Makanan tradisional adalah salah satu identitas suatu kelompok masyarakat yang mudah dikenali dan ditemukan. Setiap daerah di Indonesia mempunyai kekayaan kuliner yang menjadi ciri khas dari daerah tersebut.
Minangkabau memiliki kekayaan cita rasa masakan tradisional yang khas. Bukan hanya sebatas hidangan untuk kebutuhan sehari-hari, tapi juga sebagai cerminan dari nilai-nilai budaya, sejarah, dan identitas masyarakatnya.
Keanekaragaman kuliner Minangkabau berasal dari kekayaan alam Sumatera Barat yang menyediakan berbagai rempah-rempah dan hasil pertanian lainnya. Cita rasa khas dari penggunaan bumbunya seperti, santan, cabai. Kunyit, jahe, dan aneka bumbu lainnya yang memperkuat rasa dari masakan tersebut. Masyarakat Minangkabau memiliki kemampuan yang luar biasa dalam mengolah makanan tradisional secara baik.
Selain itu, makanan adat khas Minangkabau tidak hanya ditemukan di kehidupan sehari-hari, namun juga dalam berbagai cara adat dan keagamaan mempunyai ciri khas makanan tradisional sebagai sajiannya.
Berikut makanan khas adat Minangkabau dalam jejak budayanya.
Rendang
Masakan satu ini tidak asing lagi di telinga masyarakat. Mudah di temukan dan dikenali. Tersedia di setiap rumah makan minang di seluruh Indonesia. Secara historis, rendang memiliki erat dengan tradisi adat di Minangkabau. Dalam bahasa minang di sebut dengan “randang” berasal dari istilah “marandang”, merupakan teknik memasak daging dengan santan dan rempah-rempah dengan api sedang hingga kuah mengering warna kecoklatan dan bumbu yang meresap kedalam daging, teknik ini membutuh waktu memasak yang lama sekitar 2-3 jam.
Dalam jurnal yang di tulis oleh Fadly Rahman (2020) disebutkan ditemukan dalam naskah melayu abad ke-16 bahwa rendang telah dikenal sejak lama di kawasan Melayu.
Bagi masyarakat Minangkabau, rendang bukan hanya sebagai makanan tetapi simbol dari budaya masyarakat itu sendiri. Rendang dapat disajikan pada acara upacara adat, perayaan keagamaan, pesta pernikahan, dan berbagai kegiatan lainnya. Rendang juga identik dengan tradisi merantau, dikarenakan Rendang dimasak dalam waktu yang lama sampai kadar airnya sangat rendah, tahan hingga berminggu-minggu dan cocok untuk dijadikan bekal perjalanan jauh ke rantau seberang.
Rendang menjadi bukti bahwa kuliner tidak hanya bentuk dari sajian masakan, tetapi juga sebagai simbol sejarah, budaya, dan identitas suatu masyarakat.
Lamang
Lamang merupakan hidangan tradisional yang terbuat dari beras ketan dan santan dibalut kulit pisang yang di masak dalam bambu. Kemudian dipanggang diatas bara api selama beberapa jam hingga matang.
Dalam budaya Minangkabau, terdapat tradisi “malamang, yang merupakan kegiatan memasak lamang secara bersama-sama menjelang hari besar islam dan upacara adat. lamang disajikan sebagai hidangan pendamping, makanan selingan, atau sajian setelah acara makan utama dilaksanakan. Terutama lamang dengan tapai ketan (lamang tapai).
Sebagian masyarakat juga menambahkan pisang di dalamnya sebagai pelengkap citarasanya. Makanan ini sangat populer di kalangan masyarakat Minangkabau.
Tradisi malamang pada masyarakat Minangkabau bukan saja bertujuan menyiapkan makanan, tetapi juga mempererat hubungan kekeluargaan antar tetangga dan semangat saling membantu satu sama lain.
Galamai
Galamai merupakan makanan manis tradisional yang berasal dari daerah Payakumbuh atau Lima Puluh Kota. Makanan ini disajikan sebagai pelengkap dari acara adat atau pesta pernikahan. Makanan ini tampak seperti Dodol yang terbuat dari tepung beras ketan, santan, dan gula aren yang dimasak selama berjam-jam hingga berwarna coklat kehitaman dan memiliki tekstur yang kenyal. Proses pembuatannya dilakukan secara bergotong-royong mencerminkan nilai kebersamaan dan kesabaran dari masyarakat Minangkabau.
Sambareh
Sambareh berasal dari istilah “sarang bareh” secara umum dikenal juga dengan Serabi. Makanan tradisional yang berasal dari daerah Padang Pariaman. Terbuat dari tepung beras, santan, ragi, dan garam dan disiram dengan kuah gula merah aromatik daun pandan.
Kuliner yang satu ini merupakan jenis makanan manis tradisional yang menjadi pion dalam upacara keagamaan. Menurut tradisi masyarakat Padang Pariaman, Sambareh biasanya disajikan dalam tradisi sambareh Dalam rangka memperingati hari Isra’ mikraj di bulan Rajab, acara berdoa bersama ini di pimpin oleh ulama setempat.
Uniknya, Sambareh ini dalam tradisi adat Padang Pariaman setiap menantu perempuan akan menghantarkan penganan Sambareh ke rumah mertuanya sebagai bentuk dari memperingati hari Isra’ mikraj tersebut.
Itulah beberapa dari banyaknya makanan khas adat dari Minangkabau yang mempunyai makna sejarah dari disajikannya makanan tersebut. Minangkabau memiliki warisan kuliner khas yang patut dilestarikan, terutama keanekaragaman rasa dalam hidangan tersebut. Memiliki proses memasak yang sedikit rumit dan membutuh waktu yang lama, serta kesabaran agar dapat dikonsumsi dengan nikmat. Dalam jejak budaya makanan adat khas Minangkabau terdapat nilai-nilai yang terkandung dalam sajiannya, nilai kebersamaan dalam lingkungan bermasyarakat, nilai budaya sebagai identitas dari wilayah tersebut, dan citarasa yang kaya akan rempah-rempah hasil alam.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


