"Uang kiriman orang tua saya saat itu hanya sekitar Rp100 ribu sampai Rp300 ribu per bulan," kata Amirul Ramli. Ia mengenang bagaimana dulu semasa menjalani kuliah sarjana harus berusaha keras mencukupi kebutuhannya.
Pada 25 Mei 2026, akhirnya Amirul menyandang gelar doktor dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Dr. M. Amirul Ramli, S.Pd., M.Pd., namanya. Gelar itu disandang setelah resmi menyelesaikan studi doktoralnya di Program Studi Doktor Psikologi Pendidikan Islam UMY dengan disertasi berjudul Model Pemaknaan Hidup pada Pelaku Self-Harm.
Tentu, gelar ini menjadi sebuah pencapaian akademik yang patut dibanggakan setelah bertahun-tahun hidup dalam keterbatasan.
Perjalanan Amirul meraih gelar hingga doktor jelas tidak mudah. Dulu, waktu sarjana, Amirul bahkan pernah membersihkan masjid, mengurus kebutuhan jamaah, dan menawarkan dagangan dari satu tempat ke tempat lain.
Tinggal di Masjid dan Berjualan demi Bertahan Kuliah
Amirul datang ke Yogyakarta pada 2015 setelah diterima sebagai mahasiswa Pendidikan Agama Islam UMY.
Saat itu, kondisi ekonomi keluarganya jauh dari kata berkecukupan. Uang yang dikirim orang tuanya setiap bulan berkisar antara Rp100 ribu hingga Rp300 ribu. Jumlah itu tentu tidak cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan mahasiswa yang merantau.
Oleh karena itu, Amirul mencari tambahan dengan menjadi marbot di Masjid Khusnul Khotimah, Tamantirto, Kasihan, Bantul. Selain bisa mengabdi, ia juga memiliki tempat untuk tinggal selama menempuh pendidikan. Akan tetapi, nyatanya menjadi marbot saja tidak cukup.
Untuk menambah pemasukan, Amirul berjualan keliling. Ia mendatangi berbagai kegiatan dan keramaian untuk menawarkan dagangannya. Tak jarang ia berjalan kaki dari kawasan kampus menuju Malioboro. Jarak yang ditempuh cukup jauh. Tapi saat itu, memang tidak banyak pilihan yang dimiliki.
Bagi Amirul, kuliah bukan sekadar mengejar gelar. Kuliah adalah kesempatan untuk mengubah keadaan. Meski hidup serba pas-pasan, ia tidak pernah menganggap masa-masa sulit itu sebagai alasan untuk berhenti belajar. Sebaliknya, pengalaman tersebut justru membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan.
"Semua proses itu justru membuat saya menjadi lebih kuat dan sabar. Dari sana saya menemukan makna yang mendalam bahwa ilmu pengetahuan benar-benar dapat mengangkat derajat kehidupan seseorang," ujar Amirul dikutip dari laman resmi UMY, 29 Mei 2026.
Dari Satu Beasiswa ke Beasiswa Berikutnya
Untuk bisa meraih gelar doktor, Amirul rajin mencari beasiswa. Sejak masih kuliah sarjana, ia aktif mencari berbagai peluang bantuan pendidikan. Sebagai kader Muhammadiyah, ia mengikuti seleksi Beasiswa Kader Muhammadiyah yang prosesnya cukup panjang.
Untuk mendapatkan beasiswa tersebut, pelamar harus memperoleh rekomendasi dari berbagai tingkatan organisasi Muhammadiyah hingga tingkat pusat. Surat rekomendasi yang digunakan Amirul bahkan ditandatangani langsung oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir.
Kesempatan itu dimanfaatkannya dengan baik. Ia berhasil menyelesaikan studi sarjana hanya dalam waktu 3,5 tahun. Setelah lulus, perjuangannya berlanjut. Ia kembali lolos Beasiswa Unggulan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk menempuh studi magister di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Ketika melanjutkan pendidikan doktoral di UMY pada 2023, ia kembali memperoleh Beasiswa Unggulan. Bagi Amirul, beasiswa menjadi jembatan yang membawanya melangkah dari jenjang sarjana, magister, hingga doktor.
"Percayalah, apa yang sedang kamu usahakan akan membuahkan hasil. Mungkin Allah sedang membentukmu menjadi pribadi yang lebih kuat dan lebih bermanfaat bagi orang lain. Jangan hanya berpikir untuk menjadi hebat bagi diri sendiri, tetapi jadilah pribadi yang mampu memberikan dampak luas bagi banyak orang," katanya.
Meneliti Luka yang Tak Tampak
Amirul memilih isu kesehatan mental sebagai fokus disertasinya. Ia meneliti tentang self-harm, yaitu perilaku menyakiti diri sendiri secara sengaja yang biasanya dilakukan sebagai pelampiasan tekanan emosional atau masalah psikologis.
Alih-alih hanya membahas penyebab seseorang melakukan self-harm, Amirul mencoba membedah dari sisi lain yang jarang dibicarakan.
Dalam disertasinya, Amirul Ramli meneliti bagaimana remaja yang pernah melakukan self-harm atau melukai diri sendiri dapat menemukan kembali makna hidup dan pulih dari tekanan psikologis yang mereka alami. Penelitian ini menemukan bahwa perilaku self-harm tidak muncul karena satu faktor saja, melainkan dipengaruhi oleh kombinasi trauma masa kecil, masalah keluarga, tekanan sosial, hingga kondisi psikologis tertentu.
Salah satu temuan pentingnya adalah adanya kelompok high-functioning sufferer, yaitu individu yang tampak baik-baik saja dan tetap produktif di luar, tetapi sebenarnya menyimpan luka batin yang mendalam.
Amirul juga menemukan bahwa proses pemulihan dari self-harm tidak berlangsung secara lurus. Seseorang bisa mengalami kemajuan, kemudian kembali terpuruk, sebelum akhirnya bangkit lagi. Karena itu, relaps atau kambuh tidak selalu berarti kegagalan. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa kehadiran safe figure atau sosok yang mampu mendengarkan tanpa menghakimi menjadi salah satu faktor penting dalam proses pemulihan.
Sebagai hasil akhir penelitiannya, Amirul merumuskan model pemulihan bernama Islamic Meaning-Based Recovery (IMBR). Model ini menggabungkan pendekatan psikologi modern, logoterapi Viktor Frankl, dan nilai-nilai Islam seperti tauhid, tawakal, syukur, sabar, serta ukhuwah. Melalui model tersebut, ia menawarkan pendekatan kesehatan mental yang tidak hanya berfokus pada penyembuhan gejala, tetapi juga membantu penyintas menemukan kembali tujuan dan makna hidupnya.
Amirul memahami bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ia juga tahu bagaimana rasanya menghadapi keterbatasan. Karena itulah, ia tertarik meneliti bagaimana manusia bisa menemukan alasan untuk terus melangkah setelah berada di titik terendah.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


