pulau manado tua menikmati panorama pesisir teluk manado dan satwa endemiknya - News | Good News From Indonesia 2026

Pulau Manado Tua, Menikmati Panorama Pesisir Teluk Manado dan Satwa Endemiknya

Pulau Manado Tua, Menikmati Panorama Pesisir Teluk Manado dan Satwa Endemiknya
images info

Dok. tn-bunaken.org


Di kawasan Taman Nasional Bunaken, ada satu pulau yang bentuknya langsung bisa dibedakan dari kejauhan. Pulau Manado Tua berdiri seperti kerucut hijau raksasa di tengah Teluk Manado, menjulang setinggi 655 meter dari permukaan laut.

Ini bukan bukit biasa, melainkan gunung berapi yang masih aktif di bawah permukaannya, dengan tanda-tanda aktivitas vulkanik yang terdeteksi di kedalaman sekitar 150 meter di bawah laut.

Pulau ini secara administratif masuk wilayah Kecamatan Bunaken, Kota Manado, dan menjadi bagian dari ekosistem Taman Nasional Bunaken yang diakui sebagai kawasan bahari dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia.

Yang membuat Pulau Manado Tua berbeda dari pulau-pulau lain di kawasan Bunaken adalah kombinasi pengalaman yang ditawarkannya.

Di sini, Kawan GNFI bisa menyelam di dinding karang yang menurut penyelam dunia termasuk yang terbaik di Asia Tenggara, mendaki melalui hutan hujan tropis menuju titik pandang di ketinggian sekitar 420 meter, menyaksikan satwa endemik Sulawesi seperti Yaki dan tarsius di habitatnya, sekaligus mengenal jejak kerajaan kuno yang sudah ada sejak abad ke-17.

Dari Manado, pulau ini sudah terlihat jelas dari bibir pantai kota, tapi sensasi tiba di sana tetap punya daya tarik tersendiri, terutama bagi yang datang pertama kali.

 

Sekilas Mengenai Pulau Manado Tua

Sejarah Pulau Manado Tua sudah tercatat sejak 1514, menjadikannya salah satu titik peradaban tertua di kawasan Sulawesi Utara. Penduduk awalnya berasal dari Filipina dan Suku Minahasa yang kemudian berpindah ke daratan Wenang atau Manado pada 1523. Nama "Manado Tua" baru resmi digunakan setelah 1682, ketika daratan di depan pulau ini diberi nama Manado.

Di pulau ini terdapat jejak Kerajaan Bowontehu yang berdiri sekitar tahun 1.623 Masehi, menjadikannya salah satu kerajaan tertua di Sulawesi Utara. Kawasan pemakaman raja-raja Mokodokek, Mokodompis, dan Wulangkalangi masih bisa dikunjungi hingga hari ini, bersama dengan bekas istana raja Manakalangi yang dikenal sebagai Pantai Raja atau Apeng Datu.

Masyarakat Pulau Manado Tua hidup dari perpaduan nelayan dan pertanian. Di daratan pulau tumbuh subur pohon durian, jati, matoa, pisang, ubi, dan kelapa, sehingga sebagian dijadikan komoditas perkebunan warga. Menu kuliner khas yang sering disuguhkan kepada tamu adalah ikan goropa woku blanga yang dipadukan dengan sayur daun ubi dan bunga pepaya.

 

Daya Tarik Utama Pulau Manado Tua

Pulau Manado Tua menawarkan tiga lapisan pengalaman yang bisa dinikmati dalam satu kunjungan panjang atau dengan menginap.

Di bawah laut, terdapat lima titik selam utama, yaitu Muka Gereja (Bualo), Negeri, Tanjung Kopi, Pangalingan, dan Benny's Point. Terumbu karang di perairan pulau ini membentang dari kedalaman dangkal hingga lebih dari 50 meter di sepanjang lereng yang landai, dengan bunga karang besar yang menjadi habitat ikan tropis, anemon, bintang laut, dan udang.

Biota laut yang bisa dijumpai sangat beragam, mulai dari ikan kupu-kupu, ikan badut, napoleonfish, barracuda sirip hitam, hingga hiu ekor putih dan hiu abu-abu. Satu catatan penting, arus perairan di beberapa titik cukup kuat, sehingga aktivitas menyelam di kawasan ini diperuntukkan bagi penyelam berlisensi.

Di daratan, jalur trekking menuju Signase di ketinggian sekitar 420 meter menawarkan pengalaman melewati hutan hujan tropis khas kepulauan sepanjang sekitar 1.500 meter. Di titik ini, panorama Teluk Manado beserta Pulau Bunaken dan sebagian daratan Manado terlihat dengan sangat jelas.

Bagi yang ingin meneruskan hingga puncak, ketinggian 655 meter bisa dicapai dengan kondisi fisik yang memadai dan persiapan yang baik.

Di sepanjang jalur trekking dan kawasan hutan, satwa endemik Sulawesi bisa ditemui, seperti Yaki atau Macaca nigra (kera hitam sulawesi), kuskus, tarsius, rusa, dan burung camar. Kawasan mangrove di area Pangalingan juga menawarkan pengalaman ekosistem pesisir yang berbeda dari aktivitas bahari lainnya.

Bersepeda mengelilingi pulau menyusuri jalan lingkar sepanjang 12 kilometer juga menjadi pilihan

yang cukup populer, melewati kampung kecil dengan bangunan beton cor selebar dua meter.

Akses Menuju Pulau Manado Tua

Ada dua rute utama untuk mencapai Pulau Manado Tua. Rute pertama dari Pasar Bersehati Manado menggunakan kapal motor dengan tarif sekitar Rp20.000 per orang, meski perlu menunggu kapal terisi cukup penumpang. Waktu tempuh sekitar 45 menit hingga satu jam tergantung kondisi arus.

Rute kedua yang lebih disarankan adalah melalui Kampung Bahowo di ujung utara Manado. Dari sini tersedia kapal berkapasitas sekitar 30 orang yang menyusuri sisi utara Pulau Bunaken menuju Pulau Manado Tua. Kapal dari Kampung Bahowo biasanya tersedia di pagi hari dan kembali menjelang sore.

 

Jam Operasional dan Harga Tiket

Kawasan Taman Nasional Bunaken termasuk Pulau Manado Tua terbuka setiap hari selama 24 jam. Waktu terbaik berkunjung adalah antara Mei hingga Oktober saat cuaca cerah dan ombak lebih tenang untuk perjalanan laut. Untuk aktivitas trekking, pagi hari antara pukul 07.00 hingga 09.00 adalah waktu terbaik sebelum panas terik dan kabut siang muncul.

Tiket masuk Taman Nasional Bunaken Rp5.000 per orang untuk WNI dan Rp150.000 untuk WNA, bisa dibeli di loket Taman Nasional, dermaga keberangkatan, atau langsung di pulau. Biaya kapal dari Pasar Bersehati sekitar Rp20.000 per orang dengan kapal reguler, atau lebih tinggi untuk charter kapal privat.

 

Ayo Berkunjung ke Pulau Manado Tua!

Pulau Manado Tua adalah pilihan yang tepat untuk Kawan GNFI yang ingin lebih dari sekadar snorkeling di Bunaken. Rencanakan minimal dua hari satu malam agar bisa menikmati trekking, aktivitas bawah laut, dan suasana malam di pulau yang tenang ini.

Pastikan kondisi fisik prima untuk jalur trekking, dan koordinasikan dengan operator kapal dari jauh hari terutama di musim ramai. Selamat menjelajah!

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.