Kabar dijualnya rumah peninggalan Prof. Dr. M. Sardjito di Yogyakarta oleh pihak keluarga belakangan menjadi perhatian publik. Rumah yang berlokasi di kawasan Kotabaru, Yogyakarta, itu tak hanya bernilai historis sebagai tempat tinggal tokoh besar pendiri UGM, ia juga menyimpan kekayaan arsitektur yang kini semakin langka: gaya jengki.
Apa Itu Arsitektur Rumah Gaya Jengki?

rumah gaya jengki | wikimedia commons
Bagi generasi yang tumbuh di kota-kota besar Indonesia pada era 1960-an hingga 1970-an, rumah bergaya jengki adalah pemandangan yang sangat familiar. Namun bagi generasi kini, istilah ini kerap terasa asing.
Jengki, atau gaya Yankee, adalah sebuah gaya arsitektur modern pasca perang yang berkembang di Indonesia setelah kemerdekaan. Gaya ini terbilang populer antara akhir tahun 1950-an hingga awal 1960-an.
Nama "jengki" sendiri merupakan adaptasi lidah Indonesia dari kata Yankee, merujuk pada pengaruh Amerika yang kuat dalam gaya ini. Gaya jengki menggambarkan pengaruh baru Amerika Serikat pada arsitektur Indonesia setelah ratusan tahun kepemimpinan kolonial Belanda, dan dapat dianggap sebagai interpretasi tropis dari gaya rumah-rumah suburbia modernis Amerika pasca perang.
Menariknya, munculnya gaya ini tidak semata soal estetika. Arsitek Indonesia Johan Silas berspekulasi bahwa gaya ini adalah ekspresi semangat kebebasan orang Indonesia, yang muncul pada arsitektur berbeda dari apa yang disukai orang Belanda. Dengan kata lain, rumah jengki adalah pernyataan sikap: Indonesia merdeka, dan arsitekturnya pun ikut merdeka.
Ciri dan Karakteristik yang Khas dari Rumah Bergaya Jengki
Begitu melihatnya, rumah bergaya jengki langsung mudah dikenali. Yang paling mencolok adalah atapnya yang tidak simetris, miring ke satu sisi dengan sudut yang tidak lazim. Pada dasarnya, gaya jengki menolak bentuk-bentuk geometris kubik yang digunakan orang Belanda sebelum Perang Dunia II. Terdapat semangat keberanian dan kebebasan dalam atap-atap dan fasad asimetris, pintu-pintu dan jendela yang unik, serta atap dan talang air yang bersudut tajam.
Langgam jengki ini terilhami dari posisi koboi dalam film-film Amerika saat menarik pistol dengan gaya khas kaki miring, itulah yang menjadi ilham munculnya gaya arsitektur ini.
Secara lebih detail, ciri arsitektur jengki mencakup: dinding bersegi lima yang dalam interpretasi kebudayaan melambangkan lima sila Pancasila, tidak adanya ornamen berlebihan sebagai ekspresi kesederhanaan, unsur streamlining atau pelancipan pada sudut-sudut bangunan, serta komposisi bidang yang tidak simetris. Tidak adanya pagar juga menjadi ciri khas, yang bermakna tidak adanya sekat antar tetangga dan menimbulkan sifat keharmonisan.
Gaya ini juga semakin dipengaruhi oleh gaya mid-century modern yang populer di Amerika, dan banyak dibangun oleh perusahaan konstruksi maupun mahasiswa arsitektur Institut Teknologi Bandung setelah departemen arsitektur ITB dibuka pada 1951.
Siapa Prof. Dr. M. Sardjito?

foto dan patung prof sardjito | sumber: wikimedia commons
Rumah yang kini diperbincangkan itu bukan sembarang hunian. Ia adalah tempat tinggal salah satu tokoh intelektual paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia modern.
Dr. M. Sardjito lahir pada 13 Agustus 1889 dan meninggal pada 5 Mei 1970. Ia adalah dokter yang menjadi Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, sekaligus menjadi Rektor pertama UGM dari awal berdirinya universitas tersebut pada 1949 hingga 1961.
Kontribusinya melampaui dunia akademik. Pada masa perang kemerdekaan, Sardjito ikut serta dalam proses pemindahan Institute Pasteur dari Bandung ke Klaten, sebuah langkah strategis demi menjaga keberlangsungan pelayanan kesehatan di tengah kecamuk perang. Ia juga aktif di Palang Merah Indonesia dan Boedi Oetomo.
Pada 8 November 2019, Sardjito dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Joko Widodo. Namanya kini diabadikan pada salah satu rumah sakit rujukan provinsi terbesar di Yogyakarta: RSUP Dr. Sardjito.
Kini rumah yang pernah menjadi saksi bisu perjalanan seorang Pahlawan Nasional itu terancam berganti tangan. Di balik kabar itu, ada warisan arsitektur jengki yang mengingatkan kita bahwa sebuah bangunan bisa menjadi cermin zaman, tentang semangat kemerdekaan, keberanian, dan identitas bangsa yang dituangkan bukan dalam pidato, melainkan dalam bentuk atap yang miring dan dinding yang asimetris.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


