mengenal kisah mitologi jagat besemah dari sumsel - News | Good News From Indonesia 2026

Mengenal Kisah Mitologi Jagat Besemah dari Sumsel

Mengenal Kisah Mitologi Jagat Besemah dari Sumsel
images info

Collectie Wereldmuseum (v/h Tropenmuseum), part of the National Museum of World Cultures, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons


Tahukah Kawan GNFI bahwa ada seorang antropolog asal Amerika yang tertarik untuk mengangkat konsep dan sejarah Besemah menjadi topik disertasinya? Ia adalah William Augustus Collins, pria berketurunan Yunani.

Pada pertengahan 1970-an, ia memboyong keluarganya untuk bermukim di Sumatra Selatan demi melakukan penelitian lapangan sebagai bagian dari studi doktoralnya di University of California, Berkeley. Disertasi tersebut disahkan pada tahun 1979.

Lantas, mengapa Jagat Besemah ini menarik untuk dieksplorasi? Salah satu jawabannya dapat ditemukan dalam legenda Diwe Tige (Tiga Dewa).

Sebagaimana mitologi di berbagai belahan dunia yang sarat akan dewa-dewa, ketiga dewa tersebut dianggap nenek moyang apikal dari 3 suku atau juru yang membentuk Besemah.

Collins mencatat adanya berbagai versi cerita dari informannya, tetapi ia lebih tertarik pada nilai-nilai yang terkandung di balik kisah tersebut dibanding menyoroti perbedaan setiap versinya.

baca juga

Trial and Error Pembentukan Jagad

Alkisah di alam Aras (semacam surga/kahyangan), 3 dewa bercakap satu sama lain.

"Apa yang akan kita lakukan? Kita ingin membangun sebuah jagat, tetapi dunia ini sudah diciptakan, dan isinya pun sudah lengkap. Kita adalah penghuni kahyangan terakhir yang akan turun ke bumi."

"Hmm.. Baiklah," ucap dewa Semidang, "Aku akan turun duluan, lanjutnya.

Akhirnya Semidang turun sekidang-kidang (tanpa bekal apapun).

Namun, bagaimana Semidang bisa membuat jagat? Bagaimana mungkin Semidang membentuk Sumbai (klan)? Dia tidak punya kerabat, pula turun ke bumi tanpa membawa apapun. Akhirnya karena kebingungan, Semidang kembali lagi ke kahyangan dan mengadu ke Tuhan YME. Akhirnya Tuhan memerintahkan malaikat untuk menyuruh Dewa Gumai turun ke bumi.

Saat perjalanan turun ke bumi, Gumai bertemu burung raksasa yang membuatnya ketakutan sehingga dia bersembunyi di dalam buah kundur. Setelah itu, buah tersebut terjatuh di Bukit Seguntang, Palembang. Namun, buah tersebut tidak pecah atau terkoyak sedikit pun. Karena terjebak di dalam buah kundur, Gumai kesulitan untuk menggunakan kesaktiannya.

Keistimewaan 2 Dewa Sulung: Ilmu

Akhirnya rintihan Gumai terdengar sampai ke Kahyangan. Tuhan YME kemudian menugaskan lagi Semidang untuk menyelamatkan Gumai dan menganugerahkan 2 ucap (mantra), 1 untuk Semidang sendiri, dan 1 untuk diteruskan pada Gumai.

"HoiiKabah.. (panggilan untuk engkau dalam bahasa Besemah), masih terjebak di bukit ini Kau? Sedang apa?" teriak Semidang saat menemukan tanaman kundur.

"Kaukah itu, Kak?" jawab Gumai. "Apa yang harus kulakukan, Aku tak bisa keluar," imbuhnya lagi.

"Ah, aku kira Kau itu sakti!"

"Tolong aku," ratap Gumai.

Walhasil Semidang menginstruksikan Gumai untuk melafalkan mantra dari dalam sambil menorehkan jari jempolnya menusuk kulit buah, sementara Semidang akan mengucapkan mantra lain dari luar seraya menekan jari telunjuknya. Syukurlah buah tersebut berhasil terbelah dua dan mengeluarkan Gumai.

Diyakini hingga kini, para keturunan Semidang memiliki ciri khas ujung jari telunjuk yang miring dan keturunan Gumai memiliki ciri senada, tetapi pada ujung jempolnya.

"Ah, akhirnya kita bertemu kembali, Adik." Akan tetapi, kali ini Gumai membantah "Oh, jangan Kau panggil aku Adik! Akulah yang tiba di bumi ini lebih dulu". Mereka menjadi cekcok berebut siapa yang patut 'dituakan'.

