Khawatir terhadap masa depan menjadi salah satu musuh terbesar diri kita. Apalagi, dengan kondisi ekonomi yang makin miris, kita rentan khawatir soal pekerjaan dan finansial. Di kalangan anak muda, mengutip Data Indonesia, survei di tahun 2026 menunjukkan bahwa 38% generasi Z khawatir dengan biaya hidup tinggi. Hal ini memicu kekhawatiran akan kehidupan di masa depan.
Di satu sisi, khawatir terhadap masa depan dapat dijustifikasi. Kita adalah makhluk yang punya obsesi terhadap kendali. Semakin banyak kita mengendalikan, semakin tenang hidup kita.
Namun, di sisi lain, mengkhawatirkan masa depan memiliki banyak kekurangan yang tidak hanya merugikan diri sendiri, namun juga orang-orang di sekeliling kita.
Ketika Khawatir Tidak Berguna
Eckhart Tolle, seorang spiritualis terkenal di Amerika Serikat, pernah berkata, “Worry pretends to be necessary but serves no useful purpose.” Apa yang dikatakan oleh Eckhart dapat kita validasi dengan melihat efek yang ditimbulkan ketika kita terlalu khawatir terhadap masa depan.
Pertama adalah efeknya terhadap tubuh fisik kita. Riset dari Ottaviani et al. (2015) menemukan kalau orang yang khawatir memiliki tekanan darah dan detak jantung yang lebih tinggi. Selain itu, Dickson et al. (2011) menunjukkan, orang yang khawatir setiap hari akan meningkat rasa cemasnya.
Kedua, saat tubuh mulai merasakan efek khawatir berlebihan, kita menjadi kurang produktif. Mengapa? Hal ini karena khawatir terhadap masa depan menguras energi kita karena terlalu memikirkan beragam skenario “seandainya”, yang belum tentu terjadi. Kita menjadi peramal masa depan dadakan yang berupaya mengendalikan hasilnya supaya sesuai dengan keinginan kita.
Ketiga, kita jadi terputus dengan apa yang terjadi hari ini. Misalnya ketika kita sedang bersama teman atau sahabat, kita menikmati kopi yang telah disediakan dan bersenda gurau. Namun, kita justru merusak momen dengan bicara soal “apa yang mungkin terjadi”. Kopi menjadi tidak enak diminum, dan mood-nya kurang nyaman.
Kapan Khawatir Dapat Berguna?
Meski begitu, bukan berarti semua bentuk kekhawatiran harus dimusuhi. Dalam kadar yang pas, kondisi ini justru bisa menjadi tanda bahwa ada sesuatu yang dapat kita tindaklanjuti.
Katakanlah kita cemas akan relevansi di dunia kerja. Boleh jadi, perasaan tersebut memicu kita untuk belajar hal-hal baru agar tetap relevan di pasar kerja.
Kate Sweeny, Profesor Psikologi, mengatakan bahwa khawatir merupakan sinyal. Sinyal tersebut memicu kita agar fokus pada hal yang kita pikirkan. Kecemasan merupakan respon supaya kita mempersiapkan hal-hal yang mungkin terjadi kedepannya.
Sam Goldstein, dalam tulisannya di Psychology Today, mengatakan bahwa khawatir menciptakan kebijaksanaan yang berguna. Dia mencontohkan ketika ilmuwan khawatir terhadap efek perubahan iklim, mereka mengembangkan energi terbarukan sebagai alternatif energi konvensional yang kita gunakan.
Lebih lanjut, menurut Sam Goldstein, kadar yang tepat membuat kita menjadi pribadi yang empati, kreatif, dan penuh persiapan. Di level personal, kita jadi rendah hati. Kenapa? Hal ini karena kita jadi mengetahui batas kendali kita serta tanggung jawab kita.
Kapan Perlu Berhenti Khawatir?
Lalu, apa yang sebaiknya kita lakukan ketika rasa cemas muncul dalam pikiran? Khawatir memang merupakan sinyal yang kita rasakan, tetapi kita perlu membedakan apakah perasaan tersebut berpotensi memicu aksi hari ini atau sekadar beban pikiran saja.
Andrea Wachter, seorang psikoterapis, mengutip Psychology Today, menawarkan beberapa pertanyaan yang dapat menjadi kerangka berpikir:
Apakah kekhawatiran ini benar-benar membantu saya atau orang lain?
Adakah tindakan yang dapat saya ambil untuk mempersiapkan kemungkinan yang mengkhawatirkan ini?
Dapatkah saya menenangkan pikiran saya yang khawatir dan mendorongnya untuk melepaskan cengkeramannya yang bermaksud baik?
Dapatkah saya meyakinkan diri sendiri bahwa apapun tantangan yang dibawa kehidupan, saya akan menghadapinya dengan cara terbaik yang saya bisa pada saat itu?
Kerangka tersebut setidaknya membantu menstruktur pikiran Kawan GNFI apabila muncul rasa ini. Hal yang perlu kita lakukan dengan perasaan khawatir adalah mengendalikannya agar tidak menguras energi kita.
Ketika energi terkuras untuk membayangkan berbagai skenario buruk di masa depan, justru kita tidak akan mampu berkarya untuk diri sendiri maupun orang lain. Kawan GNFI pun tidak dapat menikmati hari ini secara optimal.
Selain itu, dalam kacamata filsafat Stoik, masa depan bukanlah sesuatu yang berada dalam lingkup kendali kita, terlebih soal hasilnya.
Ketika kita berupaya mengendalikan hasilnya, hal itu mungkin akan memunculkan rasa tegang dan cemas terus-menerus. Akhirnya, tubuh kita justru yang terkena imbasnya.
Khawatir akan masa depan dapat menjadi hal baik atau hal buruk tergantung cara kita meresponnya. Apabila responnya berbuah tindakan yang dapat kita lakukan hari ini, itu bagus. Sebaliknya, jika khawatir hanya membuat relasi sosial kita kurang harmonis dan membebani tubuh kita, kita perlu berhenti.
Kita perlu ingat bahwa masa depan adalah misteri. Kita tidak tahu apakah kita besok masih diberi kesempatan untuk bermanfaat atau tidak.
Hal yang perlu kita lakukan adalah memaksimalkan hari ini untuk membangun masa depan kita, mulai dari meningkatkan kemampuan, memperbaiki relasi, dan terus bertumbuh setiap hari.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

