benteng rotterdam jejak kerajaan gowa dan saksi bisu lima abad sejarah makassar - News | Good News From Indonesia 2026

Benteng Rotterdam, Jejak Kerajaan Gowa dan Saksi Bisu Lima Abad Sejarah Makassar

Benteng Rotterdam, Jejak Kerajaan Gowa dan Saksi Bisu Lima Abad Sejarah Makassar
images info

Dok. Sanko (Wikimedia)


Di tepi barat Kota Makassar, berdiri sebuah benteng yang sudah melewati lima abad pergantian kekuasaan.

Benteng Rotterdam, atau yang dalam bahasa setempat dikenal sebagai Benteng Panyua, pertama kali dibangun pada 1545 oleh Raja Gowa ke-9 sebagai bagian dari sistem pertahanan Kesultanan Gowa-Tallo.

Dilihat dari ketinggian, bentuknya menyerupai penyu yang merayap menuju laut, sebuah simbol filosofi masyarakat Makassar yang menggantungkan hidupnya pada dua dunia, yaitu daratan dan lautan.

Kini Benteng Rotterdam diakui sebagai salah satu benteng kuno paling terawat di Asia. Di dalam kompleks seluas sekitar 3 hektar ini terdapat 11 bangunan asli dari abad ke-17, dua bangunan peninggalan Jepang, Museum La Galigo dengan hampir 5.000 koleksi artefak, serta ruangan sempit tempat Pangeran Diponegoro menjalani masa pengasingan hingga akhir hayatnya.

Lokasinya di Jalan Ujung Pandang, tepat di depan pelabuhan laut Makassar dan berjarak hanya 2 kilometer dari Pantai Losari, sehingga membuatnya mudah diakses dari berbagai penjuru kota.

 

Sekilas Mengenai Benteng Rotterdam

Sejarah benteng ini berlapis-lapis dan tidak sesederhana narasi benteng kolonial Belanda yang sering disematkan padanya. Benteng ini sejatinya adalah karya asli Kerajaan Gowa, dibangun jauh sebelum Belanda menginjakkan kaki di Sulawesi. Nama aslinya Benteng Ujung Pandang, dan nama ini pula yang menjadi asal muasal nama lain Kota Makassar hingga hari ini.

Pada 1667, setelah Kesultanan Gowa kalah dalam Perang Makassar dan dipaksa menandatangani Perjanjian Bongaya, semua benteng Gowa dihancurkan kecuali Benteng Ujung Pandang. Laksamana Belanda Cornelis Janszoon Speelman kemudian membangun ulang benteng ini dengan gaya arsitektur Belanda dan memberinya nama Fort Rotterdam, diambil dari kota kelahirannya di Belanda.

Selanjutnya benteng ini difungsikan sebagai markas komando pertahanan, kantor perdagangan rempah-rempah, kediaman pejabat tinggi, dan pusat pemerintahan kolonial di kawasan timur Nusantara.

Salah satu episode penting dalam sejarah benteng ini terjadi pada 1833, ketika Pangeran Diponegoro dibawa ke sini setelah diasingkan ke Makassar. Pemimpin Perang Jawa itu menghabiskan sisa hidupnya di dalam sebuah ruangan sempit di Bastion Bacan hingga wafat pada 1855.

Selama masa pendudukan Jepang, benteng ini beralih fungsi sebagai kamp tawanan perang dan pusat penelitian bahasa serta pertanian. Setelah kemerdekaan, kompleks benteng diserahkan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada 1970 dan dipugar secara besar-besaran, sebelum akhirnya ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional pada 2010.

 

Daya Tarik Utama Benteng Rotterdam

Memasuki kawasan benteng melalui gerbang utama berlapis kayu dan pintu ganda berbahan besi, pengunjung langsung disambut oleh deretan bangunan bergaya Eropa yang masih berdiri kokoh, dikelilingi taman hijau yang tertata rapi di bagian tengah kompleks. Suasananya tenang dan jauh dari kebisingan kota meskipun benteng ini berada tepat di jantung Makassar.

