lewat lomba poster universitas ciputra menolak lupa peran para tokoh bangsa - News | Good News From Indonesia 2026

Lewat Lomba Poster, Universitas Ciputra Menolak Lupa Peran Para Tokoh Bangsa

Lewat Lomba Poster, Universitas Ciputra Menolak Lupa Peran Para Tokoh Bangsa
images info

Dok.UC, Proses penjurian dan pemenang Lomba Poster Nasional Universitas Ciputra Surabaya (9/6).


Poster merupakan salah satu media penyampai informasi yang hingga hari ini masih lestari. Tidak dipungkiri jika media yang menggabungkan gambar, foto, dan teks itu lebih mudah dicerna dan disukai oleh generasi kiwari.

 

Melihat potensi besar poster sebagai medium pendidikan, Universitas Ciputra (UC) Surabaya pun menggelar lomba poster nasional tahun ini. Dengan mengusung tema mengangkat tokoh kebangsaan yang terlupakan, lomba poster tingkat universitas ini menerima 634 poster dari 15 kampus se-Indonesia.

 

Kepala Departemen Kajian Humaniora dan Interdisipliner Dr Johan Hasan menyampaikan kegiatan ini mendorong mahasiswa untuk mengeksplorasi pemikiran dan aktivitas sosial-kemanusiaan dari tokoh-tokoh yang jarang dikenal atau bahkan sengaja terhapus dari narasi buku sejarah. Selain itu, lomba ini fokus pada nilai Pancasila, kebinekaan, dan kontribusi tokoh-tokoh Indonesia bagi bangsa.

 

Menurutnya, kategori “tokoh yang terlupakan” melampaui tokoh-tokoh yang telah dikenal secara resmi. “Lewat lomba ini, mahasiswa didorong untuk bersikap kritis, objektif, dan memiliki dorongan kuat untuk mencari tahu jejak peninggalan tokoh yang diangkat melalui sumber-sumber terpercaya serta membandingkan berbagai referensi yang digunakan,” kata Johan.

 

Dalam lomba poster nasional ini mahasiswa dari kampus-kampus di Indonesia ternyata sangat antusias. Para mahasiswa dari Universitas Bina Nusantara Jakarta, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Universitas Negeri Surabaya, Politeknik Negeri Malang, Universitas PGRI Banyuwangi, IFTK Ledalero NTT, Universitas Paramadina, Universitas Multi Data Palembang, dan Universitas Jember ikut ambil bagian.

 

Ratusan karya itu lantas dikurasi oleh para dewan juri. Dewan juri ini terdiri dari Didi Kwartanada (sejarawan independen), Dede Oetomo, Ph.D. (pakar sosiolinguistik), Dr Shinta Devi Ika Santhi Rahayu (sejarawan Universitas Airlangga), Dr Yerry Wirawan (sejarawan), dan Adrian Perkasa, Ph.D. (peneliti KITLV Leiden).

 

Nah, dari 634 karya lalu dikerucutkan menjadi 105. Dari 105 poster, lalu dipilihlah 10 yang terbaik. Kemudian 10 karya yang masuk penjaringan terakhir diberi kesempatan melakukan presentasi secara hibrid di depan dewan juri pada Selasa (9/6) lalu di Integrity Hall, UC Surabaya.

 

Dari 10 nama itu lantas dipilihlah lima pemenang. Sebagai pemenang pertama Lomba Poster Nasional 2026 diberikan kepada Rahadian Haryo Luqman Nur Hakim dari Universitas Jember. Rahadian membuat poster tentang Siti Rukiyah Kertapati.

 

Lalu pemenang kedua sampai kelima berturut Claudia Felicia Wahyudi (UC), Arya Athaullah Rafi (UC), Heather Setiawan (UC), dan Angie Michelle Grafiella (UC).

 

“Beliau adalah seorang perempuan kampung yang berasal dari Purwakarta, lahir dari kalangan rakyat biasa, bukan bangsawan, priyayi, atau pemilik privilese sosial. Ia tidak berjuang dengan bedil dan tidak pula bertumpu pada kekuatan harta warisan, melainkan menjadikan sastra sebagai senjata untuk memperjuangkan pendidikan, literasi, dan martabat perempuan Indonesia,” tulis Rahadian lewat WhatsApp tentang tokoh yang dibuatnya dalam poster.

 

“Namun, alih-alih dikenang, namanya justru dihilangkan dalam arus sejarah, karena menjadi korban politik saat G30S terjadi. Kisah Siti Rukiah mengingatkan kita bahwa sejarah tidak selalu melupakan orang-orang hebat, tetapi terkadang memang sengaja dihilangkan karena namanya tidak berada di pihak golongan pemenang kekuasaan,” lanjut Rahadian.

 

Menurut salah satu juri, Adrian Perkasa memberikan jempol untuk lomba yang digelar UC. Menurutnya lomba poster ini membuat generasi muda mengulik dan mencari tahu nama-nama tokoh bangsa yang kerap disisihkan dari narasi besar bangsa.

 

“Apresiasi yang tinggi terhadap para peserta lomba. Para finalis benar-benar mempersiapkan materi dan menyampaikannya dengan baik kepada para dewan juri,” ungkap Adrian.

 

Setali tiga uang dengan Adrian, sejarawan Didi Kwartanada berujar cukup kaget dengan ratusan poster yang masuk. Sebab dengan tingginya angka partisipasi menunjukkan kalau stigma para mahasiswa kiwari lebih akrab dengan pop culture mancanegara asal Hollywood, Drakor, dan Dracin ternyata tidak sepenuhnya benar.

 

“Beberapa peserta dengan sangat baik telah mengangkat tokoh-tokoh pahlawan yang terlupakan, melalui riset dan menuangkannya secara visual ke atas poster. Dari hasil pemilihan lima pemenang dari total 634 karya, bisa menjadi cerminan Gen-Z bisa menampilkan figur pahlawan terlupakan dengan baik,” ujar Didi.

 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Tri Candra lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Tri Candra.

TC
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.