Perselisihan akhirnya terselesaikan secara ambigu, mereka sepakat bahwa Gumai memanglah yang lebih dulu diturunkan. Namun, yang fisiknya hadir duluan secara nyata ialah Semidang.

baca juga

Keistimewaan Si Dewa Bungsu: Calak

Dewa paling bungsu yang dijanjikan untuk turun ialah Dewa Atong Bungsu.

Pada malam bulan purnama, 2 diwe terlihat sudah duduk manis pada 3 kursi yang melingkari sebuah meja di Bukit Seguntang. Akan tetapi, 1 kursi masih saja kosong, sebab Atong Bungsu belum juga tiba. 4 hari pun berlewat setelah malam purnama itu, barulah ia datang.

"Kenapa Kau datang sangat terlambat?" hardik Gumai.

"Oh," balas Atong Bungsu, "Terlalu banyak tempat yang perlu aku singgahi. Tiap berjalan ada saja yang teriak, singgah kudai! (berhenti dan mampirlah)".

Akhirnya 3 Kursi telah terisi jua, tanda ketiga dewa telah lengkap berkumpul.

Gumai kembali memecah sunyi, "Sekarang kita mau bagaimana?"

"Ya, bumi sudah penuh, kita datang terakhir. Di mana kita bisa dapatkan lahan untuk anak cucu kita?" timpal Semidang.

Sebenarnya, tanpa sepengetahuan Semidang dan Gumai, Atong Bungsu telah mendapatkan lahan, tetapi dia tidak menceritakannya.

Sebelum ke Bukit Seguntang, dia sempat menyambangi Tanah Jawa menemui Ratu Majapahit dan diangkat menjadi salah 1 anaknya, yang seluruhnya berjumlah 7 (nantinya menjadi 7 penguasa dan dikenal sebagai Poyang Meraje Tujuh).Atong Bungsu berhasrat ingin menjadi Raja Besemah.

"Entahlah," tutur Atong Bungsu "Sepertinya aku ingin pergi memancing saja."

Sesudahnya ia bergegas ke Sungai Lematang dan mendirikan Jagat Besemah di rimbe dalam (hutan belantara).

Semidang lalu menimpali, "Baik, kalian nanti bisa menjumpai aku di Tampak Panjang (langkah kaki yang jauh)." Berdasarkan ini pula, orang menyebutnya midang-midang(berkelana/bepergian).

Sedangkan Gumai membentuk perkampungan-perkampungan yang masih ditempati para tetua suku Gumai.

Para tetua Gumai (teras) diyakini diwariskan ilmu bintang (ilmu mengenai musim dan perbintangan) dan ilmu cocok tanam. Anak Semidang pun terkenal sakti mandraguna (Sipahit Lidah) dan diklaim oleh beberapa suku daerah di Sumatra bagian selatan sebagai keturunannya.

Jika Semidang dan Gumai memiliki kemampuan spiritual dan kesaktian, maka disebut-sebut kelebihan Atong Bungsu adalah calak (cerdik).

Sebenarnya, Kawan GNFI, masih ada tokoh-tokoh penting lainnya yang berelasi dengan diwe tige, yang tentunya makin memperkaya elemen-elemen Jaget Besemah.

baca juga

Membaca Makna Diwe Tige

Menurut Collins, ada 2 tema terkait dalam kisah diwe tige ini:

Pertama, bahwa diwe sendirian tidak dapat membentuk jagat. Jagat di sini pada dasarnya berarti aliansi, suatu kekerabatan yang bertumbuh melalui hubungan sosial dan perkawinan.

Tema kedua muncul mengenai kontroversi tentang siapa yang lebih tua dan siapa yang lebih mendominasi. Poin ini mencerminkan bagaimana status, senioritas, dan legitimasi cukup signifikan dalam struktur masyarakat.

Namun, di akhir episode, secara tidak terduga Atong Bungsu-lah yang akhirnya mendirikan jagat, tetapi ia melakukannya dengan diam-diam, termasuk fakta bahwa dirinya diadopsi oleh seorang penguasa untuk menjadi Sultan Uluan/Raja di dataran tinggi. Kecerdikan Atong Bungsu ini ditandai oleh aksesnya terhadap konsepsi kerajaan.

Kontroversi tentang siapa yang lebih tua tidak pernah berakhir, tetapi kisah tentang diwe tige menekankan bahwa kepemimpinan sesepuh/leluhur dari suatu jagat pada dasarnya tidak hanya ditetapkan oleh ilmu (kesaktian dan kekuatan magis). Namun, juga oleh calak (kecerdikan dalam membaca situasi dan membangun strategi).

Nah, menurut Kawan GNFI, apakah tema JagetBesemah ini cukup seru apabila suatu hari diangkat ke layar lebar?

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

DS
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.