rp30 ribu sehari yang mengantar ke tanah suci - News | Good News From Indonesia 2026

Rp30 Ribu Sehari yang Mengantar ke Tanah Suci

Rp30 Ribu Sehari yang Mengantar ke Tanah Suci
images info

Rp30 Ribu Sehari yang Mengantar ke Tanah Suci | Foto: Pexels


Dari jualan keliling selama puluhan tahun, seorang perempuan Banyuwangi membuktikan bahwa mimpi besar tak selalu dimulai dari penghasilan besar.

Siapa sangka, uang Rp30 ribu yang bagi sebagian orang mungkin habis dalam sekali makan, justru menjadi tiket menuju Tanah Suci bagi seorang perempuan lansia asal Banyuwangi.

Di tengah anggapan bahwa ibadah haji hanya bisa diraih oleh mereka yang memiliki penghasilan besar, kisah Sumayah Saderi dari Kecamatan Songgon, Banyuwangi, menghadirkan pelajaran berharga tentang kesabaran, konsistensi, dan kekuatan sebuah mimpi.

Selama sekitar tiga dekade, ia menyisihkan sebagian hasil jualannya yang tidak seberapa. Sedikit demi sedikit, receh demi receh, hingga akhirnya mampu mewujudkan cita-cita yang telah dipupuk sejak muda: menunaikan ibadah haji.

Kisah ini bukan sekadar tentang perjalanan ke Makkah. Ini adalah cerita tentang bagaimana ketekunan mampu mengalahkan keterbatasan.

Mimpi Besar dari Dusun Kecil

Sumayah Saderi merupakan warga Dusun Sipring, Desa Songgon, Banyuwangi. Di usia 71 tahun, namanya akhirnya masuk dalam daftar calon jemaah haji asal Banyuwangi yang berangkat menuju Tanah Suci. Keberangkatan jemaah haji Banyuwangi sendiri diberangkatkan dalam beberapa kelompok terbang sebagaimana diinformasikan oleh ANTARA News.

Perjalanan menuju titik itu tentu tidak instan. Sehari-hari, Sumayah berjualan keliling dengan berjalan kaki. Barang dagangannya sederhana, mulai dari jajanan, mainan anak-anak, kacang-kacangan, hingga sapu lidi. Aktivitas tersebut sudah ia jalani selama bertahun-tahun demi memenuhi kebutuhan hidup.

Namun di balik kesederhanaannya, tersimpan tekad yang luar biasa. Sejak masih muda, Sumayah memiliki satu impian besar: naik haji menggunakan hasil jerih payahnya sendiri. Karena itu, ia mulai menabung secara disiplin dari sisa penghasilannya. Dalam laporannya, Radar Banyuwangi mencatat pengakuan Sumayah bahwa ia telah menyisihkan uang hasil berdagang selama sekitar 30 tahun sejak layanan perbankan hadir di wilayah Songgon.

"Sudah ada 30 tahun menabung untuk naik haji dari uang sendiri sejak bank BRI ada di Songgon," ujar Sumayah sebagaimana dikutip Radar Banyuwangi

Jumlah yang disisihkan memang tidak besar. Rata-rata hanya sekitar Rp30 ribu setiap kali menyisihkan uang hasil dagangan. Namun ia tidak pernah berhenti melakukannya. Selama puluhan tahun, tabungan itu terus bertambah.

baca juga

Ketika Konsistensi Mengalahkan Keterbatasan

Banyak orang gagal mencapai tujuan bukan karena kurang mampu, melainkan karena tidak mampu bertahan dalam proses yang panjang.

Hal berbeda ditunjukkan Sumayah. Ia memahami bahwa impian besar tidak harus diwujudkan dengan langkah besar. Yang terpenting adalah terus bergerak.

Dalam keterangannya kepada media, Sumayah mengaku telah menabung sejak muda dan konsisten menyisihkan sebagian hasil usahanya untuk biaya haji. Bahkan ketika penghasilannya pas-pasan, ia tetap menjaga komitmen tersebut.

Kebiasaan sederhana itulah yang akhirnya membawanya pada kesempatan menjadi tamu Allah SWT.