Museum La Galigo adalah salah satu alasan utama untuk datang. Museum yang menempati Gedung D, bekas kediaman Speelman, dan Gedung M ini menyimpan hampir 5.000 koleksi yang mencakup artefak prasejarah, koleksi numismatik, keramik asing, naskah lontar, serta miniatur kapal pinisi yang menjadi kebanggaan suku Bugis-Makassar.

Koleksinya memberi gambaran lengkap tentang perjalanan peradaban Sulawesi Selatan dari masa prasejarah hingga era modern. Buku Belanda kuno dan manuskrip lontar berusia ratusan tahun juga tersimpan di perpustakaan kecil di dalam kompleks ini.

Bastion Bacan di sudut barat daya menyimpan sel pengasingan Pangeran Diponegoro, ruangan sempit beratap lengkung dengan pintu rendah yang mengharuskan siapa pun menunduk untuk masuk. Mengunjunginya memberikan momen reflektif yang sulit didapat dari teks sejarah mana pun.

Di akhir pekan, kawasan benteng sering diramaikan oleh komunitas bahasa Inggris yang membuka kelas gratis untuk umum, serta berbagai festival seperti festival kain tradisional, pameran sketsa dari Dewan Kesenian Makassar, pertunjukan teater, dan pertemuan saudagar daerah. Tersedia juga penyewaan kostum ala Belanda bagi yang ingin melengkapi sesi foto di dalam kompleks.

 

Akses Menuju Benteng Rotterdam

Benteng Rotterdam beralamat di Jalan Ujung Pandang No. 1, Kelurahan Bulo Gading, Kecamatan Ujung Pandang, Kota Makassar. Lokasinya sangat mudah ditemukan karena berada tepat di tepi pantai barat kota, di depan pelabuhan laut Makassar.

Dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, perjalanan membutuhkan waktu sekitar 30 menit menggunakan kendaraan pribadi. Dari Pelabuhan Soekarno-Hatta Makassar hanya sekitar 15 menit. Dari Pantai Losari yang merupakan ikon kota, jaraknya hanya 2 kilometer. Angkutan kota dan ojek daring beroperasi di kawasan ini, sehingga menjadikan benteng mudah diakses tanpa kendaraan pribadi sekalipun.

Jam Operasional dan Harga Tiket

Benteng Rotterdam buka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 18.00 WITA. Pada akhir pekan, kawasan ini kadang dibuka lebih lama saat ada acara atau festival khusus.

Masuk ke area benteng tidak dikenakan biaya. Untuk mengunjungi Museum La Galigo, tiket masuk dikenakan Rp5.000 per orang dewasa, Rp3.000 untuk anak-anak, dan Rp10.000 untuk wisatawan mancanegara. Tiket ini berlaku untuk dua gedung museum sekaligus.

Jasa pemandu wisata tersedia bagi yang ingin penjelasan lebih mendalam tentang sejarah kompleks. Perlu diperhatikan bahwa tidak ada penjual makanan di dalam area benteng, sehingga sebaiknya Kawan makan terlebih dahulu atau membawa bekal sebelum masuk.

 

Ayo Berkunjung ke Benteng Rotterdam!

Benteng Rotterdam adalah destinasi yang tidak perlu alasan untuk dikunjungi. Cukup datang dengan persiapan yang baik, sisihkan dua hingga tiga jam, dan biarkan tembok tua berusia lima abad itu bercerita sendiri kepada Kawan.

Datanglah sore hari untuk menghindari panas terik Makassar, nikmati pemandangan langit senja dari atas dinding benteng, dan jangan lupa cicipi es pisang ijo yang banyak dijajakan di sekitar kawasan gerbang.

Kawan GNFI yang belum pernah ke sini, wajib masukkan objek ini ke rencana perjalanan Makassar berikutnya!

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.