Arus globalisasi dan digitalisasi telah membawa perubahan besar dalam kehidupan generasi muda Indonesia. Media sosial, platform hiburan, dan perkembangan teknologi informasi membuat budaya asing semakin mudah diakses dan dikonsumsi dalam kehidupan sehari-hari.
Fenomena meningkatnya popularitas K-Pop, film Barat, hingga tren gaya hidup luar negeri menunjukkan bahwa mahasiswa hidup di tengah lingkungan budaya yang semakin terbuka tanpa batas. Kondisi ini sering dipandang sebagai ancaman terhadap identitas nasional karena dikhawatirkan dapat mengurangi rasa cinta terhadap budaya dan nilai-nilai kebangsaan Indonesia.
Namun, di tengah derasnya pengaruh global tersebut, generasi muda justru mulai menunjukkan cara baru dalam memaknai nasionalisme, yaitu dengan tetap terbuka terhadap perkembangan dunia tanpa kehilangan kesadaran akan identitas budaya bangsa sendiri.
Globalisasi telah mendatangkan perubahan mendasar dalam pola konsumsi budaya manusia modern. Arjun Appadurai (1996: 32) memaparkan bahwa dunia kontemporer ditandai oleh mengalirnya elemen-elemen budaya melampaui batas geografis, menciptakan apa yang ia sebut sebagai mediascapes dan ideoscapes yang merambah kehidupan sehari-hari tanpa pemisah yang tegas.
Di Indonesia, fenomena ini terasa nyata, K-Pop merajai daftar putar musik kaum muda, film-film Barat mendominasi layar bioskop, dan tren busana asing berlomba-lomba viral untuk di media sosial. Dalam konteks inilah pertanyaan tentang ketahanan identitas nasional menjadi semakin relevan dan mendesak untuk dijawab. Hasil penelitian terhadap mahasiswa Ilmu Politik Angkatan 2025 Universitas Andalas menunjukkan gambaran yang menarik sekaligus melegakan. Paparan intensif terhadap produk budaya asing ternyata tidak serta-merta meruntuhkan fondasi nasionalisme mereka.
Sebaliknya, para mahasiswa menunjukkan sikap terbuka yang diiringi penalaran kritis, sebuah kombinasi yang membedakan mereka dari konsumen budaya yang pasif. Mereka menikmati K-Pop dan film Barat bukan karena larut dalam kekaguman buta, melainkan karena memandangnya sebagai jendela untuk memahami dinamika global tanpa harus melepaskan identitas lokal.
Temuan ini sejalan dengan gagasan Benedict Anderson (2006: 6) tentang imagined communities, yakni bahwa nasionalisme pada dasarnya adalah konstruksi imajinasi kolektif yang senantiasa diperbarui dari generasi ke generasi.
Mahasiswa masa kini tampaknya tengah merekonstruksi imajinasi kolektif tersebut, bukan dengan menutup diri dari pengaruh luar, melainkan dengan menjadikan perjumpaan lintas budaya sebagai bahan bakar untuk mempertajam kesadaran akan ke-Indonesia-an mereka sendiri. Yang tak kalah mengesankan adalah mekanisme penyaringan budaya yang mereka terapkan secara sadar.
Nilai-nilai keluarga, norma kesopanan lokal, dan adat istiadat dijadikan tolak ukur dalam mengadopsi unsur asing. Mereka secara selektif mengambil etos kerja yang tinggi, kedisiplinan, dan semangat inovasi dari budaya luar, sementara secara tegas menolak pola hidup konsumtif berlebihan dan pergaulan bebas yang bertentangan dengan tatanan sosial Indonesia. Sikap ini mencerminkan apa yang oleh Jan Nederveen Pieterse (2009: 87) disebut sebagai hybridization, yaitu proses kreatif di mana persinggungan budaya tidak menghasilkan penghapusan identitas, melainkan sintesis yang justru memperkayanya.
Lebih dari itu, paparan budaya global rupanya berfungsi sebagai cermin komparatif yang mempertegas kebanggaan terhadap kekayaan lokal. Batik, gamelan, kuliner nusantara, dan produk UMKM tetap menempati posisi terhormat dalam kesadaran para mahasiswa.
Ketika menyaksikan kecanggihan kemasan budaya luar, mereka tidak lantas mundur, mereka justru semakin sadar akan kedalaman dan keunikan warisan budaya bangsa sendiri, sesuatu yang kerap luput dari perhatian ketika tidak ada pembanding. Anthony Giddens (1991: 53) menyebut fenomena ini sebagai reflexive project of the self, di mana individu secara aktif mengonstruksi identitasnya justru di tengah tekanan perubahan sosial yang berlangsung cepat.
Tentu saja, perjalanan ini tidak sepenuhnya mulus. Para mahasiswa mengakui pernah merasakan keraguan psikologis, perasaan kurang "keren" ketika tren asing begitu mendominasi percakapan di lingkungan sebaya. Namun, pengalaman itu tidak membuat mereka tumbang, ia justru menjadi titik balik refleksi yang mendorong pencarian makna lebih dalam tentang apa artinya menjadi orang Indonesia di era modern.
Nasionalisme mereka bukan sekadar warisan yang diterima begitu saja melainkan hasil pergulatan intelektual dan emosional yang otentik. Pada tataran tindakan konkret pun, mahasiswa tidak berdiam diri. Penggunaan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, pembelian produk dalam negeri, pelestarian bahasa daerah, keterlibatan aktif dalam diskusi kebangsaan, hingga penyebaran narasi positif tentang budaya Indonesia di media sosial merupakan wujud nyata dari komitmen tersebut.
Hal-hal kecil yang tampak sederhana itu sejatinya menyimpan makna politis yang dalam. Merujuk pada pemikiran Miriam Budiarjo (2008: 46) tentang partisipasi sebagai pilar utama kehidupan berbangsa, keterlibatan mahasiswa dalam mendiseminasikan nilai-nilai kebangsaan di ruang publik digital dapat dipandang sebagai bentuk partisipasi sipil yang paling relevan dengan zamannya.
Nasionalisme bukan lagi semata-mata soal pengibaran bendera atau hafalan lagu kebangsaan, ia menjelma dalam pilihan konten yang dikonsumsi, narasi yang disebarkan, dan produk yang dibeli setiap hari.
Meski demikian, tantangan yang dihadapi tidaklah ringan. Algoritma media sosial cenderung memprioritaskan konten global, menciptakan ketimpangan eksposur yang nyata bagi konten budaya lokal. H.A.R. Tilaar (2004: 113) mengingatkan bahwa dalam era globalisasi, pelestarian identitas budaya nasional memerlukan strategi aktif dan kesadaran kolektif yang berkelanjutan, bukan sekadar nostalgia pasif terhadap masa lalu. Artinya, gerak individu yang sudah baik ini harus didukung oleh ekosistem digital yang lebih adil dan kebijakan penguatan konten lokal yang sistematis.
Penelitian ini akhirnya membuktikan bahwa generasi mahasiswa Ilmu Politik Angkatan 2025 Universitas Andalas mampu menjadi warga global yang modern tanpa kehilangan akar identitasnya. Mereka adalah potret nasionalisme adaptif, terbuka pada dunia, tetapi berakar kuat pada bumi sendiri. Di tengah derasnya arus globalisasi, mereka tidak hanyut, mereka berenang dengan penuh kesadaran dan pilihan. Hal itu barangkali adalah bentuk nasionalisme paling otentik yang bisa ditawarkan oleh generasi muda hari ini kepada Indonesia.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