Kisah Sumayah mengingatkan bahwa keberhasilan sering kali bukan tentang siapa yang bergerak paling cepat, melainkan siapa yang mampu bertahan paling lama.

Pelajaran Finansial dari Rp30 Ribu per Hari

Jika dihitung sekilas, Rp30 ribu mungkin terlihat kecil. Namun bila dilakukan secara konsisten, nilainya menjadi sangat besar.

Misalnya:

  • Rp30 ribu per hari setara Rp900 ribu per bulan
  • Dalam satu tahun menjadi sekitar Rp10,8 juta
  • Dalam 10 tahun mencapai lebih dari Rp108 juta, belum termasuk potensi pengembangan dana atau kenaikan nilai aset.

Tentu kondisi setiap orang berbeda. Namun prinsip yang ditunjukkan Sumayah tetap relevan bagi siapa saja: membangun kebiasaan menabung lebih penting daripada menunggu penghasilan besar.

Di era digital saat ini, banyak orang tergoda menghabiskan uang untuk kebutuhan konsumtif yang sifatnya sesaat. Kisah Sumayah justru menunjukkan bahwa tujuan jangka panjang membutuhkan kedisiplinan yang konsisten.

Banyuwangi dan Semangat Meraih Mimpi

Banyuwangi selama ini dikenal sebagai daerah dengan kekayaan budaya, alam, dan masyarakat yang memiliki semangat kerja keras tinggi.

Kisah Sumayah menjadi salah satu potret nyata karakter tersebut.

Di tengah berbagai keterbatasan ekonomi, ia tidak menjadikan keadaan sebagai alasan untuk menyerah. Sebaliknya, ia memilih terus bekerja, terus menabung, dan terus menjaga harapan.

Ketika akhirnya mendapat kesempatan berangkat haji, kebahagiaan yang dirasakan bukan hanya miliknya sendiri. Kisahnya turut menginspirasi banyak orang yang mungkin sedang berjuang mewujudkan impian mereka.

Karena pada dasarnya, setiap orang memiliki "Tanah Suci" versinya masing-masing. Ada yang bermimpi kuliah, membangun usaha, membeli rumah, atau memberangkatkan orang tua.

Semua mimpi itu mungkin terasa jauh hari ini. Namun seperti yang ditunjukkan Sumayah, perjalanan panjang selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan berulang-ulang.

Bukan Soal Besarnya Penghasilan, tetapi Besarnya Komitmen

Ada satu pesan kuat yang bisa dipetik dari perjalanan hidup Sumayah.

Impian tidak selalu ditentukan oleh seberapa besar penghasilan seseorang, melainkan oleh seberapa besar komitmennya menjaga tujuan tersebut.

Saat banyak orang menyerah karena merasa penghasilannya belum cukup, Sumayah justru membuktikan bahwa konsistensi mampu menciptakan hasil yang luar biasa.

Tiga puluh tahun mungkin terdengar sangat lama. Namun bagi mereka yang memiliki tujuan jelas, waktu bukanlah penghalang. Ia hanya bagian dari perjalanan.

baca juga

Dari Banyuwangi untuk Indonesia

Kisah Sumayah adalah pengingat bahwa inspirasi tidak selalu lahir dari tokoh terkenal atau orang-orang dengan fasilitas besar.

Kadang, inspirasi datang dari seorang pedagang keliling yang berjalan kaki menyusuri kampung demi kampung.

Dari tangan yang setiap hari bekerja keras mencari nafkah. Dari hati yang selama puluhan tahun menyimpan satu harapan dan tidak pernah berhenti memperjuangkannya dan dari Rp30 ribu yang disisihkan setiap hari.

Saatnya Belajar dari Sumayah

Mungkin hari ini kita belum mampu mewujudkan mimpi besar yang ada di kepala. Namun kisah Sumayah mengajarkan bahwa yang terpenting bukanlah seberapa jauh jarak menuju tujuan, melainkan apakah kita terus melangkah ke arahnya.

Karena mimpi yang dirawat dengan kesabaran, sekecil apa pun langkahnya, suatu hari bisa sampai pada tujuan yang bahkan dulu terasa mustahil.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AM
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.