4.083 peserta), dan Sumatra Utara (3.956 peserta).
Data ini menunjukkan bahwa kampus-kampus Islam negeri di Indonesia kini tidak lagi hanya dipandang sebagai tujuan pendidikan bagi umat Islam semata.
Apalagi, Abd. Aziz juga mengungkapkan fakta lain yang cukup menarik. Dari puluhan ribu peserta UM-PTKIN tahun ini, tidak semuanya beragama Islam.
"Tercatat ada 20 peserta non-muslim yang mengikuti ujian tahun ini, meliputi 17 pendaftar beragama Kristen, 2 Katolik, dan 1 dari aliran Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa," ujarnya.
Kehadiran mereka menunjukkan adanya perubahan cara pandang terhadap PTKIN.
Selama ini masih banyak masyarakat yang menganggap kampus Islam identik dengan program studi keagamaan semata. Padahal dalam perkembangannya, PTKIN kini membuka beragam jurusan umum, mulai dari psikologi, ekonomi, komunikasi, teknologi informasi, bisnis digital, hingga sejumlah program sains dan kesehatan.
Tidak heran jika kampus-kampus Islam negeri mulai dilirik oleh calon mahasiswa dari latar belakang yang lebih beragam.
Bahkan, keterbukaan itu kini tidak berhenti pada perbedaan agama.
"Tidak hanya itu, pada pergelaran tahun ini, kami juga bangga karena terdapat mahasiswa asing, salah satunya dari Papua Nugini, yang ikut ambil bagian dalam seleksi UM-PTKIN untuk menempuh studi di Indonesia," lanjut Abd. Aziz.
Kehadiran peserta dari Papua Nugini menjadi sinyal bahwa sebagian PTKIN mulai dikenal di luar negeri. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah kampus Islam negeri memang aktif menjalin kerja sama internasional dan membuka program yang ditujukan bagi mahasiswa asing.
Minat terhadap PTKIN Semakin Meningkat
Tingginya jumlah peserta tahun ini juga menunjukkan bahwa minat terhadap PTKIN terus tumbuh.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Prof. Amin Suyitno, mengatakan jumlah pendaftar dan registrasi UM-PTKIN 2026 meningkat dibanding sebelumnya.
"Kita patut bersyukur karena jumlah pendaftar dan angka registrasi tahun ini mengalami peningkatan yang signifikan. Ada banyak inovasi serta metode baru yang kita munculkan pada proses pendaftaran tahun ini," ujar Amin Suyitno.
Menurutnya, peningkatan tersebut tidak lepas dari berbagai upaya kampus dalam menjangkau calon mahasiswa secara lebih aktif. Strategi jemput bola yang dilakukan banyak PTKIN dinilai berhasil memperluas akses informasi hingga ke berbagai daerah.
Menariknya, proses seleksi tahun ini juga semakin mengandalkan teknologi. Ujian dilaksanakan menggunakan Sistem Seleksi Elektronik (SSE), yaitu sistem ujian berbasis komputer yang membuat seluruh proses berlangsung tanpa kertas atau paperless.
Dengan sistem ini, peserta mengerjakan soal langsung melalui komputer atau laptop. Selain lebih efisien, metode tersebut juga mempercepat proses pengolahan hasil ujian.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


