menjaga gizi dan bumi melalui meja makan - News | Good News From Indonesia 2026

Menjaga Gizi dan Bumi melalui Meja Makan

Menjaga Gizi dan Bumi melalui Meja Makan
images info

Foto oleh Guillaume de Germain di Unsplash


Meja makan yang dulu penuh dengan makanan bergizi saat ini mengalami perubahan. Tradisi makan bersama mulai jarang dilakukan. Meja makan pun terkadang berubah jadi meja serbafungsi, dari tempat cucian baju hingga paket belanja online.

Kosongnya meja makan sedikit demi sedikit mengubah kebiasaan makan Kawan yang tadinya nasi, sayur, lauk, dan buah menjadi nasi dan lauk berupa aneka gorengan.

Mengisi meja makan dengan makanan penuh gizi ternyata menjadi tantangan. Padahal dari meja makan kita bisa sekaligus menjaga bumi selain memenuhi kebutuhan gizi. Oleh sebab itu, mari kembali menjaga gizi dan bumi dimulai dari sudut kecil di tempat tinggal Kawan.

1 Memanfaatkan Keberadaan Pasar

Keberadaan pasar yang menyediakan sumber bahan makanan sangat penting dan berkontribusi dalam mengisi meja makan. Pasar juga menjadi bagian perkembangan peradaban dan perubahan pola makan masyarakat sekitar. Selain itu, pasar merupakan tempat terlengkap untuk mencari rempah-rempah dan bahan makanan.

Namun, Kalau saya perhatikan, ragam serta stok sayur dan ubi-ubian mengalami perubahan. Di satu sisi penyebabnya adalah permintaan pasar terhadap jenis sayur yang ragamnya itu-itu saja.

Di sisi lain, masih terdapat bahan pangan musiman yang masih asing di telinga, misalnya bunga turi, lompong, daun kelor, dan kenikir. Jika menemukan bahan makan yang beragam bisa Kawan manfaatkan supaya jenis sayur tertentu tidak menjadi langka.

baca juga

Peran Tukang Sayur Keliling

Tukang sayur keliling juga merupakan distibutor bahan makanan dari pasar yang memudahkan Kawan dalam mendapatkan sayur dan buah segar. Di zaman yang serba teknologi ini sebenarnya mudah untuk mengisi meja makan yang penuh dengan gizi seimbang.

Saya memahami sebagai orang yang bekerja, waktu memasak adalah kegiatan yang menantang. Lebih baik beli karena praktis. Memang benar, tetapi di balik upaya mengisi meja makan yang penuh gizi, ada kesadaran dengan bahan-bahan yang dipilih. Jika memang tidak sempat berbelanja di pasar, ada tukang sayur keliling boleh dicoba untuk langganan.

baca juga

Selektif Memilih Peralatan Rumah Tangga

Pembatasan penggunaan plastik sekali pakai sebenarnya diberlakukan tahun 2016 oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan kampanye "Less plastic, Be fantastic" ketika menjadi delegasi Indonesia pada sidang United Nations Environment Asembly.

Di Surabaya, ada peraturan melarang penggunaan plastik sekali pakai yang tertuang dalam Peraturan Walikota Nomor 16 Tahun 2022. Namun, hingga saat ini plastik menjadi primadona, misalnya tumpukan thinwall dan sendok plastik dari membeli makan pasti ada di rumah Kawan.

Kawan bisa melakukan seleksi dalam pemakaian, misalnya jika ke pasar, bawa tas belanja sendiri. Kemudian dalam memilih perabotan rumah tangga, bahan plastik sebaiknya Kawan hindari minimal alat makan tidak memakai bahan plastik.

Mengurangi pemakaian dan konsumsi botol plastik itu bisa dilakukan secara perlahan. Sebenarnya, bukan hanya plastik saja, melainkan sampah tisu yang penggunaannya juga berlebihan.

Mengolah Sampah Sisa Makanan

Selain plastik dan tisu, sampah makanan juga menjadi topik pembahasan yang menarik dalam rangka menjaga bumi dari kerusakan. Terlihat sederhana, tetapi perjalanan bahan makanan sampai ke meja makan Kawan sangat panjang.

Jika diperlakukan dengan sia-sia, maka perlahan lingkungan yang mempunyai dampak paling parah. Sebab, perawatan ketersediaan bahan pangan membutuhkan sumber daya energi yang besar, seperti air, listrik, hingga bahan bakar.

Pandemi kemarin tentu Kawan banyak melihat konten bertani dan mengolah limbah makanan dari rumah, itu adalah ide dan langkah yang cerdas jika dilakukan secara bersama-sama.

Motivasinya adalah bertanggung jawab dengan makanan yang ada di sekitar kita dan sisa bahan makanan bisa menjadi pupuk.

Sadar Konsumsi

Pola konsumsi dan gaya hidup yang dipilih sangat memengaruhi apa yang tersaji di meja makan. Mindful eating and lifestyle bisa sekali diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak perlu menunggu kesempatan slow living di desa untuk mendapatkan suasana tenangnya. Ini bisa dimulai ketika membeli makanan, apakah sesuai dengan kebutuhan Kawan atau hanya mengikuti tren.

M. Faizi dalam bukunya yang berjudul Merusak Bumi Dari Meja Makan ini memberikan bahwa dari meja makan semua itu terjadi. Sebab, meja makan bisa menunjukkan ekspektasi Kawan yang besar, menyediakan makanan yang kurang sesuai dengan porsi kebutuhannya.

Meja makan juga bisa memperlihatkan sebuah pembuktian yang menjadikan Kawan seorang people pleasure.

Sudut kecil dalam rumah ternyata bisa membawa pengaruh yang besar. Perubahan iklim yang sangat cepat bisa memengaruhi juga apa yang tersaji di meja makan Kawan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

TF
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.