Aku tumbuh di tanah yang subur, dengan wilayah seluas 2.194,98 km2 dan jumlah penduduk 374.734. Sebanyak 252.892 jiwa atau sekitar 67,49 persen penduduk kabupaten Tapanuli Tengah pada tahun 2022 berada pada usia produktif.
Angka tersebut menggambarkan bahwa sebagian besar penduduk berada pada usia potensial untuk melanjutkan pendidikan.
Namun pada kenyataannya, hanya sekitar 28,93 persen yang mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi.
Angka tersebut mungkin hanya sekedar statistik biasa, tetapi pada kenyataannya ada mimpi para kartini modern yang tertunda bahkan terhenti. Aku menjadi salah satu dari 28,93 persen itu, dengan kesadaran penuh dan keinginan bahwa menjadi seorang yang berilmu adalah keharusan untuk tetap bijaksana dalam memilih sesuatu.
Lebih dari itu bahwa tempat aku dibesarkan memberikan banyak makna khusus pada pilihanku. Ketika menyadari betapa minimnya pemahaman mereka tentang pendidikan, justru saat itulah muncul keinginan yang lebih besar bahwa aku harus memberanikan diri untuk bisa mencapai titik itu.
Aku ingin membawa ilmu ini ke lingkungan tepat aku dibesarkan walau hanya sebatas tumpukan buku yang aku berikan kepada mereka. Dan aku ingin menjadi bagian dari manusia yang bisa memilih, mengejar dan merangkai mimpi itu. Akan tetapi, ada banyak hal yang harus aku jelaskan disurat sederhana ini.
Kartini, kini mimpi tentang pendidikan yang engkau perjuangkan dahulu telah tumbuh, mekar tetapi tidak semua akar dapat menjangkau tanah yang sama. Sebagian dari kami masih berjuang di ruang yang sempit, dibatasi oleh keadaan dan pandangan yang belum berubah. Di tanah yang subur ini, hanya ada sedikit manusia yang paham akan pentingnya pendidikan. Kekerasan struktural itu yang mengatur hidup bangsanya menjadi sengsara.
Kartini, terang yang dahulu engkau perjuangkan ternyata masih menyisakan bayang-bayang. Di balik cahaya kemajuan, perempuan masih berjalan berdampingan dengan rasa takut yang tak selalu terlihat.
Bahkan, di ruang yang seharusnya kami terlindungi bayangan kejahatan itu muncul seolah ingin menunjukkan bahwa kami tidak berhak untuk hidup yang bernilai .
Kami memang tumbuh di masa ketika pendidikan tidak lagi menjadi yang mustahil bagi perempuan. Namun, di balik itu, masih ada yang harus berhenti di tengah jalan, bukan karena keinginan, tetapi karena keadaan yang memaksa.
Kami belajar membaca dunia, tetapi seringkali dunia masih membaca kami dengan cara yang berbeda dengan batasan, dengan keraguan, bahkan dengan tuntutan yang tidak seimbang.
Kartini, kami bisa bermimpi lebih tinggi, tetapi tidak semua mimpi diberi ruang untuk tumbuh. Sebagian dari kami masih harus mengecilkan harapan agar sesuai dengan apa yang dianggap pantas.
Di ruang-ruang pendidikan, kami hadir sebagai pelajar, sebagai mahasiswa, sebagai perempuan yang ingin berkembang. Namun, tidak jarang kami juga hadir sebagai pihak yang harus membuktikan bahwa kami layak berada di sana.
“Kami berjalan membawa ilmu, tetapi juga membawa beban, beban ekspektasi, beban stigma, dan beban untuk selalu terlihat ‘cukup’ di mata lingkungan. Kartini, perjuanganmu telah mengajarkan kami untuk bersuara.
Namun di zaman ini, bersuara tidak selalu berarti didengar, dan keberanian sering kali dibalas dengan penilaian. Kami hidup di era yang serba terbuka, tetapi masih ada pintu-pintu yang hanya terbuka setengah. Seolah memberi kesempatan, tetapi tidak sepenuhnya memberi keadilan.
Sebagian dari kami harus memilih antara melanjutkan pendidikan atau memenuhi tuntutan sosial yang datang lebih cepat dari kesiapan kami. Ada yang harus menunda mimpi karena ekonomi, ada yang harus mengalah karena keluarga, dan ada pula yang bahkan tidak pernah diberi kesempatan untuk memilih.
Kartini, jika dahulu engkau berjuang agar perempuan bisa belajar, hari ini kami berjuang agar perempuan bisa bertahan dalam proses belajar itu sendiri.
Kami tidak lagi hanya memperjuangkan akses, tetapi juga keadilan agar setiap perempuan memiliki kesempatan yang sama, tanpa harus dibatasi oleh latar belakang, budaya, atau keadaan.
Perjuangan ini tidak selalu terlihat, Kartini. Ia hadir dalam diam, dalam keputusan-keputusan kecil, dan dalam keberanian yang sering kali tidak disadari.
Namun, satu hal yang pasti, api yang engkau nyalakan tidak pernah padam. Ia hidup dalam langkah-langkah kecil kami, dalam keinginan untuk terus belajar, dan dalam harapan untuk masa depan yang lebih setara.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


