Kita hidup di era di mana hampir semua pengalaman bisa diubah jadi konten seperti foto perjalanan, video keseharian hingga caption yang terasa dalam. Semua itu sudah jadi bagian dari cara kita mendokumentasikan hidup.
Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan itu. Berbagi pengalaman adalah cara manusia terhubung satu sama lain sejak dulu, jauh sebelum ada media sosial atau smartphone.
Namun, yang menarik adalah—tanpa kita sadari—kebiasaan itu perlahan membentuk sebuah pola baru dalam cara kita menjalani pengalaman itu sendiri, bukan hanya cara kita membagikannya.
Tanpa disadari, pola itu mulai terbentuk secara perlahan. Kamu pergi ke suatu tempat, menghadiri sebuah acara, atau mencoba sesuatu yang baru.
Dan di tengah-tengah momen itu, ada bagian kecil dari pikiranmu yang sudah mulai bekerja secara otomatis, memikirkan angle foto yang bagus, caption yang pas, atau story yang layak di-repost.
Kamu masih ada di sana secara fisik. Namun, sebagian perhatianmu sudah bergeser ke luar. Ke bagaimana momen ini akan terlihat dari perspektif orang lain, bukan bagaimana rasanya dari dalam.
Lama-lama, ada jarak tipis. Namun, cukup nyata yang terbentuk antara hidup yang benar-benar kamu jalani dan hidup yang kamu tampilkan di layar. Bukan, karena kamu tidak menikmatinya, tetapi karena kamu tidak sepenuhnya hadir untuk menikmatinya.
Masalahnya bukan soal apakah kamu posting atau tidak, itu pilihan personal yang tidak perlu dijustifikasi ke siapapun.
Masalahnya adalah ketika pertimbangan soal konten mulai memengaruhi mengapa kamu memilih sebuah pengalaman sejak awal. Karena dari situ, segalanya berubah.
Coba ingat kembali momen-momen yang paling membekas dalam hidupmu, yang benar-benar mengubah cara kamu berpikir, atau membentuk siapa kamu sekarang.
Hampir pasti bukan momen yang paling banyak muncul di feed kamu. Momen paling berharga biasanya adalah yang kamu terlalu sibuk untuk benar-benar ada di sana sampai lupa mau diabadikan.
Ketika kamu harus problem solved di situasi yang kacau dan tidak ada yang bisa diandalkan selain dirimu sendiri.
Ketika kamu pelan-pelan membangun kepercayaan dengan seseorang yang latar belakang dan cara pandangnya sangat berbeda darimu.
Ketika kamu melihat dengan mata kepala sendiri bahwa kerja yang kamu lakukan bersama tim benar-benar memberi dampak nyata buat orang lain, bukan dampak yang abstrak di atas kertas, tetapi yang bisa kamu rasakan langsung di depanmu.
Momen-momen seperti itu tidak sempat kamu dokumentasikan bukan karena kamu lupa, tetapi karena kamu terlalu sibuk benar-benar mengalaminya.
Itulah yang pada akhirnya tinggal lama dalam ingatan, bukan karena kamu mendokumentasikannya dengan baik. Namun, karena kamu terlalu hadir untuk sempat memikirkan soal konten.
Pengalaman yang masuk sampai ke dalam bukan karena kamu merekamnya. Ini karena kamu tidak punya jarak dengan momen itu, kamu sepenuhnya ada di sana dengan segala ketidaknyamanan, kejutan, dan keajaibannya.
Ini bukan ajakan untuk tiba-tiba anti-media sosial atau merasa bersalah karena suka berbagi. Kamu boleh tetap posting, tetap aktif di platform apapun yang disukai. Sembari tetap mendokumentasikan perjalananmu dengan cara yang terasa paling autentik bagimu.
Namun, ada satu pertanyaan kecil yang layak untuk ditanyakan ke diri sendiri sebelum memilih sebuah pengalaman, "aku mau melakukan ini karena aku benar-benar ingin menjalaninya, atau karena terlihat bagus dari luar?"
Pertanyaan itu kelihatannya sederhana, tetapi jawabannya akan menentukan segalanya. Ketika Kawan GNF memilih sebuah pengalaman dengan motivasi yang tepat, sesuatu yang berbeda terjadi dalam caramu menjalaninya.
Sebab, Kawan GNFI masuk lebih dalam dan terlihat lebih serius. Kamu tidak lagi setengah hadir karena tidak ada yang perlu dipresentasikan, melainkan hanya perlu ada dan merasakannya.
Hasilnya, kamu pulang dengan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan hanya lewat foto atau caption manapun. Pengalaman itu jadi milikmu sepenuhnya, bukan versi yang sudah diedit untuk konsumsi orang lain.
Ironisnya, justru pengalaman yang Kawan GNFI jalani dengan alasan yang tepat itulah yang biasanya menghasilkan cerita paling kaya untuk dibagikan. Bukan karena kamu memaksanya menjadi konten, tetapi karena memang ada sesuatu yang nyata dan layak untuk diceritakan.
AIESEC Global Volunteer adalah program yang dirancang untuk pengalaman seperti itu, yang nyata, yang menuntut keterlibatan penuh, dan yang tidak bisa kamu palsukan hanya dengan hadir secara fisik.
Selama 6–8 minggu, Kawan GNFI akan terlibat langsung dalam proyek sosial berbasis SDGs di berbagai negara di Asia, Eropa, dan Afrika bersama volunteers dari berbagai penjuru dunia. Tentunya dengan pilihan proyek mulai dari pendidikan, lingkungan, hingga kelautan yang bisa kamu sesuaikan dengan isu yang paling kamu pedulikan.
Program ini terbuka untuk siapa saja dan kamu juga dapat menyesuaikannya dengan negara tujuan pilihanmu.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


